Tujuh Versi Ibu

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #11

Ibu Penulis

Matahari pagi belum sepenuhnya menyingkirkan kabut tipis di luar, tetapi aroma kopi hitam pekat dan kertas tua sudah menguar dari sudut teras belakang.

Alya melangkah mendekat, menemukan Ibu Penulis sedang duduk dengan kaki bersilang di atas kursi rotan. Blus linen terakotanya tampak sedikit kusut, pertanda bahwa ia mungkin tidak tidur semalaman. Di pangkuannya, sebuah buku catatan bersampul kulit cokelat terbuka lebar, dipenuhi oleh coretan pena tinta hitam yang rapat dan berantakan. Khas seseorang yang tangannya berkejaran dengan letupan ide di kepalanya.

"Sebuah pagi yang lahir dari sisa air mata kemarin," gumam Ibu Penulis tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas. Ia menyesap kopinya, membiarkan uap pahit itu menerpa wajahnya yang kuyu. "Kemari, Alya. Duduklah."

Alya menarik kursi kayu kecil, duduk di dekatnya. Dibandingkan dengan Ibu Dokter yang kaku dan penuh logika, berada di dekat versi ini terasa seperti berjalan di dalam sebuah ruangan yang penuh dengan barang-barang antik yang rapuh. Ada kehangatan yang melankolis dari tatapannya.

"Anda ... tidak lelah menulis terus?" tanya Alya pelan, menatap tumpukan kertas di meja kecil di samping kursi rotan.

Ibu Penulis menoleh, menurunkan kacamata bulatnya sedikit hingga bertengger di cuping hidung. Ia menatap Alya dengan binar mata yang begitu dalam. Sebuah tatapan yang seolah mampu membaca setiap lapisan emosi yang sedang disembunyikan Alya di balik wajah tenangnya.

"Menulis adalah satu-satunya cara agar aku tidak gila di duniaku, Al," jawabnya lembut, suaranya mengalun seperti melodi lambat. "Aku sudah menghabiskan seluruh hidupku di balik meja kerja. Menenun kata, menuangkan luka, merajut cinta. Orang-orang mengenalku lewat buku-buku ciptaanku yang terpampang di rak best-seller."

Lihat selengkapnya