TULUS

hadi wiyono
Chapter #4

LOVE AT FIRST SIGHT

BAB 4


Aku lupa kalau ini weekend, suasananya sangat ramai di mall. Semakin malam, mall in semakin terdengar riuh rentak suara bergemuruh dari pengunjung. Hampir semua tempat makan di lantai dasar ini sudah dipenuhi pengunjung yang ingin makan malam bersama orang terkasih.


Kira-kira masih ada meja kosong ngga ya di restauran yang aku mau. Kugandeng tangan ibu menyusuri lantai dasar mall ini yang dipenuhi restauran-restauran cepat saji. Ada supermarket besar yang merupakan bagian dari bisnis salah satu bos media.


Aku terus menggandeng tangan ibu dan diikuti Alvian dari belakang. Kami naik ekskalator menuju lantai satu. Berjalan pelan berpapasan dengan pengunjung lainnya. Kami sudah ada di depan restauran makanan Indonesia sesuai permintaan ibu.


Kutanya pada salah satu stafnya yang berdiri di standing table yang menjaga menu.


“Mba ada meja kosong?”


“Untuk berapa orang kak?”


“Tiga orang.”


“Kebetulan ada, kak. Tapi di luar sini.”


“Ngga papa, mba.”


Kami masih dapat tempat duduk di sisi luar. Table makan sisi luar dan sisi dalam di pisah dengan sisi pengguna jalan di dalam mall. Pramusaji memberikan buku menunya. Kami buka lembar demi lembar mencari makanan dan minuman yang kami mau. Ibu dan Alvian kebingungan mau pesan apa. Karena ini pertama kalinya mereka makan di tempat seperti ini.


Aku berinisiatif untuk memilih duluan.


“Mba saya nasi kuning komplit ya. Minumannya ice lychee tea sama mineral water. Ibu sama Alvian mau pesen apa?”


“Ibu pengen cobain satenya. Minumnya sama kaya kamu aja.”


Pramusaji mencatat pesanan aku dan ibu.


“Alvian, mau pesen apa?”


“Samain mas aja.”


“Mba pesenan adik saya samain dengan saya tambah satu porsi lagi satenya aja ”


“Baik kak. Mohon ditunggu ya.”


Sambil menunggu pesanan kami. Ibu meminta izin menjual kue-kue lagi seperti di tempat tinggal kami sebelumnya. Aku tidak keberatan. Tapi aku tanya sama ibu, bagaimana caranya berjualan dan dimana. Ibu mengatakan ingin berjualan di depan mesjid. Kalau pagi banyak yang berjualan di sana.


“Ibu ngga mau diem aja Anggara. Ibu masih mau beraktivitas.”


“Iya bu ngga papa. Yang penting halal. Nanti aku kasih uang buat modal ya bu.” Yang penting halal. Itulah kata-kataku buat ibu yang ingin berjualan kue di depan gang. Padahal uang yang kudapatkan sama sekali tidak halal. Kuhela napas pelan-pelan. Berharap secepatnya aku bisa keluar dari dunia hitam ini.


“Uang yang kamu kasih kemarin cukup kok nak. Nanti aja kalo ibu butuh minta kamu.”


Aku tidak mungkin menolak kemauan ibu. Beliau adalah sosok yang aku banggakan saat ini. Sosok single parent yang tegar dengan takdirnya. Aku tahu ibu berpura-pura tegar di depan kami. Tapi aku sering memergoki ibu menangis diam-diam. Di belakang kami. Air matanya selalu dihapus ketika sudah berkumpul bersama kami. Ibu selalu berakting seolah kehidupannya baik-baik saja. Mungkin ini salah satu cara ibu tidak mau membebani semua masalahnya ke kami.


“Gimana bu. Enak ngga?” tanyaku ketika makanan yang kami pesan sudah terhidang semua di meja kami. Dan setelah ibu mencicipi makanan yang dipesanya.


“Ibu mah lebih suka sate gerobak yang di bakar pakai arang heeheh. Tapi makasih ya Anggara, ini juga enak ko. Lebih sehat.”


Aku tertawa mendengar reaksi ibu. Polos sekali. Menawari ibu dan Alvian untuk memesan lagi. Tapi mereka dengan kompaknya tidak mau. Sudah kenyang alasannya. Padahal aku tahu bukan itu alasan sesungguhnya. Mereka tidak mau uangku habis hanya demi menyenangkan semuanya.


Sekitar setengah jam kami bercengkerama di meja tempat kami makan. Aku sudah melahap semua makanan. Hanya sebotol air mineral yang tersisa. Ibu dan Alvian masih menghabiskan makanannya. Dengan liarnya, mataku melihat sekeliling. Kali aja ada yang bisa kujadikan pelanggan.


Berputar-putar tidak ada yang ngangkut. Akhirnya mataku terhenti pada sosok gadis cantik berhijap yang kemarin menolong ibuku dengan payungnya. Dia menganggukan kepalanya dengan lembut sambil menatap dengan senyuman manisnya. Aku balas mengangguknya. Dengan senyuman andalanku yaitu bibir melebar tanpa memperlihatkan gigi-gigiku yang rapih. Sedang kumainkan peran profesionalku seakan-akan ingin menggaet pelanggan baru.


Tapi justru aku yang salah tingkah karena tersadar kalau gadis yang duduk di restauran sebelah bukanlah pelanggan baru yang kucari. Ayolah Anggara dia itu gadis yang mempesonamu kemarin bukan korbanmu selanjutnya.


Salah tingkah ini membuat gadis itu juga salah mengartikannya. Dia berpikir aku salah tingkah karena beradu pandang denganya. Tapi tunggu dulu. Gadis itu tersenyum terus padaku. Senyum itu luar biasa, mampu meruntuhkan tembok keras di hatiku. Benar-benar terpesona aku dibuatnya.


Kucuri sesekali pandangan ke arahnya. Dia pun melakukan yang sama. Ya Tuhan apa ini. Kenapa keadaanya menjadi seperti ini. Aku tidak ingin jatuh cinta pada gadis seperti itu. Dia pasti gadis baik-baik. Dia pasti gadis yang paham ilmu agama. Dia pasti gadis dari keluarga terhormat. Dia pasti gadis yang ingin dipersunting para ustad-ustad yang sedang mencari pendamping hidup.


Sementara aku ini...

Lihat selengkapnya