Ketika fajar menyingsing membelah kabut, area dapur telah lebih dulu dikuasai oleh aroma yang sangat akrab. Tumisan bawang merah, gurihnya minyak kelapa, dan uap nasi yang baru matang.
Ibu Sejati berdiri di depan wastafel, mencuci sisa wadah bumbu dengan gerakan yang cekatan tetapi cukup berisik. Ia mengenakan daster batik motif tumpal berwarna cokelat tanah yang sudah agak pudar di bagian pinggang. Sebuah pakaian yang tidak sekaku blazer Ibu Politikus, tidak seharum kemeja Ibu Dokter, dan tidak semenakutkan gaun satin Ibu Penjahat. Ia adalah definisi dari kesederhanaan domestik yang mutlak.
Ia tidak memiliki pencapaian luar biasa. Ia bukan kepala rumah sakit yang menyelamatkan ribuan nyawa, bukan pemimpin yang dielu-elukan rakyat, dan bukan pula penjelajah yang menaklukkan puncak-puncak dunia. Hidupnya bergulir di dalam batas-batas yang sangat biasa. Mengurus rumah, menanti anak-anak pulang sekolah, dan memastikan token listrik tidak berbunyi di tengah malam.
Alya berdiri di ambang pintu dapur, mengucek matanya yang masih sembap akibat intimidasi Ibu Penjahat semalam. Menatap punggung Ibu Sejati yang bergerak lincah memindahkan nasi goreng ke atas piring porselen membuat dadanya mendadak terasa hangat sekaligus sesak.
Sosok ini ... hidupnya sangat mirip dengan Ibu asli yang dikenal Alya sebelum kecelakaan itu merenggut segalanya.
"Eh, Al, sudah bangun? Sini, Nak, sarapan dulu. Mumpung nasi gorengnya masih hangat." Ibu Sejati menoleh, melemparkan senyum lebar yang tulus tanpa beban. Guratan di sudut matanya bergerak alami, memancarkan kehangatan seorang ibu yang dunianya hanya berputar di sekitar meja makan ini. "Panggil Raka sama Nisa sekalian, ya. Ibu sudah buatkan telur dadar kesukaan mereka."
Alya melangkah mendekat, lalu duduk di kursi meja makan yang biasanya. Ia menatap piring nasi goreng dengan taburan kerupuk putih di atasnya. Semuanya tampak persis seperti hari-hari biasa sebelum badai aneh ini menghantam keluarga mereka.
"Ibu … " Alya menjeda kalimatnya, mengingat titah ketat Ayah yang melarang penggunaan panggilan itu. Namun, entah mengapa, rasanya sulit sekali menahan diri untuk tidak memanggil ‘Ibu’ pada sosok satu ini.