Pukul sepuluh pagi, ruang tengah mendadak memiliki atmosfer yang menyerupai ruang sidang kabinet.
Ibu Politikus duduk di kursi kayu utama dekat jendela, tempat di mana matahari pagi menyinari setelan blazer tenun biru gelapnya yang kaku tanpa cela. Tidak ada lagi daster batik, tidak ada lagi aroma bawang goreng. Wanita itu memancarkan wangi parfum kayu cendana yang mahal dan berkelas. Rambutnya yang disanggul rapi membingkai wajahnya yang tegas, dengan tatapan mata yang begitu tajam hingga mampu mengintimidasi siapa saja yang menatapnya terlalu lama.
Di atas meja, ia telah menyusun tiga buah map jepret berwarna merah yang entah dari mana ia dapatkan. Sebuah pulpen bermerek mewah terletak rapi di sisi kanan.
"Raka, berdiri yang tegak. Jangan membungkuk seperti itu saat menghadap orang tua." Suara Ibu Politikus berwibawa dan sarat akan intonasi perintah.
Raka yang baru saja lewat hendak ke dapur langsung tersentak, membetulkan posisi berdirinya dengan kikuk. "I-iya, Bu."
Alya yang sedang menyapu lantai ruang tamu memperhatikan interaksi itu dengan dada yang bergemuruh. Berada di dekat versi ini membuat Alya merasa kecil, seolah-olah ia sedang berhadapan dengan sebuah institusi, bukan seorang ibu. Meskipun demikian, garis wajah itu tetaplah wajah Ibu. Mata bulat itu—meski dingin dan penuh disiplin—adalah sepasang mata yang sama yang selalu mengawasinya sejak kecil.
"Alya, letakkan sapumu sejenak. Kemari," panggil Ibu Politikus tanpa menoleh, jarinya lincah membuka lembaran map merah di depannya.
Alya menyandarkan sapunya pada dinding, lalu melangkah mendekat. Ia menarik kursi di seberang Ibu Politikus, mencoba memberanikan diri menatap langsung sepasang mata ibunya yang terasa asing.
"Anda sedang membuat apa?" tanya Alya, memberanikan diri untuk membuka percakapan, meski ia harus menahan debaran jantungnya.