Ketika baru keluar dari kamar mandi, kulihat wanita itu duduk di kursi seraya menghisap sebatang rokok. Rokok putih beraroma mint yang memang menjadi kesukaan bagi kaumnya. Semalam, setiap kali kami berciuman mulutnya terasa bau asap rokok yang sangat menyengat. Bisa ditebak kalau dia pasti seorang perokok berat.
Wanita itu terus memperhatikan lekuk tubuhku dengan pandangan buasnya. Sepertinya dua kali semalam tidak puas untuknya. Aku sangat letih. Aku hanya tidur dua jam saja. Kalau disuruh melayaninya lagi jelas tidak akan menyanggupi. Tetapi dia malah mempersilahkanku untuk meminum secangkir kopi atau memakan sarapan yang disediakan pihak hotel.
Dengan sikap yang cuek kupakai semua pakaian di depannya. Aku tahu dia terus menatap nanar tanpa berkedip. Biarkan saja. Aku ingin secepatnya selamat darinya. Paling tidak sudah menutupi seluruh tubuhku dengan pakaian yang ku bawa.
Aku meminum secangkir black coffee dan roti croissant yang ku lumuri dengan butter. Duduk satu meja dengannya. Ia lalu merogoh tasnya dan memberikan segepok uang yang dimasukan ke dalam amplop coklat.
“Kamu luar biasa. Baru kali ini saya mendapatkan pelayanan yang luar biasa.”
“Makasih, Tante.”
“Tante. Hahahh. Memangnya tampang saya sudah mirip wanita berusia lima puluh tahun ke atas,” gurau wanita itu.
Aku nyengir menatapnya. Kuperhatikan ia sangat cantik. Bahkan kecantikan wajahnya melebihi artis-arti nomor wahid di Ibukota. Apa dia belum menikah. Tidak mungkin wanita secantik ini belum menikah. Pasti banyak pria kaya raya yang mau menikahinya.
“MbaK asli orang Bandung?”
“Bukan. Saya asli Jakarta.”
Aku terdiam. Sungkan mau bertanya lagi.
“Kamu tinggal di Jakarta?”
“Iya, Mbak.”
“Daerah mana?”
“Mampang.”
“Ohh mampang. Mampang berapa?”
“Mampang sebelas, Mbak,” kujawab sekenanya. Karena rumahku sesungguhnya bukan di Mampang
Obrolan kami terus mengalir tanpa jeda. Diselingi canda dari wanita yang meminta dipanggil namanya saja, yaitu Luna.
Luna memintaku menemaninya kembali kalau ia butuh kehangatan. Dan Luna memintaku untuk bersiap ke Bandung jika ia menginginkanya. Aku bertanya kenapa tidak di Jakarta saja. Dia menjawab kalau di Jakarta itu sama saja dengan membunuh dirinya sendiri.
Lalu ia bercerita mengenai suaminya. Seorang pengusaha sukses di beberapa bidang, namun Luna adalah istri ketiga dan suaminya sudah berusia lebih dari 70 tahun. Kadang kalau keinginannya sedang di puncak, suaminya tidak bisa melakukan kewajibanya sebagai seorang laki-laki. Jadi Luna mencari laki-laki lain yang bisa memuaskan hasratnya yang tinggi.
Sebagai istri kesayangan dari tiga istri yang dimiliki Sastro Amijoyo, Luna mempunyai kekayaan berlimpah. Berbagai aset diberikan oleh suaminya. Dari mulai perusahan, salon kecantikan yang dimintanya, rumah hingga mobil. Semuanya dituruti. Tapi satu yang sulit ia dapatkan dari suaminya. Kehangatan tubuh seorang pria. Sastro sudah sulit memberikan kepuasan batin padanya, itulah mengapa ia kerap mencari kesenangan di luar rumah. Mengaku sedang mengurus bisnisnya di Bandung yaitu salon kecantikan. Padahal alasan lainnya ia kepincut dengan pria-pria bandung yang berkulit putih bersih dan tampan.
Aku membuka tas hendak memasukan baju kotor. Kulihat ada pesan masuk ke handphone. Dari adikku, Alvian. Ia bilang ibu meminta roti bolen yang biasa di beli di seberang stasiun Bandung. Aku mengiyakan dan sekalian akan kubelikan brownis basah kesukaan ibu.
“Handphonemu sudah jadul, Anggara.”
“Iya, Mbak. Aku belum mampu beli yang baru."
“Kamu kirim alamat kamu. Saya akan kirim model terbaru,” ujarnya seraya melesakan sebatang rokok yang masih tersisa setengah di asbak yang tersedia di kamar hotel.
Aku berpura-pura menjawab tidak enak. Karena sudah diberi uang banyak. Tapi dia terus memaksa meminta alamat rumah. Sementara aku tidak ingin memberikan alamat rumah padanya. Ini masalah privasi yang harus dijaga agar tidak ada pelanggan yang tahu di mana alamat rumahku. Tidak ingin menimbulkan masalah baru nantinya.
“Ya sudah kalau begitu saya suruh salesnya datang ke sini membawa handphone. Dan saya bisa bayar disini. Kamu keberatan?”
“Ngga usah, Mbak,” jawabku singkat.
Lalu ia menelepon toko handphone dan memintanya membawa satu unit seri terbaru ke hotel berbintang lima ini.
Strategiku berhasil. Dia membelikanku tanpa mengetahui alamat rumahku di Jakarta. Sepertinya dia wanita yang sangat royal. Kelas kakap. Harusnya bisa dimanfaatkan. Minimal aku bisa dijadikanya simpanan, dan tidak berpindah dari satu wanita ke wanita lainnya.
Aku masih terus menemaninya makan sambil mendengarkan semua curhatnya. Tentang suami kayanya yang sudah uzur. Ia mengatakan suaminya sudah lemah sementara ia sedang on fire. Jadi suaminya sudah teramat sulit memenuhi kebutuhan biologisnya sendiri.
Aku hanya mendengarkan tanpa memberikan sedikit pun tanggapan. Aku tidak mau terjebak pada situasi yang tidak nyaman berada di dalamnya.
Jam 10.00 WIB, seorang sales handphone datang ke kamar kami membawa seri terbaru dari sebuah merk Amerika. Aku tertawa kegirangan dalam hati. Inilah yang aku mau. Mendapatkan tip besar sekaligus sebuah barang yang aku incar sejak lama.