

BAB 1: SARANG DOSA
Tiga hari setelah Eyang Guru dimakamkan, Maman akhirnya menjejakkan kaki kembali di kampung halamannya di pinggiran Jakarta. Di punggungnya hanya ada tas kain kumal berisi dua stel baju dan sisa akar obat-obatan.
Hati Maman berdesir. Ia membayangkan rumah neneknya—satu-satunya peninggalan orang tuanya—masih berdiri asri dengan pohon mangga di halaman depan, tempat ia dulu bermain gundu sebelum dibawa ke gunung.
Namun, kenyataan menampar Maman lebih keras daripada latihan Tapak Dewa.
Rumah itu memang masih ada, tapi auranya sudah berubah total. Dinding yang dulu putih bersih kini kusam penuh coretan tak senonoh. Halaman depan yang dulu penuh bunga melati kini dipadati motor-motor matic modifikasi dengan knalpot bising.
Dan yang paling parah, bau kemenyan bercampur asap rokok kretek murah mengepul tebal dari dalam rumah, seolah rumah itu sedang terbakar perlahan.
"Rumah Nenek..." gumam Maman. Matanya menyipit.
Ia melangkah masuk. Pintu depan terbuka lebar. Di ruang tamu, tempat dulu penuh kenangan indah, kini terhampar meja-meja bundar. Belasan pria bertampang sangar dengan tato naga cacingan di lengan sedang membanting kartu domino dan melempar dadu. Uang ribuan hingga ratusan ribu berserakan.
Botol-botol minuman keras bergelimpangan di sudut ruangan, tepat di bawah foto tua orang tua Maman yang kini miring dan berdebu.
"WOI! Siapa lu?!"
Seorang preman berbadan gempal dengan anting besar di hidung menghardik Maman. Musik dangdut koplo yang memekakkan telinga mendadak berhenti. Semua mata tertuju pada pemuda desa berbaju lusuh yang berdiri di ambang pintu.
"Saya Maman," jawab Maman tenang, meski hatinya mendidih melihat rumah pusaka ini jadi sarang maksiat. "Ini rumah nenek saya. Kenapa jadi tempat judi?"
Preman itu tertawa, memamerkan giginya yang kuning. "Rumah nenek lu? Woi, bangun tidur lu! Rumah ini udah disita sama Bos Romen!"
"Disita?" Maman mengernyit. "Orang tua saya memang punya hutang, tapi setahu saya cuma sepuluh juta."
Seorang pria kurus berkacamata hitam yang duduk di meja kasir membuka sebuah buku besar. Ia membalik halaman dengan malas.
"Sepuluh juta itu lima belas tahun yang lalu, Tong," katanya santai. "Lu kira duit nggak beranak? Bunga berbunga, denda keterlambatan, biaya administrasi, biaya keamanan... Total hutang keluarga lu sekarang jadi lima ratus juta!"
"Lima ratus juta?!"