TUKANG SERBAGUNA

TUDI NURYANTO
Chapter #2

BAB 2: APES DI TIPU


BAB 2: APES DI TIPU

Matahari Jakarta hari itu tidak sekadar panas, ia terasa seperti sedang menaruh dendam pribadi pada siapa pun yang berani menapakkan kaki di aspal. Di sebuah proyek pembangunan ruko empat lantai di kawasan Jakarta Barat, debu semen beterbangan seperti badai pasir mini, menyumbat pori-pori dan paru-paru.

Di tengah hiruk-pikuk suara mesin molen dan teriakan para tukang, sesosok pemuda bertubuh tegap sedang melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Pemuda itu memanggul dua sak semen sekaligus di punggungnya. Satu sak beratnya lima puluh kilogram. Jadi, total beban di punggungnya adalah seratus kilogram. Namun, wajahnya setenang permukaan danau. Napasnya teratur, seolah ia sedang berjalan-jalan sore di taman bunga, bukan sedang menaiki tangga bambu reot menuju lantai dua.

Namanya Maman.

"Woy, Man! Jangan pamer lu!" teriak salah satu tukang senior dari bawah sambil mengisap rokok kretek. "Nanti mandor liat, kita semua disuruh kerja kayak kuda kayak lu!"

Maman hanya tersenyum tipis, sebuah senyum lugu yang menampakkan deretan giginya yang putih bersih, kontras dengan kulitnya yang sawo matang terbakar matahari dan baju kaos partai bergambar wajah politikus yang sudah pudar warnanya.

"Biar cepet kelar, Kang," jawab Maman santun. Suaranya berat dan berwibawa, tidak cocok dengan wajahnya yang masih terlihat muda, sekitar dua puluh lima tahun.

Maman meletakkan dua sak semen itu di lantai dua dengan gerakan sangat ringan, seringan menaruh bantal kapas. Tidak ada debu yang mengepul berlebihan. Jika ada ahli bela diri yang melihat cara Maman meletakkan beban itu, mereka pasti akan merinding. Itu adalah teknik tingkat tinggi tenaga dalam, kemampuan mengendalikan tenaga dalam untuk menetralkan benturan. Tapi di sini, di proyek ruko Glodok ini, Maman hanyalah kuli lulusan SD.

'Ini gak bisa dibiarin, kalo Maman kerjanya kayak gitu, proyek bisa cepet selesai, gue bisa rugi nih, gak bisa motong gaji anak buah banyak-banyak,' gumam mandor Tarjo yang mengawasinya.

"Maman!"

Suara cempreng yang menyakitkan telinga terdengar dari arah tangga. Itu Mandor Tarjo. Pria paruh baya dengan perut buncit yang menyembul dari balik kemeja ketatnya. Wajahnya selalu berminyak, selicin kata-kata manisnya saat menipu gaji anak buah.

Maman menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. "Ya, Pak Mandor?"

Tarjo naik ke lantai dua dengan napas terengah-engah. Ia menatap tumpukan semen yang dibawa Maman, lalu menatap Maman dengan tatapan meremehkan.

"Lu kerja jangan kayak orang kesurupan. Tuh liat, adukan semen di bawah kering! Lu ngangkut doang, siapa yang ngaduk?"

"Itu bagian Kang Udin, Pak. Saya cuma bantu angkut karena stok di atas habis," jawab Maman tenang.

"Alah, alesan! Lu emang cari muka kan biar dapet bonus?" Tarjo mendengus, lalu mengeluarkan amplop cokelat tipis dari saku celananya. Ia melempar amplop itu ke arah dada Maman. Amplop itu jatuh ke lantai yang berdebu.

Lihat selengkapnya