Tujuh Versi Ibu

Miska Tsabitha Fikri
Chapter #25

Kembali Pulang

"Waktunya habis," suara Penjaga Kemungkinan bergema pelan. "Genap tiga puluh hari sudah terlewati, dan aku datang menagih janji yang disepakati oleh rumah ini. Dari ketujuh pecahan jiwa yang telah menemani kalian, kalian berhak menunjuk satu untuk dipertahankan. Satu versi yang akan kubuat permanen untuk tinggal di rumah ini selamanya."

Alya berdiri dari kursinya. Air mata masih membasahi pipinya, tetapi matanya memancarkan kedalaman tekad yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Ia berdiri tepat di depan Penjaga Kemungkinan.

"Kami tidak memilih satu pun," ucap Alya. Suaranya lantang, memecah keheningan ruangan.

Penjaga Kemungkinan memicingkan mata, alisnya terangkat tipis. "Kalian yakin?"

“Kami yakin,” timpal Ayah. "Kami mencintai Ibu Dokter yang mengajarkan Raka bertahan, kami mencintai Ibu Penjahat yang melindungi kami saat dipojokkan, kami mencintai Ibu Penulis yang mengerti mimpi Alya. Kami mencintai semuanya. Dan justru karena kami sangat mencintai mereka semua, kami sadar bahwa sesempurna apa pun ketujuh versi ini, mereka tetap tidak bisa menggantikan sosok Ratri yang asli secara utuh."

Penjaga Kemungkinan menatap mereka cukup lama, sebelum akhirnya tersenyum. "Kalian akhirnya mengerti," bisik Penjaga Kemungkinan pelan, suaranya terdengar hangat.

Penjaga Kemungkinan mengangkat jam pasirnya. Tabung kaca itu pecah menjadi butiran debu emas yang melayang ke udara, dan sosok pria serba hitam itu perlahan memudar menyatu dengan kegelapan malam hingga lenyap sepenuhnya.

Ibu Penjahat menatap Raka, senyumnya tidak lagi kaku atau tajam, melainkan dipenuhi kehangatan seorang pelindung. Ibu Miskin menatap Alya dengan tatapan penuh kasih sayang. Di kamar belakang, Ibu Petualang menaruh kompas emas kecil di genggaman tangan Nisa yang tengah tidur sebelum mengecup punggung tangan bocah itu.

Satu per satu—mulai dari Ibu Politikus, Ibu Miskin, Ibu Petualang, Ibu Dokter, Ibu Penulis, Ibu Penjahat, hingga Ibu Sejati—tubuh mereka perlahan terurai menjadi partikel-partikel cahaya keemasan yang lembut. Cahaya-cahaya itu melayang anggun di udara malam, bersama dengan gaung suara yang hangat.

Lihat selengkapnya