Tujuh Versi Ibu

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #18

Rasa yang Tersisa

Matahari sore baru saja meluncur turun di balik jajaran pohon mangga di pekarangan ketika deru mesin sepeda motor Ayah terdengar berhenti di depan pagar. Alya yang sedang duduk di teras sambil memegang buku catatannya memperhatikan Ayah yang turun dari motor dengan napas sedikit terengah. Di stang motornya, menggantung dua kantong plastik bening berisi rantang kaleng bergaris hijau-putih.

Ayah berjalan melintasi halaman dengan senyum lebar, tampak puas karena telah menyelesaikan tugasnya seharian ini.

"Pagi sampai sore di rumah Nenek, capek juga," ucap Ayah sambil melepas helmnya dan meletakkannya di atas meja teras. Ia menepuk bahu Alya pelan. "Tapi untunglah, pompa airnya cuma tersumbat lumut sedikit. Sudah lancar lagi sekarang. Oh ya, Nenek bikin sup iga dan rendang. Masih hangat. Ayah minta dibawakan banyak supaya kita semua bisa makan malam bareng."

Alya menatap dua kantong plastik itu. Di balik plastik bening, uap tipis masih membentang di permukaan rantang. Aromanya yang gurih merembet keluar. Aroma rempah pekat yang sejak kecil Alya kenal sebagai masakan khas buatan Nenek. Namun, alih-alih merasa lapar, ada desir aneh yang mendadak mampir di tengkuk Alya.

"Alya bantu bawa ke dapur ya, Yah?" tawar Alya sambil berdiri.

"Iya, tolong ya, Al. Panggilkan semuanya. Kita makan bareng di meja tengah," ucap Ayah riang, melangkah masuk ke dalam rumah sambil meregangkan otot-otot lehernya yang kaku.

Saat Alya melangkah ke dapur sambil menjinjing rantang kaleng tersebut, suasana rumah terasa begitu hening. Di meja makan kayu yang panjang, beberapa versi Ibu sudah berada di sana dengan kesibukan masing-masing. Ibu Miskin sedang menata mangkuk-mangkuk kosong. Ibu Dokter duduk di sudut meja, jemarinya lincah membolak-balik halaman jurnal kesehatan. Sementara itu, Ibu Penulis tampak duduk menyendiri di dekat pintu belakang, memangku buku catatannya dengan pena yang menempel di bibir, dan Ibu Petualang menyandarkan punggungnya di tembok, memperhatikan setiap pergerakan di dapur dengan antusias.

"Ayah sudah pulang," ucap Alya pelan, meletakkan dua rantang kaleng itu di tengah meja makan. "Ayah bawa sup iga sama rendang dari rumah Nenek."

Suara denting halus saat dasar rantang bersentuhan dengan meja kayu bertindak seolah menjadi saksi dari pergeseran udara di ruangan itu.

Seketika, gerakan tangan Ibu Miskin terhenti. Jarinya yang memegang sendok sayur membeku di udara. Di sudut meja, Ibu Penulis refleks menutup buku catatannya dengan bunyi plak yang cukup keras, sementara Ibu Dokter perlahan melepas kacamata bacanya, menatap rantang itu seolah objek di tengah meja adalah benda asing yang tidak memenuhi standar kebersihan.

Aroma sup iga yang kaya akan kapulaga, cengkeh, dan pala perlahan memenuhi ruang makan. Bagi kebanyakan orang, wangi itu menyiratkan kehangatan. Namun, sepertinya hal itu tidak berlaku saat ini.

Ayah muncul di ruang makan setelah membasuh mukanya di kamar mandi. Wajahnya terlihat segar, kemejanya sudah berganti dengan kaos santai. Tanpa menyadari ketegangan yang merayap di sekitarnya, Ayah membuka tutup rantang bagian atas. Uap panas membumbung naik, memperlihatkan kuah sup iga yang cokelat keemasan dengan potongan wortel dan seledri.

"Nah, ini dia," ucap Ayah riang, mengambil mangkuk pertama dan menuangkan kuah sup itu dengan penuh semangat. "Nenek bilang, garamnya pas banget kali ini. Iganya juga diolah lama, jadi empuk. Masih hangat, ayo makan."

Lihat selengkapnya