PROLOG
Beberapa gumpal awan tampak menghitam di atas langit Jakarta Selatan. Sore hari yang seharusnya menjadi sore yang indah untuk menunggu matahari terbenam. Telah dirusak oleh sekumpulan awan yang tampak marah dan bersiap menurunkan peluru andalannya. Hujan deras. Peluru-peluru yang ingin menembak keras dan memurungkan bumi. Menenggelamkannya.
Di kamar, aku tengah sibuk mempersiapkan diri. Berpergian mencari beberapa lembar uang berwarna merah atau biru. Biasanya aku semangat dan menikmatinya. Tapi kali ini sangat malas melakukannya.
Aku masukan dua pasang baju ke dalam tas backpack. Dua kemeja dan dua celana beserta celana dalam sudah memenuhi tasku. Beberapa roti isi juga turut ikut mengisi space kosong. Tiga botol minuman berwarna sudah ada di kantung samping tas. Entah kenapa hari ini aku lebih menginginkan minuman berwarna dari pada minuman transparan yang rasanya terlalu getir. Mood booster. Iya sebagai mood booster. Karena malam ini aku akan menjalankan tugas.
BAB 1
Aku melangkah dengan malasnya menyusuri satu ruas jalan di dalam stasiun kereta api di Jakarta Pusat. Stasiun yang hanya melayani kepergian antar kota. Kutelusuri lorong yang terdapat toko-toko makanan di kanan kiri. Aku berjalan dengan sepatu sneaker yang sudah menganga di bagian sol sampingnya. Kuseret kakiku. Hati-hati melangkah agar sepatu ini tidak semakin kelaparan.
Aku berharap mendapatkan tip yang besar setelah bekerja nanti. Bisa untuk membeli sepatu yang lebih murah. Sepatu lokal. Dan aku bisa memberikan kelebihannya untuk ibu dan Alvian.
Aku duduk di sini, di pinggiran trotoar dekat pintu masuk yang di sampingnya berdiri kedai kopi terkenal yang sekarang sedang menghadapi aksi boikot di sejumlah negara. Duduk memperhatikan para calon penumpang kereta api. Sambil kuminum sebotol air teh rasa buah markisa kesukaanku.
Mendung hitam masih memenuhi langit di angkasa. Tinggal menunggu beberapa detik lagi untuk turun menghantam bumi.
Dan benar saja. Belum menguap kata-kataku dalam hati, hujan sudah turun sedemikian derasnya. Bersama teman dekatnya yaitu angin kencang.
Petir menyambar-nyambar menerangkan langit yang gelap dengan cahaya putihnya. Bentuknya yang indah menggoreskan cabang-cabang seperti ranting pohon di musim gugur. Dibalik keindahannya terdapat kekuatan yang sangat menakutkan.
Namaku James Anggara Prasetya. Pasti bingungkan dengan namaku. Nama pertamaku berbau kebarat-baratan. Dan nama belakangku nama yang sangat Indonesia. Aku dilahirkan dari orang tua yang berbeda bangsa. Bapakku bernama Michael Smith berasal dari Brooklyn, Amerika. Ibuku Euis Midayati perempuan asal Garut Jawa Barat. Dan kami sudah lama tinggal di Jakarta. Sejak bapak meninggalkan kami kembali ke negaranya. Kami seperti kehilangan sosok pelindung keluarga. Kehilangan penopang hidup keluarga. Semua tugasnya menjadi tanggung jawab ibu. Lantas tugas itu aku ambil alih karena merasa inilah tanggung jawabku sebagai anak laki-laki paling tua. Biar ibu beristirhat menjaga Alvian. Kami hanya hidup bertiga, saat ini kami saling menjaga dan menguatkan.
Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku bernama Arthur Alvian Ganda, masih duduk di bangku SMA. Usiaku 22 tahun. Aku seorang Mahasiswa. Aku juga memiliki pekerjaan yang tidak layak untuk diceritakan. Tapi dengan pekerjaan yang aku geluti sekarang, aku bisa membiayai kuliahku sendiri dan menghidupi ibu dan Alkvian.
Sejak kembalinya bapak ke negaranya. Aku sudah tidak mempedulikannya lagi. Aku sudah ditinggal saat berusia dua belas tahun. Sementara adikku berusia enam tahun kala itu. Ibu pernah memintaku mencarinya ke Amerika, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pergi kesana. Kalau pun aku punya biaya itu, lebih baik aku pergunakan untuk menyenangkan hati ibu dan tentu Alvian.
Kulirik jam di tangan kanan. Jam pemberian seorang pelanggan. Walaupun jam tangan ini bukan barang baru tapi aku sangat menyukainya. Jam silver berbahan stainless steel dengan jarumnya yang berwarna hijau. Berpendar kala cahaya menghilang. Aku tahu jam ini jam mahal. Mungkin kalau kepepet bisa aku jual suatu saat nanti.
Tiga puluh menit lagi keretaku akan datang. Lebih baik check in sekarang. Kukeluarkan selembar tiket yang sudah aku print begitu sampai di stasiun ini. Aku juga menyiapkan KTP untuk dicek begitu melewati petugas check in. Dua baris antrian cukup panjang yang akan melewati petugas. Petugas degan telitinya mencocokan satu per satu tiket dan KTP.
Sekarang giliranku di cek tiket dan KTP. Selesai verifikasi aku langsung menuju lantai tiga, tempat menunggu kereta api. Disini masih ada waktu lima belas menit menunggu kereta datang. Di atas sini anginnya lebih kencang berhembus. Hujan yang semakin lebat, meniupkan angin dingin yang membuatku menggigil. Kupakai jaket denimku. Tetapi jaket denim yang kubeli ketika mendapatkan tawaran pekerjaan di salah satu hotel di Jakarta belum mampu menahan udara yang berhembus semakin kencang.
Untung saja baru lima menit aku duduk di bangku, suara pengumuman menyebutkan kereta tujuan Bandung sudah tiba. Aku bersiap-siap, menengok lagi ke bangku memastikan tidak ada barang yang tertinggal.
Kumasuki salah satu gerbong kereta untuk penumpang ekonomi. Biasanya kalau pergi ke Bandung aku selalu naik kelas eksekutif. Tapi karena uangku menipis jadi aku memilih naik ekonomi saja.
Aku memilih kursi tidak dekat jendela, karena tinggiku tidak cukup untuk duduk di kursi ekonomi yang jarak antara kursi depan dan belakang yang berdekatan. Gerbong yang kunaiki tidak terlalu penuh. Di samping kursiku juga tidak terisi. Aku bisa meluruskan kakiku ke dalam dan memutar tubuhku miring sedikit menghadap jendela. Dan aku bisa menatap ke luar. Menatap masa depan. Masa depan cerah yang aku inginkan.