Tujuh Versi Ibu

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #10

Ibu Dokter

Pukul dua dini hari, ketika seisi rumah telah tenggelam dalam lelap, Alya masih terjaga. Rasa haus yang menggelitik tenggorokan memaksanya keluar dari kamar. Langkah kakinya sengaja dibuat sepelan mungkin agar tidak menimbulkan derit di atas lantai koridor yang dingin.

Akan tetapi, ruang tengah tidak sepenuhnya gelap. Pendar putih pucat dari layar laptop memotong kegelapan, menerangi sudut meja makan.

Di sana, Ibu Dokter duduk dengan punggung tegak. Jas putihnya sudah digantung di sandaran kursi, menyisakan kemeja biru muda yang dikancing rapi sampai atas. Kacamata bacanya bertengger di ujung hidung, sementara jemarinya bergerak lincah di atas papan tik, sesekali membuka laman jurnal internasional. Di sampingnya, secangkir kopi hitam yang sudah dingin dibiarkan begitu saja.

Alya mematung di dekat pembatas ruang. Menatap sosok itu dari kejauhan membangkitkan sebuah memori yang terasa asing, tetapi terasa nyata di dalam kepalanya. Seolah-olah, di suatu linimasa yang berbeda, ia pernah tumbuh besar dengan versi Ibu yang seperti ini. Seorang wanita yang tidak menghabiskan paginya dengan daster batik dan uap minyak goreng, melainkan wanita yang wangi antiseptik dan selalu terburu-buru mengenakan sepatunya karena ada panggilan darurat dari ruang operasi.

"Alya? Belum tidur? Tidak baik untuk kesehatanmu kalau sering begadang di usiamu sekarang." Suara Ibu Dokter memecah keheningan tanpa menoleh. Pendengarannya sangat tajam, khas seorang praktisi yang terbiasa terjaga di malam-malam kritis rumah sakit.

Alya berjalan mendekat, mengambil gelas air di dispenser sebelum akhirnya duduk di kursi seberang meja, menatap tumpukan berkas di depan Ibu Dokter. "Ibu ... maksudku, Anda sedang apa?" Alya mengoreksi panggilannya, mengingat aturan ketat yang ditetapkan Ayah.

Lihat selengkapnya