Tujuh Versi Ibu

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #24

Jiwa yang Utuh

Keesokan harinya, suasana rumah diselimuti oleh kecanggungan yang luar biasa. Tak ada lagi suara bentakan atau debat sengit dari para versi Ibu. Mereka hadir bagaikan bayangan, bergerak mengitari ruang tengah tanpa sepatah kata pun.

Sementara itu di antara Alya dan Ayah, membentang jurang kekecewaan yang sangat dalam.

Alya tidak tahu bagaimana harus menatap atau mengajak ayahnya berbicara. Setiap kali melihat Ayah duduk diam di sudut meja, bayangan tulisan tangan ibunya di buku harian—tentang impian DKV yang dipadamkan dan penindasan yang dibiarkan—langsung membayang di kelopak mata Alya. Rasa hormat yang selama ini ia miliki untuk sang Ayah goyah, berganti menjadi rasa kekecewaan yang dalam. Ketika Ayah menyodorkan piring saat sarapan, Alya hanya menerimanya tanpa menatap mata Ayah sedikit pun, memisahkan diri dan memilih mengurung diri di kamar bersama Raka. Nisa yang belum memahami situasi lebih memilih menggelayut manja pada Ibu Petualang.

Satu hari penuh pada hari ke-28 berlalu hanya dengan suara denting sendok yang canggung, langkah kaki yang enggan bertatap muka, dan keheningan yang menyiksa.

Hingga akhirnya, malam hari ke-29 tiba.

Malam itu, Ayah duduk sendirian di kepala meja kayu. Pria itu tampak jauh lebih tua dari usianya. Matanya sembap, kemejanya agak kusam, dan pundaknya merosot.

"Alya, Raka..." panggil Ayah. Suaranya tidak nyaring, parau dan bergetar di keheningan malam. "Bisa duduk sebentar di sini? Ada yang mau Ayah bicarakan."

Alya membeku di dekat ambang pintu kamar, bertukar pandang dengan adiknya yang juga hendak memasuki kamar. Alya menatap Ayahnya cukup lama, menimbang rasa kecewa di dadanya, sebelum akhirnya mengangguk pada adiknya dan mereka melangkah perlahan untuk duduk di kursi berseberangan dengan Ayah. Buku harian bersampul kulit kusam itu tergeletak di antara mereka.

Ayah menghela napas panjang, menundukkan kepala menatap tangannya yang gemetar di atas meja.

"Ayah tahu kalian sangat kecewa dengan Ayah," ucap Ayah pelan, tidak berusaha membela diri sedikit pun. "Dan kalian berhak untuk marah. Membaca buku harian itu, melihat bagaimana ibumu terluka sendirian selama bertahun-tahun karena ketakutan dan kebisuan Ayah ... Ayah sadar bahwa Ayah telah gagal menjadi suami dan pelindung untuk kalian."

Alya mengepalkan tangannya di bawah meja, air matanya mulai merebak. "Kenapa, Yah? Kenapa selama ini Ayah cuma diam? Kenapa mimpi Ibu, mimpi Alya ... harus selalu dikorbankan?"

Ayah menengadah, matanya yang kemerahan menatap Alya.

"Karena Ayah penakut, Al," jawab Ayah jujur, sebuah pengakuan yang selama ini enggan terucap. "Ayah terlalu takut dianggap sebagai anak durhaka oleh nenekmu, dan Ayah menggunakan alasan 'kedamaian keluarga' untuk menutup mata dari air mata ibumu. Ayah pikir, dengan menyuruh ibumu mengalah, rumah ini bakal baik-baik saja. Tapi Ayah salah, diamnya Ayah adalah racun yang meremukkan jiwa ibumu."

Lihat selengkapnya