TUKANG SERBAGUNA

TUDI NURYANTO
Chapter #5

BAB 5: PIJATAN PERTAMA UNTUK NYONYA


BAB 5: PIJATAN PERTAMA UNTUK NYONYA

Maman menelan ludah keras saat pintu kamar utama terbuka.

Bu Diana berdiri di ambang pintu dengan gaun merah sutra yang seolah diciptakan khusus untuk tubuhnya. Bukan gaun biasa — itu adalah senjata. Potongannya ketat mengikuti setiap lekuk tubuh sang nyonya rumah, mulai dari bahu putih mulus yang terbuka, turun ke pinggang ramping yang bisa dicengkeram dengan dua telapak tangan, lalu melebar dramatis di bagian pinggul yang penuh dan padat. Gaun merah itu membalut setiap senti lekukan tubuhnya yang luar biasa montok seperti jam pasir. Belahan gaun di sisi kiri memperlihatkan sepanjang paha putih bersih yang mulus setiap kali ia bergerak.

Rambut hitamnya yang lebat disanggul anggun, memperlihatkan leher jenjang dan garis rahang yang tegas namun feminin. Wajahnya cantik dengan potongan yang terlalu sempurna untuk wanita berusia empat puluh tahun — mata sipit yang dalam, hidung mancung, dan bibir merah merekah yang seolah mengundang nafsu kaum adam.

Tapi yang paling membuat Maman hampir kehilangan keseimbangan adalah dada Bu Diana yang membusung penuh di balik gaun merah itu. Bukan pamer, bukan murahan — tapi keanggunan alami seorang wanita matang yang sadar betul dengan kekuatan yang ia miliki.

Maman menelan ludah berkali-kali setiap melihat bagian-bagian dari tubuh Diana yang brutal. Jantung pendekarnya, yang biasanya tenang seperti telaga, kini berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Dia, seorang pemuda lugu yang baru turun gunung, merasa seolah sedang menghadapi macan betina yang bukan hanya bisa menelannya, tapi juga bisa menghancurkan kewarasannya. Di mata batinnya, aura gelap menguar kacau di tubuh Diana, tanda bahwa wanita ini dipenuhi energi negatif yang membuat tubuhnya sakit-sakitan.

Diana menatap Maman dengan dua sudut bibirnya terangkat tipis, wanita cantik itu tersenyum tanpa sebab.

"Kamu tukang kebun itu?"tanya-nya pelan.

Maman berdiri mematung di depan pintu. Di benaknya, suara Eyang Guru berdengung samar.

'Waspadalah pada tiga hal, Maman. Racun yang tidak berbau dan berasa, pedang yang tidak terlihat, dan ilusi pesona yang memikat. Kamu bisa terjerat tanpa kamu sadari.'

"Iya, Nyonya," jawab Maman singkat.

"Masuk," perintah Diana lembut.

Maman melangkah masuk. Pintu tertutup di belakangnya.

"Siapa namamu?" Diana menatap Maman dari ujung kaki ke ujung kepala. Dari dekat, pemuda ini terlihat lebih nyata. Bau keringat dan tanah yang menguar darinya entah kenapa tidak membuat Diana jijik, malah terasa... jantan. Kontras sekali dengan parfum mahal suaminya yang memuakkan.

"Saya Maman, Nyonya," jawab Maman sambil menunduk sopan. "Kata Mbak Ratna, saluran air panasnya macet ya?"

Diana menunjuk ke arah pintu kamar mandi kaca yang buram. "Di sana. Kalau kamu nggak bisa benerin dalam 10 menit, keluar saja. Saya nggak suka orang yang kerjanya lelet."

Maman mengangguk dan masuk ke kamar mandi yang luasnya seperti lapangan badminton itu. Ada sebuah Jacuzzi (bak mandi pusaran air) besar di tengahnya. Maman berjongkok, memeriksa panel kontrol dan pipa di bawahnya. Dia memejamkan mata sejenak, memindai aliran udara di dalam pipa dengan kepekaan indra ke-enam-nya. Ia menempelkan telapak tangannya ke pipa besi. Bukan menggunakan kunci inggris, Maman mengirimkan getaran tenaga dalam halus melalui telapak tangannya untuk melihat sumbatan di dalam pipa.

'Ah, ada kerak kapur yang menyumbat pipanya,' batin Maman.

Dengan satu sentakan tenaga dalam yang terukur, mirip teknik Tapak Penghancur Batu tapi dalam skala kecil, Maman menghentakkan tangannya ke pipa itu.

DUNG!

Terdengar suara logam beradu tumpul. Lalu, suara desis air terdengar. Maman memutar kran. Air panas menyembur deras, uapnya langsung memenuhi ruangan.

Lihat selengkapnya