TUKANG SERBAGUNA

TUDI NURYANTO
Chapter #4

BAB 4: TUKANG KEBUN PLUS²


BAB 4: TUKANG KEBUN PLUS²

Maman menatap uang di tangannya dengan syukur, tak menyadari bahwa di balik jendela lantai atas, sepasang mata tajam sedang mengawasinya dengan rencana lain."

"Makasih ya, Jang. Lu udah bantuin gue." Maman tersenyum lebar, senyum tulus yang jarang ia tunjukkan.

"Santai, Man. Kita kan udah temenan dari SD," Ujang nyengir. "Eh, tapi gue serius ya, Man," Ujang melepas pelukannya dan menatap Maman dengan wajah serius. "Jangan bikin masalah. Keluarga ini... gimana ya... mereka itu orang penting banget. Kakek Adiguna itu pengusaha properti raksasa. Punya mall, apartemen, hotel di mana-mana. Koneksinya sampai ke istana. Kalau lu bikin salah, gue yang kena, lu juga bisa masuk penjara kalau mereka mau."

Maman mengangguk. "Gue ngerti, Jang. Meskipun tampang gue agak sangar begini, gue gak bakal aneh-aneh disini, Jang."

"Ini kediaman Keluarga Adiguna, Man. Konglomerat properti. Lu beruntung banget gue bisa masukin lu ke sini," bisik Ujang sambil celingukan, memastikan tidak ada CCTV yang merekam obrolan santai mereka. "Inget pesen gue ya. Lu di sini jabatannya General Affair bagian taman alias tukang kebun plus-plus."

"Plus-plus?" Maman mengernyitkan dahi polosnya.

"Maksudnya serabutan, Bego!" Ujang menoyor kepala temannya. "Lu benerin keran, ganti genteng, bersihin kolam, angkat-angkat barang. Gajinya lebih dari UMR Jakarta plus makan siang. Jauh lebih enak daripada lu jadi kuli bangunan di Tanah Abang kayak kemaren. Jangan harap mikir yang aneh-aneh lu ya."

Maman mengangguk antusias. Bagi lulusan SD sepertinya, gaji lebih dari UMR adalah berkah luar biasa. Selama lima belas tahun tinggal bersama Eyang, sebutan Maman untuk guru tabib saktinya, dia tidak pernah mengenal uang. Hidup mereka seadanya; makan apa yang tumbuh di hutan, minum dari mata air. Baru setelah Eyang meninggal sebulan lalu dan menyuruhnya turun gunung, Maman sadar bahwa di kota, napas saja butuh bayar.

"Siap, Jang. Tenang aja. Soal tenaga, lu tau sendiri kan gue dulu duel sama kakak kelas," kata Maman sambil membusungkan dada.

Di balik kaos tipisnya, terlihat samar kontur otot dada yang padat dan simetris, bukan otot hasil gym yang menggembung berlebihan, tapi otot fungsional hasil kerja keras yang mematikan.

"Yaudah, masuk lu. Langsung ke area belakang, temuin Mbak Ratna, kepala pelayan di sini. Dia yang bakal ngasih lu seragam sama peralatan," perintah Ujang sambil membukakan pintu gerbang kecil.

Maman melangkah masuk. Halaman rumah itu luasnya minta ampun. Rumput jepang terhampar hijau rapi seperti karpet, dikelilingi pohon palem botol dan berbagai tanaman hias mahal yang Maman belum tahu seumur hidup. Ia berjalan menuju area servis di belakang rumah utama. Di sana, sebuah pintu dapur terbuka lebar. Aroma masakan, bawang putih ditumis, daging dipanggang, dan wangi pandan, langsung menyergap hidung tajam Maman.

"Aduh... Masya Allah, beratnya..."

Sebuah suara wanita terdengar mengeluh dari arah dapur kotor. Maman mempercepat langkahnya. Di ambang pintu, ia melihat pemandangan yang membuat langkah kakinya terhenti sejenak.

Seorang wanita, mungkin berusia dua puluh tujuh tahun, sedang berusaha mengangkat galon air mineral penuh ke atas dispenser yang posisinya agak tinggi. Wanita itu mengenakan seragam pelayan hitam-putih klasik, namun potongannya pas badan. Roknya selutut, memperlihatkan betis putih mulus yang kencang. Karena sedang berjinjit dan mengerahkan tenaga, rok itu sedikit terangkat, dan lekuk tubuhnya, terutama bagian pinggul dan dada yang membusung, tercetak jelas. Keringat tipis mengalir di leher jenjangnya.

'Itu Mbak Ratna? Janda kembang yang diceritakan Ujang?'

"Biar saya bantu, Mbak," suara Maman terdengar berat dan tenang, mengejutkan Ratna.

Lihat selengkapnya