BAB 13
Nadia berdiri membungkuk. Mengguncang-guncang pelan tubuh Anggara dengan memegang bahunya dari depan. Beberapa kali dilakukanya hingga pemuda berbadan tegap itu tersadar dari lamunanya.
“E-e maaf, Nadia. Maaf,” jawabku terbata-bata setelah mampu menguasai keadaan. “Kamu bikin aku kaget aja,” ucap Nadia sambil bernapas dengan leganya.
“Aku akan tetap datang melamar kamu," ucapku setelah menguasai diri.
“Mereka mau datang akhir pekan esok," balas Nadia dengan cepat
“Aku datang hari rabu.”
Nadia lalu menatap mataku. “Kamu yakin?” tanyanya sedikit ragu namun penuh harap.
“Aku yakin,” jawabku dengan mantap.
Sekali lagi Nadia bisa bernapas dengan lega. Paling tidak dia bisa menunjukkan ke papah dan kakak-kakaknya kalau inilah yang dia mau. Nadia bisa menunjukkan ke mereka kalau dia tidak silau dengan harta yang melimpah. Nadia juga ingin menunjukkan kalau dia tidak ingin menikah tanpa cinta. Dan dia memiliki hak sendiri memilih calon suaminya. Dan menentukan masa depannya.
“Aku mau membeli barang-barang yang aku bawa nanti ke rumah kamu di Bali. Kamu mau nitip apa?” tanya Anggara
“Kamu ngga usah beli di Bali. Di jakarta aja. Lagian kamu ngga perlu bawa yang macem-macem,” saran Nadia dengan lembut.
“Aku pengen punya kesan yang baik begitu ngelamar kamu.”
Nadia mengangguk-angguk mendengar ucapanku. “Iya tapi ngga usah maksain ya. Lebih baik uangnya buat keperluan yang lebih penting aja," ujar Nadia bijak.
Tak lama kemudian ibu keluar dari kamar mandi yang letaknya di depan dapur. Suara sunyi ketika Anggara dan Nadia berbincang serius sempat terdengar di telinganya. Berdehem dua kali saat membuka pintu kamar mandinya, cukup membuat sepasang kekasih itu terdiam.
“Loh kok ngga dimakan kuenya, Neng,” tanya ibu basa basi
“Sudah, Bu.”
“Ya udah, Ibu ke kamar dulu ya. Mau istirahat. Ngantuk banget.
“Iya Ibu istirahat dulu aja.”
Aku dan Nadia masih terus melanjutkan pembicaraan serius kami. Mencari waktu yang tepat kapan aku datang ke rumahnya. Meskipun aku sudah menentukan akan datang di hari rabu, tapi Nadia mengingatkanku untuk punya plan B datang di hari lain. Karena ketidakpastian kapan papah bersama kedua kakak laki-lakinya ada di rumah.