Tujuh Versi Ibu

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #23

Pengakuan

Lampu gantung di atas meja makan memancarkan pendar kuning yang kusam, melempar bayangan-bayangan panjang ke dinding semen. Malam itu, Alya tidak mengetuk pintu atau berbisik pelan. Ia berjalan mantap menuju tengah ruangan, menghentakkan buku harian bersampul kulit cokelat kusam itu tepat di atas permukaan meja kayu.

Bunyi tebal itu memecah keheningan rumah. Ayah yang sudah pulang dan sedang menikmati makan malamnya di sudut meja tersentak kaget, mendongak menatap Alya dengan kening berkerut. Di sekeliling ruangan, ketujuh versi Ibu menatap benda yang baru saja Alya bawa.

"Alya? Kamu ini kenapa bawa-bawa buku tua malam-malam begini?" tanya Ayah, suaranya mengandung nada kelelahan yang biasa. "Sudah malam, ayo tidur."

"Buku ini milik Ibu, Yah," potong Alya. Suaranya tidak tinggi, tetapi memiliki getaran dingin yang membuat Ayah terdiam. Alya menunjuk buku harian itu dengan jemarinya yang gemetar. "Buku ini adalah tempat Ibu menyimpan semua suara yang tidak pernah Ayah dengar selama 22 tahun. Tempat Ibu menampung luka yang selalu Ayah suruh untuk 'dimaklumi'."

Ayah mengerutkan dahi, raut wajahnya berubah menjadi sedikit tersinggung. "Alya, jangan bicara sembarangan pada Ayah. Maksud kamu apa? Ibu tidak pernah—"

"Ayah."

Suara itu tidak datang dari Alya. Suara itu datang dari Ibu Penulis yang berdiri di dekat rak piring. Wanita itu menatap Ayah bukan dengan derita yang cengeng, melainkan dengan ketegaran yang amat dingin.

"Anakmu tidak sedang berbicara sembarangan," ucap Ibu Penulis, nadanya lurus dan mantap. "Dia sedang bicarakan tentang caramu membungkamku setiap kali hatiku diremukkan oleh keluargamu. Kamu selalu merasa menjadi suami yang paling sabar. Tapi ketenangan yang kamu nikmati di rumah ini dibeli dengan tangisku yang dipaksa untuk ditahan."

Ayah terpaku, matanya berpindah menatap Ibu Penulis. "Apa-apaan ini maksudnya? Kamu menceritakan hal yang tidak-tidak, ya, pada Alya? Sudah kuduga tidak ada satupun dari kalian yang merupakan Ratri yang asli. Istriku yang asli tidak pernah berkata seperti itu padaku—"

“Itu karena Ayah tidak menyadarinya,” sengal Alya di tengah isaknya. “Baca buku ini, Yah! Ini tulisan tangan Ibu! Ayah bahkan tidak menyadari bahwa Ibu punya buku harian!”

Raka dan Nisa yang tadinya sudah tidur, terbangun dengan suara tangisan Alya. Bingung melihat situasi yang mendadak tegang, Nisa mulai menangis. Ibu Sejati segera menggandeng Nisa masuk kembali ke kamarnya, memastikan bocah perempuan itu kembali tidur dengan nyaman.

“Raka, kembali ke kamarmu!” perintah Ayah. Suaranya gemetar oleh kemarahan. Raka yang bingung hanya menatap kakaknya yang berwajah sembap.

“Tidak.” Ibu Politisi melangkah di antara Ayah dan Raka seolah memberikan tameng. “Raka sama dewasanya dengan Alya. Dia berhak mendengarkan.”

“Kalian ini maunya apa?” tanya Ayah frustrasi. “Istriku selalu hidup bahagia denganku selama ini! Jangan membuat seolah aku telah membuat Ratri menderita!”

"Oh, tapi kamu memang sudah membuatku menderita!” sela Ibu Dokter. “Kamu tahu persis perlakuan ibumu padaku, tapi kamu tidak pernah di tengah! Kamu merasa sedang menjaga kedamaian. Padahal, di dalam sains psikologi, memilih untuk diam saat satu pihak ditindas adalah bentuk pemihakan pada penindasnya. Setiap kali ibumu mengatai rahimku kering, mengatai aku tidak becus mengurus anak, kamu hanya mengusap punggungku dan bilang 'Ibu kan memang begitu bicaranya, maklumi saja'. Kamu tidak sedang menjadi penengah. Kamu sedang membiarkan aku dibantai sendirian."

Lihat selengkapnya