TULUS

hadi wiyono
Chapter #3

PERTEMUAN

BAB 3


Semangat yang tersisa di tubuhku tidak mampu menahan rasa kantuk yang terus menggoda untuk menyenderkan kepala ke jendela kereta. Kali ini aku duduk di gerbong eksekutif kereta dari Bandung ke Jakarta. Pada saat check in aku meminta upgrade tiket dari ekonomi ke eksekutif. Dikabulkan oleh bagian pembelian tiket karena masih banyaknya bangku yang kosong.


Mataku memejam selama tiga jam lebih perjalanan. Tubuhku benar-benar tidak sanggup menahan letih. Aku bagaikan orang yang tidak sadarkan diri. Bahkan kerasnya suara mesin dan klakson kereta tidak sanggup membuyarkan mimpiku.


Tidak terasa sudah sampai di stasiun gambir. Aku terbangun karena suara petugas kebersihan yang menepuk-nepuk terus pundakku.


“Pak. Pak. Sudah sampai di Gambir.”


Aku memaksa mata ini membuka lebar-lebar. Dan melihat sekeliling. Otak juga kupaksa bekerja lebih cepat untuk mencerna. Kulihat petugas kebersihan sudah berpindah ke gerbong lain. Dan tidak ada satu pun penumpang lain di gerbong ini.


Terburu-buru memeriksa barang-barangku sebelum turun. Uang tiga gepok. Handphone seri terbaru. Masih ada dan semua masih lengkap. Aku turun dari pintu belakang dengan langkah yang masih gemetar. Perutku mengemis minta dimasukan sesuatu. Semua bekal sudah dihabiskan. Aku terus turun ke lantai dasar. Kulihat kedai kopi terkenal sedang sepi pengunjung. Kumasuki dengan cepat sebelum terlihat dari jauh gerombolan backpacker pendaki gunung yang akan masuk lebih dulu.


Caffe late dan dua buah roti sandwich sudah bersama menemaniku. Aku bercerita pada makanan dan minumanku ini tentang dunia jahat yang harus ditempuh karena keadaan yang mendesak. Kerasnya hidup ini tidak pernah memilih siapa yang akan disinggahinya.


Seandainya hidup ini bisa seindah dunia khayal, tentu semua manusia akan memilih pindah ke dalam masing-masing khayalan mereka. Khayalan yang pastinya sangat indah untuk di arungi.


Teringat pada ibu dan adikku. Sembari menunggu taksi online tiba, kupesan lagi dua buah minuman dingin untuk keluargaku tersayang.


AC taksi online yang dingin tidak bisa membelai mataku menjadi lima watt seperti di kereta tadi. Aku justru bersemangat bertemu dengan ibu dan Alvian. Memberi kabar baik pada mereka. Menyuapi ibu dengan roti bolen pesananya dan memegangi gelas minuman ini saat ibu meminumnya.


Maafkan aku ibu. Maafkan aku vian. Aku belum bisa memberimu makanan dari keringat baikku. Tapi akan berusaha keras ke arah itu.


“Depan minimarket itu kiri ya pak.”


“Oh turun di situ ya pak ”


“Iya pak di situ aja ”


Driver taksi online menurunkanku di depan minimarket sesuai permintaan. Selembar saja sudah cukup untuk membayar taksi online itu. Masih ada sisanya tiga puluh ribu untuk si driver karena ia memiliki mobil untuk berusaha dibandingkan si bapak tukang ojek di Bandung.


“Assalamu alaikum.”


Ibu menoleh ke arahku dengan senyum merekah.


“Wa alaikum salam. Alhamdulillah kamu sudah sampe di rumah.”


“Vian mana bu?” tanyaku sambil jalan ke kamar mandi untuk mencuci muka.


“Ada di dalam kamar ibu lagi beresin barang-barang. Vian... sini nak, kakakmu pulang ”


“Mas Anggara udah pulang?” jawabnya dengan setengah berteriak


“Iya nak. Sini cepetan, banyak makanan nih.”


“Mana..?” Alvian lari ke ruang tamu. “Mana mas Anggara bu?”


“Lagi ke kamar mandi.”


Alvian segera mencomot roti bolen pesanan ibunya. Sudah lama bu Euis tidak merasakan makanan kesukaanya. Semenjak keuangannya menurun, ibu dua orang anak yang tampan-tampan itu lebih mementingkan membeli kebutuhan pokok.


Begitu kembali ke ruang tamu. Anggara mengambil minuman yang tadi sore dibelinya di kedai kopi Stasiun Gambir. Ia menyodorkannya ke mulut ibunya. Bu Euis menyeruput. Merasakan nikmatnya minuman mahal yang dibeli anaknya.


Anggara mengeluarkan sejumlah uang untuk ibunya dan Alvian.


“Aku udah dapet kontrakan bu.”


“Dimana Anggara?”


“Ngga jauh bu. Yang penting kita pindah dari sini," ucap Anggara dengan tegas


“Iya ibu terserah kamu aja. Yang penting rumah itu nyaman untuk kita tinggali.”


*


Malam ini menjadi malam yang indah bagiku. Mengantongi uang dan memainkan handphone baruku. Alvian belum mengetahuinya. Aku duduk di balkon depan kamar di lantai atas. Di bawah sinar rembulan yang memancarkan sinar terangnya. Rumah kontrakan ini sebentar lagi akan kami tinggalkan. Sekitar dua belas tahun lalu kami pindah ke sini. Kala itu masih bersama ayahku yang seorang warga negara asing. Aku masih berusia sepuluh tahun dan Alvian berusia empat tahun.


Hidup berjalan sesuai apa yang kami mau. Segala kebutuhan terpenuhi. Kami menjadi pusat perhatian ketika pindah ke rumah ini. Ayahku yang seorang warga negara asing dan aku serta Alvian yang berwajah indo memancing rasa penasaran tetangga-tetangga datang ke rumah hanya sekedar ngobrol atau bertanya asal usul kami.


Awalnya bikin kami jengah. Tapi lama kelamaan jadi hal yang biasa. Dan lama kelamaan mereka bosan sendiri dengan keberadaan kami.


Aku masih duduk di sini. Masih memandang ke langit. Memandang kerlap kerlip bintang bertebaran di angkasa yang luasnya tidak akan ada yang sanggup menjelajahi. Memandang rembulan yang cahayanya semakin malam semakin terang.


“Mas..” tiba-tiba Alvian sudah berdiri di dekat kursi tempatku duduk.


Lihat selengkapnya