TULUS

hadi wiyono
Chapter #14

RENCANA

BAB 14


Bu Indah sedang duduk di teras rumahnya menunggu kedatangan anak gadisnya. Dari sela-sela pintu pagar, ia melihat Nadia sedang berbincang dengan Anggara. Tak lama Nadia membuka pintu pagar. Dengan cepat bu Indah mengalihkan pandanganya. Berpura-pura memperhatikan tanaman-tanaman hiasnya. Yang jumlahnya lumayan banyak.


“Lagi apa mah?” tanya Nadia dengan berjalan mendekat


“Ini lagi liatin anggrek-anggrek mamah. Mmm, kayaknya mamah mau beli lagi deh anggreknya, warna lain maksud mamah.”


“Itu udah banyak mah.”


“Mamah pengen warna yang belum punya Nadia.”


“Iya mah nanti kita beli ya.”


Nadia duduk di lantai teras rumah. Ada sesuatu yang ingin dibicarakan pada mamahnya mengenai pembicaraanya dengan Anggara. Rasa deg-degan di hatinya. Tetapi mamahnya sudah bisa menebak jika putrinya ingin membicarakan sesuatu yang penting.


“Kalo kamu mau ngomong sesuatu, ngomong aja.”


“Eeeh iya mah.” Kaget. Tahu dari mana mamahnya kalau aku akan membicarakan sesuatu. Ia tampak ragu. Ingin membicarakan sekarang atau nanti begitu papahnya pulang.


“Kalau kamu mau ngomong sesuatu sebaiknya sebelum papahmu pulang Nadia, jadi kita bisa diskusi terlebih dahulu sebelum memberitahu papah,” ucap bu Indah bijak


“Iya mah,” ucap Nadia singkat.


Gadis cantik berhijab itu menarik napas dalam-dalam. Berharap mamahnya tidak shock dengan yang diceritakanya. Lalu Nadia pelan-pelan bercerita. Dengan teliti agar mamahnya menangkap ucapanya dengan jelas.


Menceritakan bagaimana perasaanya pada sosok pria berdarah campuran itu. Ia juga bercerita mengenai perasaan Anggara padanya. Dan Nadia juga mengatakan kalau Anggara akan melamarnya.


“Kapan Anggara sama ibunya mau datang ke rumah Nadia?”, tanya bu Indah dengan wajah yang dingin, karena sesungguhnya ia tahu reaksi seperti apa yang akan diberikan suami dan kedua anak laki-lakinya ketika tahu Anggara akan melamar Nadia.


“Paling cepat hari rabu mah.”


“Mamah restuin kamu Nadia. Tapi mamah saranin jangan kasih tahu papah. Anggara suruh langsung datang aja rabu malam.”


Nadia mengiyakan saran dari mamahnya. Memang itulah yang terbaik. Tanpa memberitahu papahnya. Dan kedua kakak laki-lakinya yang sangat berambisi.


“Iya mah.”


Di kamarnya pemuda berdarah campuran itu sedang menyiapkan pakaian yang akan dibawanya ke Bali dalam beberapa hari. Hari minggu siang dia sudah meninggalkan pulau indah tersebut. Hingga jam sebelas siang Luna belum mentransfer uang dp jasanya sebesar enam puluh juta.


Anggara ingin menelepon Luna tapi gengsi. Padahal ia sangat membutuhkan uang itu untuk biaya melamar Nadia. Paling tidak ia melamar dengan uang seratus juta. Ya, seratus juta. Walaupun uang sebesar itu tidak akan bisa dibandingkan dengan harta yang akan di berikan sebagai uang mahar ke Nadia. Atau jabatan yang akan diserahkan oleh Sam ke keluarga Nadia.


*


“Gimana surat perjanjiannya. Sudah ditandatangani?”


“Belum Sam. Kita sedang mempelajari point-pointnya,” jawab pak Surya


Mustafa dan Ryan saling memandang. Melihat sang papah sedang membaca isi perjanjian yang ditawarkan oleh Sam dan pak Anthony.


“Pah, udah ngga usah dibaca satu-satu,” ucap Mustafa


“Iya pah. Langsung tanda tangan aja perjanjiannya,” imbuh Ryan


Pak Surya menatap tajam kedua putranya. Disambut senyuman Sam dan pak Anthony yang juga saling memandang. Ryan geregetan dan tidak sabar dengan sikap papahnya. Diambilnya secara paksa lembaran di dalam sebuah map berwana biru muda. Tanpa membacanya Ryan langsung menandatangani perjanjian itu. begitu juga dengan Mustafa.


“Oke, sudah dua orang menandatangani perjanjian itu. Berarti sudah sah ya, karena hanya dibutuhkan dua orang saja dalam menyetujui isi perjanjian.”


“Loh kok gitu?” protes pak Surya


“Pah sudahlah. Ini kan buat kita semua,” ucap Mustafa

Lihat selengkapnya