Tujuh Versi Ibu

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #13

Ibu Petualang

Suasana tegang yang ditinggalkan oleh Ibu Politikus di dalam rumah mendadak pecah ketika suara tawa renyah terdengar dari arah halaman samping.

Alya dan Raka bergegas menuju ke sana, menemukan Ibu Petualang sedang duduk bersila di atas rumput teki yang masih agak basah. Ia mengenakan celana kargo banyak saku yang penuh noda tanah kering, kaus oblong hitam yang sedikit pudar, dan sepasang gelang tali rajut di pergelangan tangan kirinya. Rambut hitamnya dikuncir kuda asal-asalan, menampilkan wajah yang tampak lebih gelap karena sengatan matahari. Meskipun demikian, matanya berbinar dengan energi yang meluap-luap.

Di depannya, Nisa—yang baru saja dijemput oleh Ayah dari rumah sakit satu jam lalu—duduk dengan mata bulat yang berbinar tak berkedip. Nisa tampak melupakan betapa ketakutannya dia beberapa menit yang lalu saat melihat tujuh orang wanita dengan wajah Ibu yang kesemuanya menyambutnya dengan penuh cinta. Dia menolak mendekat, sebelum Ibu Petualang mengulurkan tangannya dan berhasil mengambil hati bocah itu. Sekarang, di tangan kecil bocah sepuluh tahun itu, ada sebuah kompas kuningan tua dan sebuah batu kristal kecil berwarna ungu yang berkilauan diterpa cahaya matahari.

"Lalu, Ibu mendaki sampai ke puncaknya saat badai salju?" tanya Nisa dengan suara cemprengnya yang khas, badannya condong ke depan karena penasaran.

"Bukan cuma badai salju, Nisa!" Ibu Petualang berseru heboh, tangannya bergerak lincah memperagakan gerakan memanjat tebing di udara. "Anginnya bertiup sekencang ini—wuss!—sampai tenda Ibu hampir terbang. Tapi Ibu tidak menyerah. Ibu tancapkan pasak lebih dalam, lalu Ibu buat cokelat panas di dalam nesting sambil memandangi bintang-bintang yang rasanya dekat sekali, tinggal dipetik!"

Nisa tertawa kegirangan, bertepuk tangan kecil. "Wah! Keren banget! Aku mau ikut Ibu mendaki gunung!"

"Tentu saja boleh! Nanti kalau dahimu sudah sembuh, Ibu ajari cara membuat simpul tali pramuka yang paling kuat untuk bertahan hidup di hutan," ucap Ibu Petualang sambil mengacak rambut Nisa gemas, lalu mencium pipi anak bungsunya itu tanpa ragu.

Alya bersandar di tiang selasar, menatap interaksi itu dengan perasaan yang aneh. Di dunianya, Ibu adalah orang yang paling protektif. Ibu adalah wanita yang akan panik setengah mati jika Nisa terlambat pulang sekolah sepuluh menit saja karena angkot yang mogok. Ibu yang selalu melarang Raka main sepeda terlalu jauh dari gerbang kompleks.

Lihat selengkapnya