TULUS

hadi wiyono
Chapter #11

BERJANJI

BAB 11


Aku pulang dengan membawa makanan untuk makan malam ibu dan Alvian. Kami berpisah di depan mulut gang kecil tepat di samping rumah Nadia. Aku berjanji pada Nadia hari minggu pekan depan akan datang ke rumahnya bersama ibu dan adikku. Memohon pada kedua orang tua serta dua kakak laki-lakinya.


Seperti biasa ibuku dan Alvian sedang duduk-duduk di teras rumah mmeminum teh dan memakan gorengan yang tidak habis sisa ibu jualan, menanti matahari menuju peraduanya. Langit berwarna jingga nampak sangat cerah tidak tertutup warna hitam sedikit pun. Pun sama dengan hatiku. Sangat cerah setelah lamaranku diterima Nadia. Tapi hanya satu yang menjadi ganjalanku. Sainganku bukan orang main-main. Pengusaha muda yang berhasil membangun usahanya. Dan lahir dari orang tua yang lebih dari berkecukupan. Dan yang pasti dia didukung oleh pak Surya dan kedua kakak laki-laki Nadia.


Aku bismillah saja. Jodoh sudah digariskan. Siapa jodoh kita sudah tertera di catatanNya. Aku tinggal ikuti sambil terus berusaha pada hati yang tengah ku damba. Berdoa melangitkan harapanku agar terkabulkan olehNya.


Ibu melihatku dengan senyuman menawanya begitu aku berdiri di depan beliau.


“Sukses?” tanya ibu


“Sukses bu,” jawabku


“Sukses tapi kok pulang-pulang cemberut," goda Alvian


Aku jitak pelan kepalanya yang ditumbuhi rambut hitam dan tebal itu. Adikku meringis kesakitan sambil memijat-mijat kepalanya. Segelas teh diberikan oleh ibuku yang ikut merasakan kebahagiaanya. Aku ikut duduk di teras meminum teh bersama ibu dan Alvian. Tradisi meminum teh di sore hari ini sudah biasa kami lakukan sejak kami kecil bersama bapak di kala dia masih tinggal di Jakarta.


“Aku mandi dulu bu. Lengket semua badan ku.”


Kuletakan makanan yang kubeli untuk kami makan malam di meja kecil berbetntuk bulat. Meja makan ini selalu kami gunakan setiap sarapan sebelum beraktivitas ketika bapakku yang mewarisi kebule-buleanku masih bersama kami.


Masuk ke kamar kubereskan beberapa pasang baju. Dan seperti biasa kumasukan ke dalam tas ransel yang selalu kupakai setiap pergi kuliah. Baju-baju ini akan aku bawa ke Bali. Melayani singa betina Luna. Ia memang pantas dipanggil singa betina. Selain karena agresif, wanita itu tidak puas hanya bermain sekali babak saja. Ia selalu meminta extra time.


Masih lima belas menit lagi waktu maghrib tiba. Aku masih punya waktu untuk menghilangkan lengket di kulitku. Menghilang bau yang mulai tercium tidak enak. Kubuka seluruh pakaianku, lalu aku keluar kamar hanya berbalut handuk saja. Di lantai dua ini juga terdapat kamar mandi yang llebih kecil dari kamar mandi di bawah.


Kulepas handuk yang menutupi bagian bawah tubuhku. Cepat-cepat kuguyur dengan gayung dari atas kepala sampai ke ujung kakiku. Segar sekali mandi sore ini. Sesegar pikiranku. Siulan demi siulan terdengar dari mulutku begitu aku keluar dari kamar mandi. Aku akan menjalani hari demi hari dengan semangat yang belum pernah kurasakan sebelumnya.


Azan maghrib berkumandang. Suaranya terdengar sangat menentramkan di telinga. Aku memamakai sarung dan baju koko yang dibelikan ibu setahun yang lalu. Tidak lupa peci putih sudah bertengger di kepalaku. Aku berjalan turun ke bawah.  Kulihat ibu juga sudah bersiap untuk melaksanakan solat maghrib sementara Alvian yang sedang duduk di lantai bersandar bantal besar di depan televisi.


“Vian ayo kita solat maghrib."


Alvian dan ibu melongo melihatku. Dan mereka membeku, tidak bergerak sama sekali. Entah peri dari hutan mana yang membuat mereka seperti itu. Aku geli sendiri manahan tawa dalam hati.


“Ada apa sih?” tanyaku penasaran. Alvian mengucek-ucek matanya memastikan yang berdiri di depannya adalah kakak tersayangnya.


“Mas, kesambet setan mana?” Dengan cepat kujitak kepalanya. “Ihh, sakit mas "


“Lagian ngeledek mulu. Ayo solat di mesjid," ucapku setengah memaksa. Aku membutuhkan teman untuk solat pertama di mesjid. Siapa lagi kalau bukan adikku yang menemani. Ibu hanya tersenyum sambil mengucap lirih “Alhamdulillah."


“Iya sebentar, aku ganti baju dulu mas. Mmm, semoga istiqomah ya mas.” Ujar Alvian tertawa berlari ke kemarnya yang terletak di atas, di sebelah kamarku. Sambil menahan emosi aku melotot kepada adikku. Benar-benar menjengkelkan dia.

Lihat selengkapnya