TULUS

hadi wiyono
Chapter #9

MENDEKAT

BAB 9


Aku selesai membersihkan diriku setelah melakukan tugas melayani seorang wanita yang untuk kedua kalinya memakai jasaku untuk memuaskan hasratnya. Wanita ini tidak memiliki suami, tapi dia memiliki jabatan penting di sebuah bank besar. Aku pun bertanya-tanya mengenai lowongan pekerjaan apa saja yang tersedia di sana. Senangnya aku mendapatkan kartu namanya. Jika sudah selesai kuliah dan kebetulan ada lowongan pekerjaan bisa melamar di tempatnya. Aku anggap ini sebagai sedikitnya efek positif pekerjaanku. Walalupun dampak negatifnya jauh lebih banyak. Dan pelangganku memberikan sejumlah uang. Lumayan. Pikirku. Hanya tiga puluh menit saja aku sudah dapat sebesar ini. Tampilan fisikku memang menjadi daya tarik bagi mereka yang memiliki kelebihan uang dan ingin memuaskan kebutuhan bilogisnya.


Setelah uang kuterima, aku keluar kamar hotel terlebih dahulu. Seperti biasa aku menggunakan kacamata hitam dan masker. Aku tidak mau dikenali oleh orang lain atau pelanggan yang lain. Kulihat jam di tangan kananku. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Mungkin ibu sudah tertidur karena akan bangun di jam tiga pagi untuk memasak kue-kuenya. Kalau Alvian pasti akan menunggu sampai aku pulang.


Mampir di sebuah kafe membeli minuman dan roti untuk ibu dan Alvian. Kulihat hanya ada beberapa pengunjung saja. Padahal jam tutup kafe ini sampai pukul nol nol. Biasanya suasana kafe, semakin malam akan semakin ramai. Mungkin karena ini weekday. Pikirku.


Aku putuskan duduk sebentar meminum kopi yang sudah selesai di buat oleh pegawainya di meja bar. Tempat yang kududuki tidak terlalu jauh dari tempat order di kafe ini. Kuhirup pelan-pelan kopi yang masih panas sambil kucelupkan roti tanpa isi ke dalamnya. Nikmat sekali. Rata-rata mereka yang kelebihan uang menghabiskan hari yang penat dengan duduk lama di depan laptop menunggu jalananan sedikit lengang.


Lamunanku mulai menghipnotis dan menguasai alam bawah sadarku yang terus memikirkan sosok gadis cantik berhijab itu. Mengingat kembali kejadian sehabis maghrib tadi. Sedingin itu sikap mereka pada aku dan ibu. Setidak welcome itu atas kedatangan kami menjenguk bu Indah. Padahal niat kami hanya ingin menjenguk sekalian berkenalan karena kami warga baru di sini. Aku hanya ingin membalas kebaikan Nadia karena telah membantu ibuku.


Apa memang sikap keluarga mereka seperti itu kecuali bu Indah dan Nadia. Kalau benar sikapnya seperti itu, pantas sekali tidak ada satu pun tetangga yang mau menjenguk ketika ada salah seorang anggota keluarganya yang sedang tidak sehat. Hanya aku dan ibu saja.


Disaat lamunan terus menggerayangi tubuhku untuk tetap duduk membeku melihat sebuah gelas yang terbuat dari kertas premium berisi hot chocolate yang mulai menghangat. Tiba-tiba dari arah belakang pundakku di tepuk seseorang. Spontan aku menoleh. Nadia. Ruhku seakan ingin melompat keluar saking terkejutnya. Sedang apa dia di kafe ini.


“Kamu sendirian?”


“I-iya a-aku sendirian,” jawabku terbata dengan napas tak beraturan


“Aku boleh duduk di sini ngga?”


“I-iya silahkan."


Dia yang kusuka diam-diam itu sedang duduk manis di depanku.


“Kamu sedang menunggu seseorang?”


“Ngga, aku.. ini beli ini.. untuk ibu sama Alvian.” Kutunjukkan dua gelas minuman dan satu kantung kertas berisi roti. “Kamu mau minum apa?” tanyaku terlambat menawarkan


“Ngga usah,” jawabnya singkat. Apa yang ada di pikirannya hingga wajahnya terlihat galau seperti itu. “Kamu dari mana malam-malam begini?” tanyaku mencoba mencairkan suasana.


“Aku dari hotel di depan situ. Mengantar dosen tamu yang mau jadi pembicara di kampusku. Kebetulan aku terlibat untuk event ini.”


HAH? hotel di depan. Tempatku tadi bersama seorang wanita. Jangan-jangan dia melihatku masuk ke salah satu kamar.


Duh..


Jangan-jangan ini yang membuat dia kepikiran begini. Aku terdiam. Memalingkan wajahku darinya. Tidak berani membalas tatapannya.


“Itu minumannya keburu dingin,” ujarnya dengan menunjuk dua minuman takeaway yang aku beli untuk ibu dan Alvian.


“Iya aku mau pulang. Kamu masih mau di sini?’


“Aku juga mau pulang.”


“Mau bareng atau pulang sendiri?” bodohnya aku bertanya seperti itu. Harusnya langsung aku ajak pulang bareng naik kendaraan yang sama. “Pulang bareng aja,” akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutku. Dan Nadia mengangguk menerima ajakanku.


Taksi yang kuorder datang tidak lama setelah aku memesannya. Kubuka pintu dan kupersilahkan Nadia masuk terlebih dahulu, aku menyusul dan duduk di sampingnya. Sepanjang jalan kami lewati tanpa percakapan, hanya beberapa kata yang keluar dari mulutku dan Nadia. Sekali lagi aku belum bisa menaklukan sifatku untuk berbicara banyak pada orang yang baru kukenal. Apalagi pada orang yang membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama.


Kami turun di depan mesjid seberang rumah Nadia. Taksi online yang kami naiki sudah memutar balik dan keluar gang besar menyatu dengan beberapa kendaraan lainnya di jalan raya.


“Anggara, salam ya buat ibu.”


“Iya Nadia nanti aku salamin sama ibu. Aku juga titip salam ke mamah kamu. Semoga semakin membaik kesehatannya.”


“Aamiin.”


Percakapanku yang hanya berbalas titip salam saja berhenti ketika gerbang rumah Nadia terbuka. Aku dan Nadia melihat seorang pria berdandan sangat rapi memakai suit dipadu dengan t-shirt polos berwarna putih dengan driver shoes hitam berbahan suede tengah berbincang bersama kedua kakak laki-laki Nadia. Sementara kedua orang tua Nadia juga tengah mengobrol santai dengan sepasang pria wanita paruh baya dengan gayanya yang high class.

Lihat selengkapnya