Malam kian melarut, meninggalkan rumah nomor 14 dalam keheningan yang janggal. Ayah akhirnya menyantap sup iga itu bersama Alya dan Raka, mengabaikan para Ibu yang mendadak enggan makan secara serempak. Nisa juga tidak mau sup iga, masakan itu terlalu berempah untuk seleranya. Ia memilih telur dadar buatan Ibu Miskin.
Alya terbangun sekitar pukul dua pagi karena mendengar rintihan halus dari arah kamar belakang. Dengan langkah pelan, ia menyusuri lorong yang remang menuju kamar adik terkecilnya, Nisa.
Saat pintu kayu didorong pelan, aroma minyak kayu putih langsung menyergap indra penciumannya. Alya mendekati tempat tidur kecil di sudut ruangan dan meletakkan telapak tangannya di dahi Nisa. Napas bocah itu terdengar berat dan terengah-engah. Kulit dahinya terasa sangat panas.
"Panas sekali ..." gumam Alya panik.
Nisa terserang demam tinggi mendadak. Tubuh kecilnya menggigil, bibirnya yang kering bergumam tanpa arah, memanggil kata ‘Ibu’ berulang kali dalam tidurnya yang gelisah.
Alya bergegas menuju dapur untuk mengambil mangkuk berisi air hangat dan kain lap kecil. Namun, saat ia melintasi ruang tengah, ia menyadari beberapa versi Ibu juga belum tidur. Mereka bergerak seperti bayangan di dalam rumah yang gelap.
Ibu Dokter berdiri di dekat rak obat, sibuk memeriksa tanggal kedaluwarsa botol sirup penurun panas dengan bantuan lampu ponselnya. "Suhu tubuh di atas 38,5 derajat Celsius memerlukan kompres air hangat di area aksila dan lipatan paha, bukan air dingin," ucap Ibu Dokter datar saat Alya lewat, memberi instruksi.
“Ibu akan berikan obat ini dulu, lalu kita observasi. Kalau dalam 4 jam kedepan demamnya belum turun, obatnya harus diberikan lagi,” lanjut Ibu Dokter,
Alya kembali ke kamar Nisa. Ia duduk di tepi ranjang, memeras kain lap, dan meletakkannya di dahi adiknya. Nisa masih merintih gelisah. Panas tubuhnya belum juga turun meski Alya sudah mengelap leher dan tangannya berulang kali. Kantuk yang luar biasa dan rasa lelah emosional sepanjang hari akhirnya membuat mata Alya terasa amat berat. Tanpa menyadarinya, Alya tertidur dengan kepala bersandar di tepi kasur Nisa, memegang kain kompres yang perlahan mengering.
Suasana kamar terasa begitu hening ketika sesosok bayangan melangkah masuk tanpa suara sekitar pukul tiga pagi.
Ibu Penjahat berdiri di ambang pintu. Rambutnya yang sedikit bergelombang dibiarkan terurai, dan matanya yang biasa memancarkan amarah serta ketajaman kini terlihat lesu. Ia menatap Alya yang tertidur lelap di lantai, lalu pandangannya beralih pada sosok Nisa yang masih berbaring gelisah di atas ranjang.