Hari ke 23 datang begitu saja, membawa atmosfer yang terasa berbeda. Jika hari-hari sebelumnya diwarnai oleh rasa asing dan ketakutan akan keanehan yang terjadi, perlahan-lahan kebersamaan yang terpaksa itu melahirkan celah-celah kehangatan yang tak terduga. Anak-anak—Alya, Raka, dan Nisa—mulai menemukan ritme di antara ketujuh versi ibunya.
Pagi itu, suara benturan keras dari arah pekarangan depan memecah ketenangan.
Raka terduduk di atas rumput samping pagar, memegangi lututnya yang berdarah. Di sampingnya, rantai sepeda tua milik Raka terlepas dan tersangkut kaku di antara gir. Mukanya merah padam, bukan hanya karena rasa sakit di kulitnya yang terkelupas, tetapi juga karena rasa frustrasi yang menumpuk.
Langkah kaki yang kaku dan teratur mendekat. Ibu Dokter muncul dari balik pintu samping. Ia membawa kotak P3K putih berlogo silang merah di tangannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia berlutut di sebelah Raka.
"Hanya luka lecet, tapi sebaiknya segera dibersihkan agar tidak infeksi," ucap Ibu Dokter. Tangannya yang dibalut sarung tangan tipis dengan cepat membersihkan sisa debu di sekitar luka Raka menggunakan alkohol dan kasa steril.
"Aww! Sakit, Bu!" ringis Raka, mencoba menarik kakinya.
"Tahan," perintah Ibu Dokter dingin, tetapi jemarinya yang memegang pergelangan kaki Raka sama sekali tidak kasar. Saat ia mengoleskan cairan antiseptik yang membuat kulit Raka perih membakar, Ibu Dokter melihat bahu anak laki-lakinya yang gemetar.
Ibu Dokter menghentikan gerakannya sejenak. Ia tidak memeluk Raka, tetapi ia meletakkan telapak tangannya yang hangat tepat di atas dada Raka.
"Tarik napas lewat hidung dalam empat hitungan, tahan dua hitungan, hembuskan lewat mulut," bisik Ibu Dokter, nadanya tetap datar sekaligus menenangkan. "Lakukan. Otakmu sedang mengirim sinyal sinapsis rasa sakit secara berlebihan. Kamu bisa mengendalikan respons tubuhmu sendiri, Raka."
Raka menatap mata Ibunya yang jernih di balik kacamata. Ia mengikuti instruksi itu. Satu, dua, tiga, empat ... hembuskan. Rasa perih itu masih ada, tetapi rasa paniknya mendadak surut.
"Rasa sakit itu reaksi biologis yang valid," tambah Ibu Dokter sambil menempelkan plester steril dengan sangat rapi di lutut Raka. "Tapi kamu punya kendali atas bagaimana tubuhmu meresponsnya. Jangan biarkan rasa sakit membuatmu berhenti bergerak."
Raka menunduk menatap plester di lututnya, lalu menatap ibunya. Untuk pertama kalinya, Raka tidak merasa dipaksa untuk menjadi ‘anak laki-laki yang tahan banting’. Ia merasa diajari cara untuk bertahan.
"Terima kasih, Bu," gumam Raka pelan. Ibu Dokter hanya mengangguk tipis, berdiri, dan kembali melangkah masuk dengan kaku, meninggalkan Raka yang perlahan tersenyum kecil.
Siang harinya, suasana pekarangan berubah total saat Ayah sedang pergi bekerja. Ibu Petualang berdiri di tangga kayu samping rumah, mengenakan celana kain kargo tua dan kemeja gulung. Di tangannya ada sebuah teropong rakitan dari kertas tebal dan sekeranjang buah jambu air yang baru dipetiknya dari pohon sebelah.
"Kenapa kalian mengurung diri di dalam rumah yang suram ini?" seru Ibu Petualang riang, menatap Alya, Raka, dan Nisa yang sedang duduk melamun di teras. "Dunia di luar sana tidak berhenti berputar hanya karena rumah ini sedang kebingungan. Ayo naik!"
Tanpa menunggu persetujuan, Ibu Petualang memanjat tangga menuju atap dak beton di atas dapur. Area yang biasanya dilarang keras oleh Ayah karena dianggap berbahaya.
Nisa tertawa kegirangan dan melompat berdiri, diikuti oleh Raka. Alya sempat ragu, tetapi dorongan untuk meresapi kebebasan sejenak akhirnya menang. Mereka bertiga memanjat tangga dan menyusul Ibu Petualang di atas atap.