BAB 6: SERANGAN RATNA
Di dapur yang bersih dan modern itu, suara pisau beradu dengan talenan terdengar tidak beraturan. Tak! Tak! Tak!
Mbak Ratna sedang memotong wortel untuk sop makan malam, potongan wortelnya berantakan, ada yang tebal, ada yang tipis, bahkan ada yang hancur karena ditekan terlalu kuat. Hatinya gelisah bukan main. tapi pikirannya melayang ke lantai dua. Sudah satu jam lebih Maman berada di kamar Nyonya Diana. Apa yang terjadi di sana? Kenapa lama sekali? Biasanya tukang servis AC atau pipa cuma butuh waktu sebentar, itu pun pintunya selalu dibuka lebar. Tapi tadi, Ratna melihat sendiri pintu kamar utama tertutup rapat.
Ratna meletakkan pisaunya dengan kasar. Ia tidak bisa fokus. Ia mondar-mandir di depan meja pantri, sesekali melirik ke arah tangga kamar utama. Dadanya bergemuruh oleh perasaan yang ia sendiri tidak mengerti. Kenapa ia harus peduli? Maman hanya tukang kebun baru. Tapi bayangan Maman yang lugu namun bertubuh kekar itu terus menggangu pikirannya. Dan sekarang, pria itu sedang berduaan dengan majikannya yang terkenal cantik, kaya, dan sedang kesepian.
'Apa yang mereka lakukan di atas sana? Memperbaiki pipa tidak mungkin selama ini,' batin Ratna cemas.
Terdengar langkah kaki berat menuruni tangga. Ratna menoleh cepat. Itu Maman. Pemuda itu berjalan santai, wajahnya sedikit merah dan rambutnya agak berantakan.
Tanpa pikir panjang, Ratna meninggalkan wortelnya yang baru terpotong setengah. Ia setengah berlari menghampiri Maman yang baru saja menapakkan kaki di lantai dasar.
Suara langkah kaki terdengar menuruni tangga. Ratna langsung menoleh. Itu Maman. Pemuda itu turun dengan wajah sedikit memerah dan napas yang agak tidak teratur, seperti orang yang baru selesai lari maraton.
Tanpa basa-basi, begitu kaki Maman menyentuh lantai dapur, Ratna langsung menyambar pergelangan tangannya.
"Eh, Mbak Rat—"
"Sst! Ikut saya," bisik Ratna tegas.
Ia berbalik badan, menatap Maman dengan tatapan seorang jaksa penuntut umum yang siap menyidang terdakwa korupsi. Napasnya memburu, membuat dadanya naik turun dengan cepat. Ratna melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka.
Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Ratna menyeret Maman menuju sebuah pintu kayu di sudut dapur. Itu adalah gudang penyimpanan alat kebersihan dan stok makanan kering. Ratna mendorong Maman masuk, lalu ia sendiri masuk dan segera menutup pintu.
Klik.
Kunci diputar. Mereka kini terkurung di dalam ruangan sempit berukuran 2x3 meter yang dipenuhi rak-rak besi dan aroma sabun deterjen.
Mbak Ratna sedang menyidang tahanan barunya.
"Mas, jawab pertanyaan saya."
Suara Ratna lembut, tapi cengkeramannya di lengan Maman terasa kencang, seolah takut Maman akan melarikan diri menembus tembok.
"Kenapa, Mbak? Kok kita di gudang?" tanya Maman bingung. Ruangan itu sempit, membuat jarak di antara mereka nyaris tidak ada.
Ratna tidak menjawab. Tubuhnya yang padat berisi dalam balutan seragam pelayan pas badan itu mendekat. Ia menekan Maman hingga punggung pemuda itu menabrak rak berisi tumpukan tisu toilet.
Ratna memajukan wajahnya. Hidung bangirnya mengendus-endus bahu Maman, lalu turun ke dada, seperti kucing yang mendeteksi ancaman asing di wilayah kekuasaannya. Maman menahan napas, tubuhnya kaku. Hembusan napas hangat Ratna menembus kaos tipisnya.