BAB 2
Ketika baru keluar dari kamar mandi, kulihat wanita itu duduk di kursi seraya menghisap sebatang rokok. Rokok putih beraroma mint yang memang menjadi kesukaan bagi kaumnya. Semalam, setiap kali kami berciuman mulutnya terasa bau asap rokok yang sangat menyengat. Bisa ditebak kalau dia pasti seorang perokok berat.
Wanita itu terus memperhatikan lekuk tubuhku dengan pandangan buasnya. Sepertinya dua kali semalam tidak puas untuknya. Aku sangat letih. Aku hanya tidur dua jam saja. Kalau disuruh melayaninya lagi jelas tidak akan menyanggupi. Tetapi dia malah mempersilahkanku untuk meminum secangkir kopi atau memakan sarapan yang disediakan pihak hotel.
Dengan sikap yang cuek kupakai semua pakaian di depannya. Aku tahu dia terus menatap nanar tanpa berkedip. Biarkan saja. Aku ingin secepatnya selamat darinya. Paling tidak sudah menutupi seluruh tubuhku dengan pakaian yang ku bawa.
Aku meminum secangkir black coffee dan roti croissant yang ku lumuri dengan butter. Duduk satu meja dengannya. Ia lalu merogoh tasnya dan memberikan segepok uang yang dimasukan ke dalam amplop coklat.
“Kamu luar biasa. Baru kali ini saya mendapatkan pelayanan yang luar biasa.”
“Makasih tante.”
“Tante. Hahahh. Memangnya tampang saya sudah mirip wanita berusia lima puluh tahun ke atas,” gurau wanita itu
Aku nyengir menatapnya. Kuperhatikan ia sangat cantik. Bahkan kecantikan wajahnya melebihi artis-arti nomor wahid di Ibukota. Apa dia belum menikah. Tidak mungkin wanita secantik ini belum menikah. Pasti banyak pria kaya raya yang mau menikahinya.
“Mba asli orang Bandung?”
“Bukan. Saya asli Jakarta.”
Aku terdiam. Sungkan mau bertanya lagi.
“Kamu tinggal di Jakarta?”
“Iya mba.”
“Daerah mana?”
“Mampang.”
“Ohh mampang. Mampang berapa?”
“Mampang sebelas mba,” kujawab sekenanya. Karena rumahku sesungguhnya bukan di Mampang
Obrolan kami terus mengalir tanpa jeda. Diselingi canda dari wanita yang meminta dipanggil namanya saja. Yaitu Luna.
Luna memintaku menemaninya kembali kalau ia butuh kehangatan. Dan Luna memintaku untuk bersiap ke Bandung jika ia menginginkanya. Aku bertanya kenapa tidak di Jakarta saja. Dia menjawab kalau di Jakarta itu sama saja dengan membunuh dirinya sendiri.
Lalu ia bercerita mengenai suaminya. Seorang pengusaha sukses di beberapa bidang, namun Luna adalah istri ketiga dan suaminya sudah berusia lebih dari 70 tahun. Kadang kalau keinginannya sedang di puncak, suaminya tidak bisa melakukan kewajibanya sebagai seorang laki-laki. Jadi Luna mencari laki-laki lain yang bisa memuaskan hasratnya yang tinggi.
Sebagai istri kesayangan dari tiga istri yang dimiliki Sastro Amijoyo, Luna mempunyai kekayaan berlimpah. Berbagai aset diberikan oleh suaminya. Dari mulai perusahan, salon kecantikan yang dimintanya, rumah hingga mobil. Semuanya dituruti. Tapi satu yang sulit ia dapatkan dari suaminya. Kehangatan tubuh seorang pria. Sastro sudah sulit memberikan kepuasan batin padanya, itulah mengapa ia kerap mencari kesenangan di luar rumah. Mengaku sedang mengurus bisnisnya di Bandung yaitu salon kecantikan. Padahal alasan lainnya ia kepincut dengan pria-pria bandung yang berkulit putih bersih dan tampan.
Aku membuka tas hendak memasukan baju kotor. Kulihat ada pesan masuk ke handphone. Dari adikku, Alvian. Ia bilang ibu meminta roti bolen yang biasa di beli di seberang stasiun Bandung. Aku mengiyakan dan sekalian akan kubelikan brownis basah kesukaan ibu.
“Handphonemu sudah jadul Anggara.”
“Iya mba. Aku belum mampu beli.”
“Kamu kirim alamat kamu. Saya akan kirim model terbaru,” ujarnya seraya melesakan sebatang rokok yang masih tersisa setengah di asbak yang tersedia di kamar hotel.
Aku berpura-pura menjawab tidak enak. Karena sudah diberi uang banyak. Tapi dia terus memaksa meminta alamat rumah. Sementara aku tidak ingin memberikan alamat rumah padanya. Ini masalah privasi yang harus dijaga agar tidak ada pelanggan yang tahu dimana alamat rumahku. Tidak ingin menimbulkan masalah baru nantinya.
“Ya sudah kalau begitu saya suruh salesnya datang ke sini membawa handphone. Dan saya bisa bayar disini. Kamu keberatan?”
“Ngga mba,” jawabku singkat.
Lalu ia menelepon toko handphone dan memintanya membawa satu unit seri terbaru ke hotel berbintang lima ini.
Strategiku berhasil. Dia membelikanku tanpa mengetahui alamat rumahku di Jakarta. Sepertinya dia wanita yang sangat royal. Kelas kakap. Harusnya bisa dimanfaatkan. Minimal aku bisa dijadikanya simpanan, dan tidak berpindah dari satu wanita ke wanita lainnya.
Aku masih terus menemaninya makan sambil mendengarkan semua curhatnya. Tentang suami kayanya yang sudah uzur. Ia mengatakan suaminya sudah lemah sementara ia sedang on fire. Jadi suaminya sudah teramat sulit memenuhi kebutuhan biologisnya sendiri.
Aku hanya mendengarkan tanpa memberikan sedikit pun tanggapan. Aku tidak mau terjebak pada situasi yang tidak nyaman berada di dalamnya.
Jam 10.00 WIB, seorang sales handphone datang ke kamar kami membawa seri terbaru dari sebuah merk Amerika. Aku tertawa kegirangan dalam hati. Inilah yang aku mau. Mendapatkan tip besar sekaligus sebuah barang yang aku incar sejak lama.
Luna mengeluarkan dua gepok uang dan 40 lembar uang seratus ribuan. Banyak sekali uang yang dibawanya. Aku melirik sekilas masih ada beberapa gepok lagi di dalam tasnya yang harganya melebih harga sebuah mobil sedan buatan Eropa. Beruntung sekali dia. Jangan-jangan dia dulu berprofesi seperti aku. Kemudian mendapatkan pelanggan kakap dan dinikahi. Dan sepertinya wanita ini menargetkan orang-orang kaya yang sudah berusia senja. Karena pengalamanku di dunia seperti ini, jadi bisa menilai mana wanita yang pernah berprofesi seperti diriku.
Sales itu menghitung jumlah uang yang diberikan kepadanya. Harga handphone yang mencapai dua puluh dua juta dibayar dengan begitu mudahnya tanpa berpikir panjang lagi. Sisanya dua juta diberikan ke sales itu sebagai tip karena telah mengantarkan barang pesananya. Dan Luna memberikan handphone yang masih bersegel itu lengkap dengan adaptornya.
“Makasih ya mba,” kuucapkan padanya. Dan aku mencium pipinya.
“Sama-sama. Kamu siap ya kalo saya butuh lagi.”
“Iya mba bisa telpon aku ”
“Oke kalo gitu. Saya pergi dulu. Kamu tenang saja, hotel ini sudah dibayar. Kita jangan bareng ya turun ke lobinya. Mba keluar duluan baru kamu. Bye Anggara,” ucapnya sambil meraba bagian sensistifku. Luna tidak pernah puas. Dia masih menginginkanya ladi. Dan lagi. Kalau bisa sepanjang hari pun akan ia lakukan.
Ngga papalah. Yang penting aku bisa punya handphone terbaru. Batinku lirih.
Masih ada satu jam lagi sebelum waktu check out tiba. Aku masih bisa rebahan menghilangkan letih setelah urusan dengan wanita tadi baru berakhir jam tiga pagi. Benar-benar keterlaluan dia. Aku dibuatnya harus bekerja keras.
*
Sudah jam dua belas kurang lima belas menit, sudah saatnya aku keluar dari hotel ini. Aku tidak mau check out ke concierge, lebih baik langsung keluar hotel saja. Kunci kutinggalkan di dalam saja. Kembali kuperiksa semua barang-barang. Jangan sampai ada yang ketinggalan terutama uang ini dan ponsel.
Kubuka amplop coklat pemberian Luna. Kulihat berapa uang di dalam amplop coklat ini yang belum sempat dibuka tadi di depan Luna. Ternyata ada tiga gepok. Itu berarti sebanyak tiga puluh juta. Royal sekali dia. Box ponsel yang telah kosong kumasukan ke dalam tas. Aku ambil satu roti dan satu botol minuman yang masih ada.
Kucari-cari jaket denimku. Kuubek-ubek is tas. Tidak ada. Kemana jaket denim yang aku pakai dari Jakarta. Ah, aku ingat jaket denim itu sudah kuberikan ke bapak tukang ojek. Dan aku sudah janji akan menumpang motornya sampai ke stasiun. Apa dia sudah datang. Sebaiknya aku lekas keluar, sudah lima menit terlewat begitu saja di kamar ini.
Kukenakan kacamata hitam model aviator sebelum b erjalan keluar. Konon menurut teman-teman kuliahku, kacamata ini semakin membuatku terlihat maskulin. Terlihat seperti aktor film Hollywood. Atau aktor sinetron yang kebanyakan berwajah indo. Setiap kali kita ngumpul selalu saja mengatakan hal yang sama. Yang kadang membuatku sedikit jengah.
“Angga kenapa sih lu ngga jadi model aja,” tanya teman ku Sherly
“Kalo ngga bintang sinetron atau bintang film,” sela Rian
“Web series juga boleh,”,m sahut Nila
Dan aku hanya menjawab semua pertanyaan teman-teman dengan jawaban yang sama.
“Aku ngga bakat acting.”
Padahal tanpa sepengetahuan mereka. Aku sudah berkali-kali melewati audisi untuk bintang film, sinetron, web series atau bahkan bintang iklan. Dan sejak duduk di bangku SMA aku sering sekali ikutan lomba modelling. Dari semua audisi yang kuikuti, tak satupun yang nyangkut alias gagal total.
Mungkin memang dasarnya aku tidak berbakat. Dari pada membuang waktu dan uang untuk audisi sana sini lebih baik dipakai untuk kuliah. Begitu pikiranku dua tahun lalu.
Tinggi badanku yang mencapai 185 cm. Dengan barat badan ideal meskipun perut tidak terbentuk sixpack. Tubuh berkulit putih bersih. Wajah pun dominan bule. Atau yang orang lain sering sebut indo. Itu yang membuat pria sepantaran iri denganku. Bukan hanya itu saja, wajahku juga ditumbuhi brewok dan kumis yang tumbuh subur. Tapi rambut-rambut itu lebih sering kubabat habis. Dan akan terlihat warna biru bercampur abu-abu di bekas tumbuhnya brewok dan kumis, itu yang membuat banyak wanita tergila-gila padaku. Menurut teman-teman tingkat kemaskulinanku akan naik seratus persen bahkan seribu persen sesudah bercukur.
Seharusnya dengan yang kumiliki ini bisa dengan mudah mendapatkan peran.
Bisa saja mereka. Tapi sayangnya aku tidak seberuntung yang mereka pikirkan. Paling tidak untuk saat ini. Prosesnya begitu panjang. Pahit. Dan hina.
Aku sudah keluar dari hotel dan berjalan terus tanpa mempedulikan para petugas keamanan yang memperhatikanku dari atas sam pai bawah. Kucoba berpikiran positif kalau mereka melihat karena penampilan fisik. Kutengok kekiri begitu keluar dari area parkiran depan hotel ini. Sesuai janji bapak tukang ojek itu sudah menunggu di sana. Dengan motor tuanya. Motor yang mungkin sudah berusia lebih dari sepuluh tahun. Bapak tukan ojek itu berhenti lima meter dari gerbang hotel sesuai keinginanku.
“Bapak sudah sampai. Baru jam dua belas,”,m sapaku
“Sudah a. Saya mending nunggu di sini dari pada nunggu dekat stasiun. Sama saja,” jawabnya
“Oh gitu pak. Baiklah kita langsung aja yuk ke stasiun.”
“Siap a.”
Kukenakan dengan cepat helm yang usang yang diberikan si bapak. Dan kududuki jok belakang motornya. Lalu motor melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan aku dengan bangga memperhatikan jaket denim yang dipakainya. Ternyata barang yang sering terpaksa aku abaikan menjadi sangat berarti bagi orang lain.
“Pak nanti ikut saya masuk ke toko kue ya.”