TULUS

hadi wiyono
Chapter #8

BERTEMU KELUARGANYA

BAB 8


Sambil cengar cengir aku berdiri dengan muka memerah menahan rasa malu. Nadia masih melongo menyaksikan gelagat anehku. Anak-anak pengajian juga ikut terbengong-bengong melihat kebodohanku. Beberapa warga yang sedang duduk-duduk di luar gerbang mesjid berdatangan. Ingin melihat kekacauan kecil yang aku timbulkan sore ini.


Mengumpulnya warga membuat aku malu dan tidak enak hati. Terutama pada Nadia. Lantas aku minta maaf padanya. Juga pada jamaah mesjid. Papan ini akan aku ganti. Aku yang sedang mengirit harus mengeluarkan biaya untuk hal-hal darurat seperti ini.


“Ee saya minta maaf. Tadi saya kepeleset trus nabrak papan ini,” ucapku penuh penyesalan


“Kepeleset mas? emang karpetnya licin ya,” ujar salah seorang warga yang ada disitu sambil mengusap-usap karpet yang kutunjuk dengan kakinya. Karpet ini hanya jadi alasanku saja.


Nadia menahan tawa dengan tangan kanannya melihat aku panik dalam menjawab pertanyaan warga di mesjid ini. Duh Anggara, kamu memang bodoh. Tidak hati-hati. Segitu candunya sama gadis cantik ini jadi melupakan kewaspadaan kamu. Ruhku pun protes.


Aku hanya memaksakan senyum dan kali ini memperlihatkan gigi-gigiku. Dan aku lihat Nadia tertegun dengan senyum sejuta dolarku.


Kena kan kamu Nadia. Pesonaku memang mampu meruntuhkan keimanan seseorang.


Aku mengumpulkan papan yang hancur itu dan memindahkannya keluar mesjid. Sisa-sisa serpihan kayu yang masih berserakan aku bersihkan. Nadia masih saja senyum-senyum melihatku gemetaran. Aku memang lebih grogi kalau dihadapkan dengan kejadian spontan dari pada menghadapi client-client yang haus sex.


“Udah ngga usah gemeteran gitu. Sini aku yang nyapuin. Kamu yang angkutin keluar," ujar Nadia setelah warga yang berada di dalam mesjid keluar semuanya. Dan kembali duduk-duduk di depan gerbang.


Akhirnya... ada kesempatanku berbicara padanya. Menanyakan sejak kapan menjadi guru ngaji. Dan tentunya menanyakan kabar ibunya.


“Ibu kamu sudah sehat?”


“Loh, tau dari mana ibu sakit?”


“Dari ibu ”


“Oohh.. sudah di bawa pulang. Makanya aku bisa ngajar ngaji.”


“Memangnya ibu sakit apa?” tanyaku lagi


“Hipertensi,” jawabnya singkat tanpa melihatku karena masih terus membersihkan karpet


Lalu sunyi. Kami sibuk membersihkan karpet yang kotor. Anak-anak pun berinisiatif mengaji sendiri. Aku dan Nadia terus membereskan sisa-sisa serbuk kayu yang masih menempel di karpet. Kami mencomotinya dengan jari-jari kami dan mengumpulkanya di kantung plastik.


“Kamu sejak kapan ngajar ngaji disini?”


“Udah lama. Kira-kira tiga tahunan ”


Kami diam kembali. Menikmati desir semilir angin dari luar yang seakan menjadi penengah dari rasa canggung yang belum mau pergi. Indah sekali cipataanMu Tuhan. Berkali-kali kata itu yang terus kuucapkan dalam hati tapi tidak bisa kuungkapkan dalam kata. Jilbab dan bajunya melambai-lambai tertiup angin. Seolah ingin mengatakan. Menarilah denganku. Aku akan dengan senang hati menyambutmu.


Lebih baik kubuang patahan-patahan kayu yang tadi kuletakan di luar ke dalam tong sampah besar. Lebih baik begitu dari pada terus-terusan kutatap wajahnya yang setiap kali kutatap semakin sulit kuabaikan. Aku lalu berbicara pada pengurus mesjid mengenai pergantian papan kayu tersebut. Dan pengurus mesjid memberikan keringanan pergantian hanya separuhnya saja. Sisanya dari uang kas mesjid.


Aku bersukur diberikan kemudahan ini. Tuhan memang sangat baik hanya aku saja yang terus mengkhianatinya. Menduakannya dengan dosa-dosa yang aku tidak tahu sudah sebesar apa.


Kuambil tas yang kuletakan di dekat anak-anak yang masih mengaji. Aku mengucapkan permohonan maaf sekali lagi pada Nadia karena telah mengganggu aktivitasnya sebagai guru ngaji. Kemudian aku pamit pulang. Menunduk masih menahan rasa malu dan berjalan keluar mesjid. Tersungging senyum di sudut bibirnya. Manis sekali. Dia memang sosok gadis idaman. Cantik. Baik. Dan sangat lembut.


Aahhh..


Kenapa mulut ini jadi kaku. Padahal sudah kupersiapkan dari semalam kata-kata apa yang hendak kuucapkan. Tapi nyatanya semua gagal karena tingkahku yang konyol, seperti anak sekolah yang sedang mencari tahu gadis incarannya. Seperti anak sekolah yang sedang dilanda kasmaran. Tidak terkontrol. Dan aku belum mendapatkan nomor handphonenya.


Sepatu telah kukenakan dengan talinya yang kubiarkan terombang-ambing dan terseret-seret di tanah. Aku mengucapkan kata “permisi” pada beberapa warga yang masih betah duduk-duduk di depan gerbang mesjid.


Lihat selengkapnya