Tujuh Versi Ibu

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #15

Ibu Penjahat

Malam kembali merayap, membawa hawa dingin yang jauh lebih pekat daripada malam-malam sebelumnya. Aturan baru yang dibuat Ayah seolah tidak lagi mampu menahan ketegangan yang kian mengental di rumah itu. Kehadiran enam versi Ibu sebelumnya telah menciptakan suasana yang cukup ramai. Namun, semua kebisingan itu mendadak sirna ketika malam mencapai puncaknya.

Ibu Penjahat adalah versi yang paling jarang bersuara. Berbeda dengan Ibu Politikus yang gemar mengatur, atau Ibu Petualang yang gemar bercerita, wanita yang satu ini lebih banyak menghabiskan waktunya dalam keheningan. Ia tidak memilih kamar. Tempat favoritnya adalah sudut tergelap di sofa ruang tamu, atau berdiri diam di dekat jendela, menatap kosong ke arah halaman depan yang pekat.

Ia mengenakan gaun satin hitam panjang yang jatuh dengan anggun di tubuhnya. Rambutnya hitam legam, dibiarkan terurai membingkai wajahnya yang pucat. Tidak ada kehangatan yang memancar dari matanya. Yang ada hanyalah sepasang manik mata yang dingin, tajam, dan seolah mampu menguliti rahasia terdalam dari siapa pun yang berani menatapnya.

Malam itu, Raka yang hendak ke toilet mendadak menghentikan langkahnya di koridor. Tubuh remaja lima belas tahun itu bergetar hebat. Di ujung lorong yang temaram, Ibu Penjahat sedang berdiri mematung menatap pintu kamar Ayah dengan sorot mata yang seolah sarat dengan kebencian hingga membuat bulu kuduk Raka berdiri tegak.

Tanpa suara, Raka mundur perlahan, lalu berlari masuk ke kamar Alya, menutup pintunya dengan rapat seolah sedang dikejar oleh monster.

"Mbak! Mbak Alya," bisik Raka dengan suara tercekat, membangunkan Alya yang baru saja memejamkan mata. "Ibu yang pakai baju hitam itu, dia serem banget, Mbak. Aku takut."

Alya menghela napas panjang, mencoba menenangkan adiknya meskipun dadanya sendiri berdegup kencang. Rasa takut yang dirasakan Raka bukanlah hal yang berlebihan. Seluruh penghuni rumah—bahkan versi Ibu yang lain—diam-diam menyimpan ketakutan yang besar pada versi berbaju hitam ini.

Pernah suatu sore, Ibu Sejati mencoba menegurnya karena menolak ikut membantu di dapur. Namun, Ibu Penjahat hanya menoleh perlahan, menatap Ibu Sejati dengan pandangan yang begitu dingin dan menusuk, hingga Ibu Sejati mendadak kehilangan kata-katanya, melangkah mundur, dan memilih kembali ke dapur dengan tangan gemetar. Ibu Penjahat juga pernah melemparkan semangkuk sup sayur yang ditawarkan oleh Ibu Miskin kepadanya, membuat seisi rumah terkejut dengan sikapnya yang kasar. Bahkan Ibu Politikus yang berwibawa pun cenderung menghindari kontak mata langsung dengannya.

Lihat selengkapnya