TULUS

hadi wiyono
Chapter #13

TAMAK

BAB 13


Nadia berdiri membungkuk. Mengguncang-guncang pelan tubuh Anggara dengan memegang bahunya dari depan. Beberapa kali dilakukanya hingga pemuda berbadan tegap itu tersadar dari lamunanya.


“E, e.. maaf Nadia. Maaf,” jawabnya terbata-bata setelah mampu menguasai keadaan. “Kamu bikin aku kaget aja,” ucap Nadia sambil bernapas dengan leganya.


“Aku akan tetap datang melamar kamu," janji Anggara


“Mereka mau datang weekend minggu depan," balas Nadia dengan cepat


“Aku datang hari rabu.”


Nadia lalu menatap mata Anggara. “Kamu yakin?” tanyanya sedikit ragu namun penuh harap.


“Aku yakin,” jawab Anggara dengan mantap


Sekali lagi Nadia bisa bernapas dengan lega. Paling tidak dia bisa menunjukkan ke papah dan kakak-kakaknya kalau inilah yang dia mau. Nadia bisa menunjukkan ke mereka kalau dia tidak silau dengan harta yang melimpah. Nadia juga ingin menunjukkan kalau dia tidak ingin menikah tanpa cinta. Dan dia memiliki hak sendiri memilih calon suaminya. Dan menentukakn masa depanya.


“Aku mau membeli barang-barang yang aku bawa nanti ke rumah kamu di Bali. Kamu mau nitip apa?” tanya Anggara


“Kamu ngga usah beli di Bali. Di jakarta aja. Lagian kamu ngga perlu bawa yang macem-macem,” saran Nadia dengan lembut.


“Aku pengen punya kesan yang baik begitu ngelamar kamu.”


Nadia mengangguk-angguk mendengar ucapan Anggara. “Iya tapi ngga usah maksain ya. Lebih baik uangnya buat keperluan yang lebih penting aja," ujar Nadia bijak.


Tak lama kemudian bu Euis keluar dari kamar mandi yang letaknya di depan dapur. Suara sunyi ketika Anggara dan Nadia berbincang serius sempat terdengar di telinganya. Berdehem dua kali saat membuka pintu kamar mandinya, cukup membuat sepasang kekasih itu terdiam.


“Loh kok ngga dimakan neng kuenya,” tanya bu Euis berbasa basi


“Sudah bu heheh.”


“Ya udah, ibu ke kamar dulu ya. Mau istirahat. Ngantuk banget.”


“Iya ibu istirahat dulu aja.”


Aku dan Nadia masih terus melanjutkan pembicaraan serius kami. Mencari waktu yang tepat kapan aku datang ke rumahnya. Meskipun aku sudah menentukan akan datang di hari rabu, tapi Nadia mengingatkanku untuk punya plan B datang di hari lain. Karena ketidakpastian kapan papah bersama kedua kakak laki-lakinya ada di rumah.


Hanya tinggal memberitahu ibu dan Alvian dan mengajaknya datang bersamaku melamar Nadia. Aku berharap semua berjalan lancar. Dan sekali lagi diterima atau tidak itu urusan belakangan.

Lihat selengkapnya