Aroma sup sayur yang gurih bercampur uap nasi hangat perlahan-lahan merayap keluar dari celah pintu dapur, mengusir sisa-sisa aroma kayu cendana mahal milik Ibu Politikus.
Alya melangkah masuk ke area dapur yang remang. Di sana, di depan kompor gas tua yang pemantiknya sudah rusak dan harus dinyalakan menggunakan korek api kayu, Ibu Miskin sedang berdiri. Ia mengenakan daster batik lusuh yang warnanya sudah pudar memutih di bagian pundak, dengan beberapa jahitan tangan yang kasar untuk menambal kain yang robek. Rambutnya diikat asal dengan karet gelang, dan keringat tipis tampak membasahi pelipisnya yang dihiasi guratan keriput lebih dalam dibanding versi lainnya.
Meskipun demikian, di wajah yang tampak paling lelah itu, ada sebuah ketenangan yang magis. Tangannya yang kasar dan pecah-pecah di bagian jemari karena detergen murah, bergerak dengan ritme yang teramat lembut saat mengaduk kuah sup di dalam panci aluminium yang sudah penyok.
"Alya." Suara Ibu Miskin mengalun lirih, sangat halus. Ia menoleh, menatap Alya dengan sepasang mata bulat yang sayu tetapi memancarkan binar kasih sayang yang begitu melimpah. Sebuah tatapan yang membuat dada Alya mendadak berdenyut nyeri oleh rasa rindu yang tertahan. "Sini, Nak. Supnya sudah matang. Ibu buatkan khusus untukmu, karena Ibu tahu kemarin kamu tidak sempat menghabiskan sarapanmu."
Alya berjalan mendekat, seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata dari ketulusan wanita itu. Ia duduk di atas kursi plastik dekat meja dapur. "Ib … eh, Anda tidak lelah? Dari tadi siang Anda terus berada di dapur."
Ibu Miskin terkekeh kecil, sebuah suara tawa yang renyah dan jujur. Ia mematikan kompor, lalu menuangkan sup sayur dengan potongan bakso kecil itu ke dalam mangkuk ayam jago yang sudah retak rambut. "Lelah? Tidak, Sayang. Bisa memasak untuk anak-anak Ibu adalah berkah terbesar yang bisa Ibu minta kepada Tuhan."
Ibu Miskin meletakkan mangkuk itu di depan Alya, lalu ikut duduk di sebuah kursi kayu kecil di dekatnya. Ia melipat kedua tangannya di atas pangkuan, menatap Alya makan dengan pandangan penuh kepuasan. Tipikal pandangan seorang ibu yang merasa tugas dunianya selesai saat melihat anaknya kenyang.