TULUS

hadi wiyono
Chapter #5

RASA



BAB 5


Eerrgghh.


Aku menarik kuat-kuat kedua tangan ke atas dan kedua kaki ke bawah dan dibarengi dengan erangan. Ngulet. Nikmat sekali. Duduk di pinggir kasur tanpa tempat tidur dan bengong adalah hal yang menjadi favoritku. Butuh waktu untuk menyatukan nyawa dengan raga ini.


Rasa sakit di badanku makin menjadi. Sepulang kuliah nanti aku akan urut di tempat biasa. Mudah-mudahan terapis yang menjadi langgananku tidak sedang menangani pelanggan lainnya.


Dengan membawa handuk dan pakaian ganti serta mencangklong tas, aku turun ke lantai bawah dimana ibu sedang menyiapkan sarapan untukku. Kulihat ia sedang menggoreng nasi.


“Kamu sudah bangun Anggara?”


“Iya bu. Sakit banget badan aku.”


“Iya sekarang mandi dulu. Ibu sudah siapkan air hangat. Habis itu sarapan dan minum suplemenya,” ucap ibu sambil menunjukan sepiring nasi goreng teri dan satu strip suplemen.


“Vian mana bu?”


“Sudah berangkat. Mungkin sudah sampai di sekolahnya.”


Aku masuk ke kamar mandi dengan tubuh yang lemas. Sudah ada seember air hangat di dalam. Aku guyur kepalaku, segayung demi segayung. Terasa sekali hangatnya. Pegal-pegal di tubuhku sedikit terobati.


Selesai mandi kusantap nasi goreng teri di meja makan. Tak lupa kuminum suplemen yang sudah disiapkan ibu. Berharap suplemen ini membantuku menghilangkan pegal-pegal.


“Nambah nak.”


“Ngga bu. Ibu udah sarapan?”


“Iya sebentar lagi ibu sarapan.”


Ibu menulis catatan di sebuah buku kecil yang kemarin dibeli di supermarket. Daftar bahan-bahan makanan yang akan dipersiapkannya untuk membuat kue. Aku hanya memperhatikanya saja.


“Ibu barusan dari mana?”


“Ibu lihat tempat orang-orang jualan nak. Ada tempat kosong di samping penjual nasi uduk.”


“Ya sudah bu. Kapan ibu mau belanja bahan-bahanya?. Nanti aku anterin.”


“Ngga usah nak. Ibu ada yang mau anterin nanti siang.”


“Siapa bu?, ibu sudah kenal orang-orang sini?”


“Belum semua. Tadi baru kenalan dengan yang tinggal di gang ini ”


“Trus.. yang mau anterin ibu siapa?”


“Nadia," jawab ibu dengan senyum menggoda


Aku terdiam. Menunduk melihat nasi goreng yang baru setengah kumakan. Mengaduk-aduknya. Menyembunyikan wajahku yang memerah kala mendengar namanya.


“Tadi dia nanyain kamu loh.”


“Apasih bu. Kita baru dua hari pindah kesini.”


“Lah ibukan cuma ngasih tahu aja.”


“Ibu jawab apa?”


“Penasaran ya?”


Aku cemberut menanggapi jawaban ibu. Sangat mirip Alvian kalo lagi bercanda. Mereka memang mirip sekali. Tidak seperti aku, semua sifatku mirip sekali dengan papa. Pendiam. Tertutup. Yang kadang aku sendiri tidak mau dimirip-miripin.


Segitu tidak sukanya aku pada papa. Karena dialah, aku harus menggantikan posisinya. Menafkahi keluarga. Bukan karena aku tidak ikhlas menjalaninya. Tetapi karena aku tidak mendapatkan pekerjaan yang baik, jadi aku harus mengambil pekerjaan yang tidak baik.


Aku tidak pernah menyesali takdir hidup yang sedang kujalani. Aku hanya menyesal sedang berada di tempat yang salah.


Ojek online yang ku order sudah datang dan menunggu di depan mesjid depan gang. Aku bergegas mengencangkan tali sepatu adidas yang kemarin kubeli dengan uang tip yang besar. Kulihat ibu masih mencatat bahan-bahan yang akan dibelinya untuk berjualan besok pagi.


“Bu aku berangkat ya,” pamitku sambil mencium tangan ibu. Aku memohon doanya agar kegiatan hari ini lancar tanpa hambatan.


“Iya nak. Hati-hati ya,” jawabnya setengah berteriak karena aku sudah beranjak dari hadapan ibu setelah mencium punggung tangannya.


Aku berlari kecil keluar rumah. Melewati rumah-rumah petakan di sepanjang gang kecil. Kulihat kanan kiri rumah-rumah di gang ini. Siapa tahu ada tetangga yang keluar dan aku bisa menyapanya. Sifat cuek pada tetangga akan kuhilangkan sedikit demi sedikit.

Lihat selengkapnya