TUKANG SERBAGUNA

TUDI NURYANTO
Chapter #3

BAB 3: REJEKI ANAK SOLEH


BAB 3: REJEKI ANAK SOLEH

Satu jam kemudian, Maman duduk di bangku kayu panjang Warteg Barokah, menatap piring berisi nasi separuh, sayur nangka, dan satu tempe goreng. Ia makan dengan lahap, menghargai setiap butir nasi. Bagi Maman, makanan adalah energi murni. Membuang makanan adalah dosa besar bagi seorang praktisi bela diri.

"Jadi lu dipecat lagi, Man?"

Suara itu membuyarkan konsentrasi makan Maman. Di depannya duduk seorang pria berseragam satpam rapi berwarna biru tua, lengkap dengan atribut dan pentungan di pinggang. Rambutnya klimis disisir ke belakang. Itu Ujang. Teman sebangku Maman waktu SD di kampung, sebelum nenek Maman meninggal dan Maman dibawa Eyang Guru ke gunung. Ujang adalah satu-satunya koneksi Maman di kota metropolitan yang gila ini.

"Iya, Jang. Ditipu mandornya. Gajiku dipotong separuh," jawab Maman setelah menelan kunyahannya. "Tapi gak apa-apa. Mungkin bukan rezeki."

Ujang menggelengkan kepala, prihatin. Ia tahu Maman itu polos. Terlalu polos. Saat SD dulu, Maman sering dikerjai teman-temannya, tapi Maman tidak pernah membalas. Ujang tidak tahu apa yang terjadi pada Maman selama 15 tahun menghilang, tapi saat Maman muncul di Jakarta sebulan lalu dengan pakaian lusuh, Ujang merasa bertanggung jawab.

"Lu sih, Man. Gue kan udah bilang, cari kerja tuh yang pake seragam. Biar dipandang orang," kata Ujang sambil menyeruput es teh manisnya. "Liat gue nih. Satpam komplek elite. Gaji lebih dari UMR, dapet THR, dapet BPJS. Tiap pagi disapa pembantu-pembantu cantik."

Maman tersenyum. "Aku cuma lulusan SD, Jang. Mana bisa jadi satpam. Mentok paling jadi kuli."

"Nah, itu dia!" Ujang menepuk meja. "Gue ada kabar baik. Rezeki anak soleh emang gak kemana."

Maman menghentikan suapan terakhirnya. "Kerja apa? Kuli lagi? Gali got?"

"Bukan!" Ujang memajukan wajahnya, berbisik seolah membocorkan rahasia negara. "Di tempat gue kerja, di kediaman Keluarga Adiguna, tukang kebun lamanya baru aja dipecat. Katanya sih ketauan nyolong."

"Tukang kebun?" mata Maman berbinar.

Ini bidang keahliannya. Di gunung, Eyang Guru mengajarkannya mengenali ribuan jenis tanaman. Mulai dari rumput beracun yang bisa membunuh gajah dalam tiga langkah, sampai bunga langka yang bisa memperpanjang umur manusia. Mengurus tanaman hias orang kota? Itu mainan anak kecil baginya.

"Iya. Gajinya..." Ujang memberi jeda dramatis, "...7 juta sebulan. Bersih. Makan dapet dari dapur rumah."

"Uhuk!" Maman tersedak tempe goreng. Ia buru-buru meminum air putih dari gelas plastiknya. "Tu... Juh juta? Itu duit beneran, Jang? Jangan ngawur Lu, UMR aja cuma 5 juta sebulan."

Di kampung, Tujuh juta bisa buat beli kambing dua ekor.

"Beneran lah! Keluarga Adiguna itu konglomerat, Man. Duit mereka ngalir terus. Tapi..." wajah Ujang berubah sedikit serius. "Masuknya susah. Kepala pelayannya, Pak Tarno, itu galak banget. Standarnya tinggi. Tukang kebun harus ngerti estetika lah, lanskap lah, apalah gue gak ngerti. Tapi gue udah bilang ke Pak Tarno, gue punya temen yang ahli tanaman dari desa."

Maman mengangguk mantap. "Oke jang, kalo itu beneran, gue tertarik jadi tukang kebun, yang penting bisa buat bayar cicilan."

"Nah, gitu dong optimis! Yaudah, abis ini lu ikut gue. Mandi dulu di rumah adek gue, pake baju yang bagusan dikit. Jangan pake kaos partai itu, malu-maluin."

Tak lama kemudian, mereka tiba di Kawasan Perumahan Royal Menteng. Ini adalah dunia yang berbeda. Jika tempat proyek tadi adalah neraka panas, tempat ini adalah surga dunia. Jalanannya lebar dan mulus, pohon-pohon rindang berjejer rapi, dan mobil-mobil yang lewat harganya lebih mahal dari harga nyawa satu kampung halaman Maman. Maman dibonceng motor matic Ujang, melongo melihat rumah-rumah gedongan dengan pilar-pilar raksasa ala Eropa.

"Tutup mulut lu, Man. Nanti laler masuk," tegur Ujang.

Mereka berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam setinggi tiga meter yang dihiasi ukiran emas. Di pos satpam, Ujang melambaikan tangan pada rekannya, lalu gerbang otomatis terbuka perlahan.

Sret...

Lihat selengkapnya