BAB 10
Kulihat seorang wanita cantik memakai hijab melebarkan senyumannya begitu aku membuka pintu. Aku sempat terperangah, bukan karena melihat kecantikannya. Tapi karena aku sempat tidak mengenalinya. Setelah kuperhatikan baik-baik, ternyata dia Luna.
Mau apalagi sih dia kesini. Memakai hijab lagi. Dan dalam rangka apa dia memakai hijab. Apa karena waktu datang pertama kali dia melihat Nadia mengenakan hijab, hingga dia mengikutinya. Mencoba menjadi Nadia. Kalau Nadia, aku begitu terkagum dengannya. Tapi ini seorang Luna, dia hanyalah satu dari sekian banyaknya wanita yang memakai jasaku. Hanya itu.
“Ada apa ya mbak?” aku bertanya dengan wajah yang tidak kusuka
“Aku mau masuk boleh kan?” jawabnya dengan melangkah maju dan mencoba mendorongku
“Maaf mbak aku mau berangkat kuliah. Di rumah tidak ada siapa-siapa.”
“Itu aku lihat ada ibumu," ucapnya seraya menunjuk ke belakang.
Aku membalikkan badan dan kulihat ibu berdiri melihat kami dari depan meja makan. Aku terkesiap. Pintu kututup perlahan agar ibu tidak mengenali siapa wanita ini. Dia berbeda penampilan dari kedatangannya yang pertama.
“Ibu mau istirahat. Mohon maaf mbak. Tolong pergi dari sini,”q ucapku tegas
“Kenapa kamu....”
“Denger ya mbak, hubungan saya dengan mbak Luna hanya sebatas penjual jasa dan client. Jadi mohon maaf saya tidak bisa dekat-dekat dengan client. Semua saya anggap sama aja,"! kupotong saja langsung omongannya biar ia tidak panjang lebar.
Aku dan clientku hanyalah sebatas hubungan kerja saja. Aku menganggap semuanya sama, tidak ada yang kuistimewakan. Dan aku tidak mau terjebak pada cinta sesaat dengan clientku. Atau bahkan hubungan lebih jauh.
“Kalo mbak ngga suka dengan omonganku. Akan aku kembalikan uang tiket ke Bali."
“Oh ngga. Kamu ngga perlu kembalikan uang tiketnya. Kamu tetap harus datang.”
Rupanya Luna tidak mau kehilangan kesempatan bersama denganku. Ya dia sudah membookingku di weekend besok. Dan aku pun berpikir hanya satu malam menemaninya. Aku memiliki ide untuk dia agar tidak membuang waktuku
“Oke, kalau gitu aku minta uang dp dua kali lipat dari bayaranku terakhir. Itu hanya dp saja. Berarti enam puluh juta. Sisanya enam puluh juta dibayar nanti di Bali.”
Ini berarti aku minta empat kali lipat dari bayaranku terakhir dengannya. Dan aku berharap ia tidak jadi membookingku dan setuju dengan uang tiket yang akan kukembalikan.
“Oke, ngga masalah. Nanti aku transfer."
Sial. Aku pikir dia akan gentar dengan permintaan bayaranku. Tapi ternyata justru sebaliknya.
“Aku tunggu ya di Bali,” ucapnya kembali sambil berusaha memegang alat vitalku. Dan dia terbahak-bahak dengan kencangnya seraya pergi meninggalkan rumah kontrakanku. Beberapa orang tetanggaku mendongakan kepalanya melihat siapa yang tertawa seperti itu. Malah ada yang sampai keluar rumah.
Ya Tuhan, kenapa disaat aku suka dengan seorang gadis baik-baik ada client yang seperti ini. Dan disaat aku ingin menyatakan rasa cintaku padanya kenapa dia kembali lagi mendatangi rumahku. Apa dia sebenarnya tidak ingin ke rumahku tapi sedang memata-matai Nadia. Mencari tahu siapa Nadia. Dimana rumahnya. Bisa bahaya jika seperti ini. Bisa mengganggu hubungan yang belum sempat aku jalin dengan Nadia.
Di rumahnya, Nadia sedang memeriksa tekanan darah mamahnya dengan tensimeter yang dibeli kakaknya di rumah sakit ketika bu Indah terserang hipertensi.
“Nadia. Tadi ibu lihat kamu berbicara pada Anggara. Kalian akrab?”
Nadia bingung harus jawab apa. Kalau di tanya akrab, Nadia belum merasa akrab.
“Mmm Anggara ngajakin ketemuan mah,” ucapnya pelan
“Dia suka sama kamu?”
Nadia tidak menjawab. Hanya menunduk saja sambil melepaskan tensimeter dari lengan ibunya.
“Tensinya udah normal ya mah." Gadis itu mengalihkan pembicaraannya
“Kalau mamah perhatikan Anggara memang suka sama kamu. Dia terus memperhatikan kamu diam-diam di depan tadi. Dan mamah juga memperhatikan kalau kamu diam-diam juga mencuri pandang ke Anggara.”