BAB 12
Solat subuh di mesjid menjadi pembuktianku untuk berusaha berubah menjadi lebih baik. Aku berjalan cepat dengan adikku menuju mesjid karena imam solat subuh sudah membacakan ayat-ayat suciNya. Selesai solat aku bersama ibu dan Alvian sudah menyiapkan alat-alat tempur untuk ibu berjualan di depan mesjid. Seperti biasa aku membawa meja lipat panjang dan Alvian membawa makanan yang terletak di dalam box besar. Sementara ibu membawa kue-kue yang bisa dijinjingnya sendiri dengan dua tas besar.
Aku segera membuka meja lipat. Mengelapnya. Dan mengatur nampan-nampan plastik. Ibu mengatur peletakan kue-kue di atas nampan. Jualan ibu sudah siap. Semua nampan sudah terisi penuh. Kantung kresek juga sudah disiapkan Alvian. Tinggal menunggu pembeli saja. Lantas ku suruh Alvian pulang dan bersiap untuk berangkat sekolah.
Hari ini hari jumat, aku tak lupa pada Luna yang telah membookingku. Biasanya setiap pagi dia sudah mengirimiku pesan dengan emot-emot love nya. Tapi kenapa pagi ini dia tidak menggangguku. Aku juga ingat dia belum membayar dp yang kuminta sebesar enam puluh juta. Kalau sampai jam dua siang dia belum mentransfer uang dp yang kuminta. Aku tidak akan datang ke Bali. Karena flightku sendiri jam enam sore. jadi aku sudah harus berada di Airport paling lambat jam empat sore. Dan otomatis aku harus berangkat dari rumah sekitar pukula dua lewat. Makanya kalau jam dua tidak ada transferan, itu berarti aku tidak berangkat. Dan itu menguntungkanku, karena bisa kujadikan alasan untuk Luna tidak mengangguku lagi.
Kulihat rumah Nadia sudah terang, sepertinya kehidupan di dalam sana sudah menyala. Aku yang sedang termenung menyaksikan rumahnya, dikejutkan tepukan ibu di lenganku.
“Eh, kena.., ya bu beli apa?” tanyaku gelagapan
“Ih mas pagi-pagi jangan bengong. Pamali. Nanti gantengnya luntur loh," ucapnya meledekku
“Ibu mau beli apa?” tanyaku dengan jantung nasih berdebar tak beraturan.
“Lontong sama tahu isinya ya mas bule.”
“Iya bu,"⁷ aku mengambil kue yang disebutkan ibu itu. Dia memanggilku bule. Aku tak mengapa, karena memang tampilanku lebih banyak bulenya dari pada pribumi. Aku sudah bida menerima dengan oanggilan itu, hanya saja panggilan bulke serung mengingatkanku pada orang yang kubenci saat ini. Dan ibu itu bukan orang pertama yang memanggilku dengan sebutan bule.
Kulihat pintu gerbang Nadia di geser ke arah kanan oleh pembantunya, membuka lebar-lebar. Dan movil SUV hitam keluar dari dalam. Aku tidak bisa melihatnya karena kaca hitam mobil tersebut menghalangiku. Siapa pagi-pagi begini sudah meninggalkan rumah itu. Aku tidak tahu itu mobil keluarganya atau bukan. Karena aku tidak pernah melihat mobil yang barusan keluar itu dimiliki keluarga pak Surya. Atau jangan-jangan itu mobil si Sam. Pria kaya itu menginap semalaman di rumah Nadia.
Ah, aku benci pikiranku ini.
*
“Nadia...” panggil seorang wanita sambil mengetuk pintu kamarnya yang masih terkunci. Dari semalam gadis itu sudah tidur selepas isya.
Diketuknya beberapa kali tapi tidak ada jawaban. Bu Indah tidak putus asa, dia terus mengetuk pintu tanpa jeda sekalipun. Setelah letih dan ingin menyudahinya, Nadia menyahutinya.
“Ya mah sebentar ”
Nadia membuka perlahan pintu di kamarnya. Menyapa ibunya yang sudah membangunkannya.
“Kamu sudah solat subuh?”
“Nadia tadi mau solat trus tau-tau haid mah.”
“Ya sudah kita sarapan. Mamah sudah siapkan di meja makan.”
“Aku lagi malas sarapan mah.”
“Kamu jangan kaya gitu Nadia, nanti sakit. Kamu tenang aja, papah sama kakak-kakakmu sudah pergi barusan." Bu Indah seolah tahu keresahan hati anak gadisnya.
Nadia tidak antusias menanyakan ke mamahnya kemana papah dan kedua anak kesayangannya itu pergi. Dia hanya menurutinya keluar kamar untuk sarapan bersama. Sebelum ke meja makan Nadia berjalan ke luar membuka pintu dan mendekati gerbang. Dia mengintip keluar, di lihatnya Anggara dan ibunya sedang melayani pembeli.
“Nad..” panggil mamahnya yang sudah berdiri di depan pintu rumah melihat Nadia sedang mengintip keluar melalui celah-celah pagar kayu. Rupanya bu Indah mengikuti anaknya yang begitu keluar kamar langusng menuju ke depan pinntu gerbang. “Ayo sarapan dulu," ajaknya. Nadia menghampiri mamahnya. Keduanya sarapan di teras rumah. “Nanti setelah sarapan kamu bisa menemani Anggara dan ibunya berjualan."