Alya terus membalik halaman demi halaman dengan dada yang makin sesak.
18 Agustus 2008 – Pelita Hidupku
Alya sudah lahir. Aku pikir kehadiran cucu pertama akan melembutkan hati Ibu mertua dan akhirnya memberiku sedikit ruang untuk bernapas. Tapi kini saat Alya berusia 4 bulan, ternyata ada janin lagi di dalam perutku. Ibu Mertua justru mendengus sinis. Beliau bilang aku tidak becus mengurus Alya dan terlalu dekat untuk punya anak lagi. Beliau bilang, aku tega pada Alya. Padahal, ini semua bukan suatu kesengajaan. Dan Mas tetap diam di sudut ruangan, tersenyum canggung sambil memintaku mengalah. Mas, diammu itu membunuhku pelan-pelan. Sumber kekuatan yang masih membuatku bertahan saat ini hanyalah putri kecilku dan janinku, dua pelita hidupku.
10 September 2009 – Lagi-lagi Aku
Kami punya dua bayi. Hal itu tentu membuat pengeluaran rumah membengkak berkali-kali lipat. Bahkan bonus tahunan Mas tidak cukup untuk menutup kebutuhan, sehingga aku berusaha membantunya. Di tengah fisikku yang sangat kelelahan mengasuh dua bayi, aku membuatkan kue untuk dititipkan di kantin kantornya. Setiap aku membuat kue, Mas yang mengajak bermain Alya dan mengasuh Raka. Syukurlah kue buatanku laris. Namun, sepertinya aku tidak boleh merasa bahagia tanpa cela. Suatu hari Ibu mertua datang saat Mas mengasuh anak kami dan aku sedang bersandar di kursi sekedar melepas penat setelah membuat kue. Ibu mertua meneriakiku, katanya aku sudah menginjak-injak harga diri suamiku dengan menjadikannya babu karena mengasuh anak sementara aku tidak berbuat apa-apa. Aku hanya menangis sambil menggendong kedua bayiku, menjauhkan mereka dari kata-kata jahat yang mungkin tidak akan pernah mereka ingat. Sementara itu, Mas juga tidak menjelaskan apa-apa pada Ibu selain ucapan “Sudah, Bu. Jangan teriak-teriak begitu, tidak enak kalau kedengaran tetangga.”. Ya, tidak enak pada tetangga, bukan padaku yang sudah menghabiskan seluruh jiwa ragaku untuk bertahan dalam kemiskinan ini.
2 Februari 2014 – Haruskah Kulakukan?