BAB 6
Luna ....
Dari mana dia tahu rumahku di sini. Kenapa dia bisa menemukanku. Ah, sial.
“Mbak Luna?”
“Iya ini aku, Anggara. Boleh masuk ngga?”
Aku benar-benar terkesiap melihat wanita yang minggu kemarin memakai jasaku sudah berdiri di depan rumah kontrakanku yang baru. Dari mana dia tahu? Aku juga tidak mungkin menolak permintaanya. Nanti ibu dan Alvian bisa curiga.
“I-iya masuk aja," jawabku datar tak berekspresi. Aku memperlihatkan wajah tak enak padanya. Tapi wanita seperti ini bermental badak. Tidak mempunyai rasa malu.
“Mbak Luna tahu dari mana rumahku di sini?”
“Kan kamu sendiri yang bilang waktu di Bandung. Kamu ingat kan?”
Shit.
Padahal ketika ditanya kemarin aku hanya menjawab asal-asalan kalau tinggal di Mampang. Aku tidak mau kalau wanita ini tahu di mana tempat tinggalku sebenarnya saat ditanya. Dan dia menanggapinya dengan sunguh-sungguh.
“Mencari kamu di Mampang ini gampang. Aku jelaskan saja ciri-ciri kamu. Langsung ketemu.”
Baru dua hari aku pindah ke Mampang. Dan dua hari ini aku sibuk, belum melihat-lihat sekitaran tempat tinggalku. Tapi mengapa banyak orang mengenalku. Benar kata Luna, fisikku ini mudah dikenali orang.
“Siapa, Nak?”
Aku kaget tiba-tiba ibu sudah berdiri tidak jauh dari kami duduk.
“Eee in, Bu, ini ...."
“Saya Luna, Bu. Atasannya Anggara.”
“I-iya Luna ini supervisor aku, Bu.”
“Benar, Bu. Kita mau membicarakan acara di Bali.”
Anggukan ibu melegakanku. Paling tidak aku terselamatkan saat ini. Ibu celingak celinguk melihat keluar. Seperti tengah menantikan seseorang.
“Ibu cari siapa?”
“Mm ... nah itu dia.”
Ibu berjalan ke depan pintu dan menyambut seseorang.
“Sini masuk, Neng.”
Aku dan Luna menoleh ke arah seseorang yang ibu panggil neng. Nadia. Dia datang ke rumahku. Dengan penampilannya yang cantik seperti biasa. Dan dia senyum padaku. Dia memang bidadari surga yang dikirim ke bumi.
“Ehhem.”
Wanita cantik yang tidak tahu diri ini menggoyahkan kesilapanku atas kecantikan Nadia. Ibu mengajaknya masuk ke dapur. Ternyata Nadia yang ditunggu ibu dari tadi.
Nadia menatapku sambil berjalan masuk ke dalam. Nadia, tatapan mata kamu membuatku terbang ke angkasa. Kulihat bola matanya yang bening dengan warna coklat terang. Indah sekali ciptaan-Mu Tuhan. Harusnya ini menjadi kesempatanku untuk dekat dengannya. Tapi karena kedatangan Luna semuanya buyar. Tekadku mengobrol padanya lenyap. Keinginanku meminta nomor handphonenya juga hilang seketika.
Luna mengalihkan perhatianku dari Nadia. Ia memegangi pahaku. Dan langsung kutepis tangannya.
“Tolong jaga sikap, Mbak. Ibu dan adik saya ngga tau pekerjaan saya," ujarku menahan emosi.
Luna yang aku pelototin malah tertawa menggoda.
“Mbak tolong pulang. Saya mau belajar besok hari pertama saya kuliah.”
“Ngga ah aku mau di sini aja.”
Darahku naik ke ubun-ubun mendengar jawabanya. Ingin rasanya aku seret keluar wanita ini. Ah, sial memang. Kenapa kemarin aku sebut Mampang. Kenapa dari sekian banyaknya tempat yang aku sebut Mampang.
Aku dengar suara Nadia yang sedang berbincang dengan ibu dan Alvian. Mereka sedang membuat kue. Seharusnya aku ada di situ membantu ibu sambil sesekali melihatnya.
Nadia sesekali memundurkan tubuhnya dan melirikku. Aku melihatnya. Dan melihat tatapanya. Ada cemburu di situ.
“Itu yang di depan supervisornya Anggara di Event Organizer," ucap ibu seolah tahu kegelisahan gadis cantik berhijap itu.
“Ohh ...” jawab Nadia dengan salah tingkah.
“Tenang aja, Kak. Mas Anggara mah orangnya pendiem. Belum pernah punya cewek."
“Vian ...” tegur ibu pelan pada Alvian.
“Memangnya kamu sudah punya cewek?”
“Kalo aku yang mau banyak kak. Tapi aku yang ngga mau."