Pagi itu, Alya berdiri di ambang pintu dapur, menyandarkan bahunya pada kusen kayu yang catnya sudah sedikit mengelupas. Matanya memperhatikan pergerakan di dalam ruang yang biasanya menjadi jantung rumah mereka. Di sana, tiga sosok wanita dengan wajah yang sama persis sedang berbagi area yang menyempit.
Ibu Sejati berdiri di depan kompor, membalik tempe goreng dengan tenang. Gerakannya persis seperti yang diingat Alya sepanjang hidupnya. Namun, beberapa langkah di sampingnya, Ibu Dokter sedang mengelap meja makan dengan cairan disinfektan yang dibawanya sendiri dari kamar. Jemarinya yang dibalut sarung tangan tipis bergerak cepat, seolah setiap sudut kayu tua itu dipenuhi kuman yang mengancam keselamatan penghuni rumah. Sementara itu, di dekat jendela yang menghadap ke halaman samping, Ibu Penjahat berdiri bersedekap, menatap lurus ke arah luar dengan raut wajah keras dan bibir yang terkatup rapat.
"Alya, kamu lihat kacamata Ayah?"
Suara Ayah memecah keheningan yang kaku. Pria setengah baya itu masuk ke dapur dengan kemeja kerja yang baru separuh dikancingkan. Rambutnya masih agak basah dan raut wajahnya menampilkan ketidaknyamanan yang akhir-akhir ini menyeruak semenjak ada 7 perwujudan istrinya. Selama ini, Ayah lebih banyak berusaha menghindari ketujuh Ratri, berharap Ratri yang asli muncul di depan pintu atau membangunkannya dari mimpi buruk ini.
“Alya tidak …”
"Di atas rak buku sebelah kiri, persis di samping tumpukan koran minggu lalu," potong Ibu Dokter tanpa menghentikan usahanya mengelap meja. Suaranya datar dan sama sekali tidak memiliki kehangatan nada seorang istri yang menyapa suaminya di pagi hari. "Kamu selalu menaruhnya di sana setelah membaca berita. Biasakan meletakkannya di kotak wadah agar tidak mencemari permukaan lain dengan debu jalanan."
Ayah menoleh, sedikit mengernyitkan dahi. Ada sedikit rasa heran yang tertahan. Selama bertahun-tahun pernikahan mereka, Ratri memang terkadang cerewet soal kerapian, tapi kepatuhan pada detail dan nada bicara sedingin ini terasa agak asing baginya.
"Ah, iya. Terima kasih," ucap Ayah santai sambil berjalan menuju rak buku. Ia meraih kacamatanya, mengelap lensanya dengan ujung kemeja, lalu menoleh lagi ke arah meja dapur. "Oh ya, ehm, nanti sore saya pulang agak terlambat mau mampir ke rumah Ibu sebentar. Katanya pompa air di sana agak tersendat, jadi saya mau bantu periksa. Tolong titip anak-anak."
Ayah tidak berbicara secara spesifik kepada salah satu versi Ibu, sehingga seolah memang ditujukan ke seisi ruangan. Tidak ada yang menjawab, tapi Alya merasakan para Ibu menunjukkan sedikit perubahan pergerakan saat Ayah memberikan pengumuman itu.
Gerakan tangan Ibu Dokter yang sedang mengelap meja terhenti seketika. Sarung tangan karetnya menegang di atas permukaan kayu. Di dekat jendela, bahu Ibu Penjahat naik satu sentimeter, jemarinya meremas lengannya sendiri begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Bahkan Ibu Sejati, yang sedang memegang sodet kayu di depan kompor, terdiam selama dua detik sebelum kembali membalik tempe dengan gerakan yang sedikit lebih kaku dari sebelumnya.