Tujuh Versi Ibu

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #21

Pencarian Alya

Langit malam di hari ke-27 tidak lagi memancarkan warna hitam pekat yang tenang, melainkan pendar kelabu yang seolah meregang pudar. Kalender dinding di ruang tengah menunjukkan angka yang terus bergeser kian mendekati batas akhir tiga puluh hari yang dijanjikan oleh Penjaga Kemungkinan.

Di dalam ruang tengah yang temaram, Alya berdiri terpaku di dekat meja belajar. Matanya menatap tajam ke arah sudut ruangan, tempat Ibu Petualang sedang duduk membaca dongeng bersama Nisa. Namun, ada sesuatu yang mengerikan sedang terjadi di sana.

Cahaya lampu gantung yang menimpa tubuh Ibu Petualang menampilkan siluet yang aneh. Jemari tangan kanannya yang sedang memegang buku cerita Nisa mendadak tampak kusam, seolah samar dan tembus pandang.

Nisa yang tidak menyadari hal itu meraih tangan Ibu Petualang. "Ibu, pegang mobilnya yang ini ..."

Saat jemari kecil Nisa menyentuh tangan itu, Ibu Petualang dengan cepat menarik tangannya. Ia menyembunyikannya di balik lipatan kemeja kargo, lalu tersenyum dengan wajah yang pucat pasi.

"Ibu ... sepertinya sudah capek, Nisa. Kita sambung besok, ya?" ucap Ibu Petualang, suaranya terdengar seperti gema jauh dari dalam sumur tua.

Alya menahan napas, dadanya berdenyut kencang oleh gelombang kepanikan. Apakah proses eliminasi itu sudah dimulai? Gelembung yang melingkupi rumah ini seolah mulai menipis, dan ketujuh versi ibunya mulai ditarik kembali oleh waktu.

Di sudut lain, Ibu Dokter sedang mencatat suhu tubuh Nisa di atas lembaran kertas. Namun, setiap kali ujung pulpennya menyentuh kertas, guratan tintanya tidak tergores utuh seolah lengannya kehilangan kekuatan untuk sekedar memegang pena. Ibu Dokter menatap tangannya sendiri dengan pandangan yang sulit diartikan. Frustrasi, tapi sekaligus pasrah.

Ayah pulang terlambat karena harus lembur di kantornya. Sementara itu, Raka sedang di kamarnya bermain game. Alya mendadak mendapat sebuah dorongan kuat yang tidak pernah berani ia lakukan sebelumnya. Setelah memastikan ketujuh versi Ibu tidak ada yang memperhatikannya, ia berjalan ke arah kamar orang tuanya.

Angin malam yang berembus dari celah ventilasi membuat suhu udara di koridor belakang terasa amat dingin. Alya berdiri di depan pintu kamar orang tuanya—kamar yang sejak kecelakaan itu hanya ditempati oleh Ayah sendirian. Ia menahan napas sejenak sebelum menekan gagang pintu kayu yang berderit pelan.

Lihat selengkapnya