TULUS

hadi wiyono
Chapter #7

KEDATANGAN TAMU TAK DIUNDANG

BAB 7


“Tenang nak. Nanti ibu cari tahu. Kamu mandi dulu, siap-siap kuliah."


Kuikuti kata-kata ibu. Aku memang harus siap-siap. Pagi ini adalah jadwal kuliah dengan dosen killer. Jangan sampai telat, kalau tidak mau mendapatkan hukuman dari dosen itu. Tapi pikiran ini tidak bisa fokus. Sebelum tahu siapa yang dirawat di rumah sakit.


Dinginnya air tidak menyurutkanku untuk segera menyelesaikan ritual pagi ini. Mandi. Aku memang harus secepatnya sampai kampus. Menyelesaikan studyku yang hanya menyisakan setahun lagi masa kuliah. Aku tidak mau disebut mahasiswa abadi. Dan begitu selesai kuliah aku akan mencari pekerjaan. Apapun itu yang penting bisa lepas dari pekerjaanku saat ini.


Mencari pekerjaan yang lebih baik. Setelah kenal Nadia kan?.. ledek makhluk baik yang bersemayam di raga ini.


Di meja dapur sudah tersedia nasi uduk dengan toping-topingnya. Ibu memang mengerti apa yang kumau. Semalam aku tidak makan jadi pagi ini perutku terasa perih sekali. Kusantap dengan lahap nasi uduk ini sendirian. Aku tidah tahu ibu kemana sekarang. Mungkin mencari tau siapa yang dirawat.


Ya, i hope so.


Kulihat handphone. Ada notifikasi pesan masuk. Setelah kulihat dari layar homescreen, ternyata Luna. Dia menyapaku dengan emot wajah kuning bermata love. Mau apa lagi dia. Jangan sampai dia terobsesi padaku. Sangat bahaya kalau dia sampai seperti itu. Dan dia sudah tahu tempat tinggalku.


Kuhabiskan nasi udukku. Lalu mencuci piringnya. Ibu datang dengan menenteng nasi uduk lagi.


“Ibu belum sarapan?”


“Belum nak. Tadinya ngga pengen sarapan. Tapi ibu laper.”


“Ya harus sarapan bu. Sekarang ibu udah jualan. Jangan sampe kosong perutnya.”


Sambil membuka bungkusan nasi uduk, ibu bercerita kalau yang dirawat di rumah sakit itu ibunya Nadia.


“Katanya mpok Odah tensinya tinggi. Jadi sempet ngga sadar.”


Sukurlah bukan nadia, meskipun ibunya yang sakit. Tapi sedikit lega di dadaku. Dan ibu mengatakan ibunya Nadia dirawat di rumah sakit di daerah buncit, tidak jauh dari kediamannya di mampang. Mungkin malamnya aku bisa menjengut sekalian kubawa buah-buahan.


*


Nadia dengan sabar menyuapi ibunya yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit ruang VIP. Tangannya yang berkulit putih begitu lembut memasukkan bubur dengan lauknya yang telah disediakan. Sementara ayahnya berdiri di sisi ranjang memperhatikan wajah pucat sang istri. Ryan duduk di tepi ranjang seraya memijat kaki ibunya. Sementara Mustafa berada di bagian administrasi untuk menyelesaikan proses payment ruang VIP.


Sesuap demi sesuap di masukan pelan-pelan ke mulut ibunya. Nadia memang seorang gadis yang begitu menyayangi kedua orang tuanya. Dia akan mengesampingkan kepentingan yang lain demi orang tuanya.


“Dihabisin ya mah. Biar cepet sembuh ”


“Ngga enak sayang buburnya.”


“Bukan ngga enak mah. Itu buburnya memang ngga dipakein garem. Biar turun tensi mamah,” jawab Ryan memberi pengertian pada mamahnya


“Iya mah, makanannya diabisin ya. Biar cepet pulang,” pak Surya membujuk istrinya agar menghabiskan makanan yang sudah melewati kontrol dari dokter gizi rumah sakit.


Beberapa menit kemudian dokter yang memeriksa bu Indah masuk dan kembali memasangkan alat pengukur tekanan darah di lengannya. Tangan kanan dokter itu memompa alat yang dipasangkan di lengan bu Indah. Semenit kemudian dilepaskannya.


“Tekanan darahnya masih tinggi. Tapi tidak setinggi tadi pagi. Jadi bu Indah di rawat di rumah saja. yang penting jangan lupa minum obatnya.”


“Baik dok. Terima kasih," ucap Ryan


“Alhamdulillah. Mamah ngga perlu dirawat," tukas Nadia sambil mencium mamahnya.


Mustafa masuk ke ruang rawat VIP membawa sarapan. Dari sebelum subuh mereka belum mengisi perutnya.


Nadia teringat hari ini bu Euis mulai berjualan di depan mesjid. Rasanya ia ingin meneleponnya, memastikan semua baik-baik saja.


Tapi tunggu dulu, kenapa aku jadi begitu peduli pada bu Euis. Apa karena Anggara. Gumamnya. Berawal dari rasa simpati pada keluarga bu Euis ketika mereka pindahan pertama kali ke dekat rumahnya. Dua hari lalu Nadia mengintip dari dalam rumahnya, beberapa orang yang sedang mengangkat barang-barang dari mobil bak terbuka yang terparkir di depan mesjid.


Saat itu dia melihat seorang ibu bersama dua anak laki-lakinya yang berperawakan campuran, dan dua orang yang membantu mereka. Nadia tidak melihat kepala keluarga dari orang yang baru pindah itu. Wajah kedua anak laki-laki itu menyita perhatian orang-orang di sekitarnya termasuk dirinya. Tapi Nadia hanya memperhatikannya dari dalam saja. Ia tidak berniat keluar untuk sekedar menyapa keluarga yang baru pindah itu.


Lihat selengkapnya