BAB 15
Garuda yang aku tumpangi sudah berada di ketinggian 3000 kaki tepat pukul 16.20 waktu barat Indonesia. Aku memasang headsetku dan mendengarkan musik dari ipod. Kulihat kumpulan-kumpulan awan terdampar luas membentuk gelombang-gelombang yang indah. Matahari bahkan menyinarinya sangat terang karena tidak adanya awan penghalang. Lah wong aku saja di atas awan. Luas sekali cakrawala ini. Aku tidak bisa membayangkan, besarnya angkasa ini hanya sebesar butiran debu jika dibandingkan dengan jagat semesta.
Begitu indah dan besar ciptaanMu Tuhan. Aku sebagai manusia selalu kurang bersyukur atas apa yang sudah engkau berikan. Selalu saja mengeluh. Maafkan aku.
Tawaku menggelitik ketika teringat pada ibu dan Alvian saat aku mengatakan kalau akan melamar Nadia.
HAHAHAHA
Lucu sekali mimik mereka. Kompak sekali reaksinya. Adikku yang tengil itu benar-benar keturunan sejati ibuku. Sementara aku tidak mau sekalipun disebut keturunan sejati bapakku, walaupun semua sifatnya menurun, bahkan sama persis.
Lagu milik Petra Sihombing berjudul Denting mengalun deras di telingaku. Aku membayangkan sosok gadis cantik berhijab yang kini sudah menjadi kekasihku. Atau calon istriku. Dia sudah ada di genggamanku. Tapi kenapa aku merasa akan sulit mendekapnya.
Hehhhhh.
Helaan napasku memancing pria yang duduk di kursi tengah menoleh ke kanan. Ke wajahku. Matanya tak berkedip sedikitpun. Memandangi setiap senti demi senti. Aku dibuatnya risih. Setiap kali aku menolehnya, ia memalingkan pandanganya melihat awan yang berbaris rapih bak dikomandoi seorang Jenderal Bintang Empat.
Lalu aku bergumam sendirian, berharap ia mendengar celotehan lirihku. Sori bro. Aku bukan pria yang kau kira. Aku masih menyukai wanita. Lalu aku permisi numpang lewat untuk ke toilet. Melewati lorong di badan pesawat. Saat aku berjalan, tatapan seisi penumpang mata tertuju padaku.
Bah. Aku ini bukan artis. Selebriti. Atau public figure. Aku ini seorang gigo... ah, sudahlah. Biarkan mereka menikmati wajah blasteranku. Menikmati tubuhku yang tinggi melebihi kebanyakan orang Indonesia. Menikmati semua keindahan yang kumiliki. Bukankah membiarkan orang menyukainya itu juga bagian dari ibadah. Berpahala. Dan bersyukur pastinya
Lama sekali aku di dalam toilet. Membiarkan diriku duduk termenung diatas closet. Nikmat sekali. Kapan lagi aku bisa melamun di atas ketinggian di dalam toilet pesawat. Aku malas kalau harus kembali ke seatku. Malas dengan tatapan mupeng pria di sebelahku. Pintu toilet di ketuk beberapa kali. Aku menyahutnya dengan berkata pelan.
“Sebentar ya.”
Selang setengah menit aku keluar. Seorang pramugari memberitahuku kalau sepuluh menit lagi pesawat akan tiba di Bandara Ngurah Rai, Bali. Aku tercengang. Cepat sekali, pikirku. Perasaan aku baru lima belas menit di dalam toilet. Segera aku kembali ke seatku. Tapi sewaktu aku hendak berjalan ke depan, ternyata ada seat yang kosong di baris terakhir. Lalu aku duduki. Aku benar-benar tak tahan di lihat sedemikian rupa oleh pria tadi.
Berkali-kali pengumuman disampaikan untuk memberitahu agar kami segera duduk dan memakai seatbelt. Mungkin announcer melihatku masih berjalan-jalan di lorong badan pesawat. Segera kuikuti perintahnya dan duduk di tempat kosong tersebut.
Aku yakin pria di sebelahku mencari-cari di mana aku. Biarkan saja. Toh aku tidak kenal. Akhirnya garuda yang kutumpangi sudah mendarat mulus di runway bandara. Oh senangnya, aku selamat sampai di Bali. Tidak sabar aku ingin memberitahu ibu dan Alvian. Dan Nadia.
Aku berjalan cepat setelah pesawat berhenti. Melewati pria yang tadi memperhatikanku. Dia tersentak beberapa saat melihatku sudah berada di urutan paling depan untuk keluar pesawat. Kulihat di luar sudah gelap, hanya lampu-lampu di dalam bandara saja sebagai penerang. Meskipun perjalanan hanya dua jam saja, tapi perbedaan waktu di Bali dengan di Jakarta yang membuat pulau ini sudah terlihat sangat gelap. Di sini sudah jam 19.20, satu jam lebih cepat dari Jakarta.
Setelah diperbolehkan keluar, aku menuruni tangga. Berlari menuju baggage room. Entah kenapa perasaanku tidak enak.
Aku cepat menemukan koperku yang kuberi inisial JAP – James Anggara Prasetya. Ku ambil lalu aku berjalan keluar bandara mencari taksi.
*
“Pah. Papah kenapa sih maen ninggalin kita gitu aja. Kita harus bersusah-susah cari taksi pah”, Ryan protes keras begitu sampai di rumah. Bahkan dia tidak peduli ketika papahnya baru selesai solat maghrib.
Pak Surya juga tidak peduli. Laki-laki setengah baya itu berjalan menuju meja makan. Kemudian duduk. Dengan santainya dia mengambil makanan yang telah disediakan Nadia di meja makan. Memenuhi isi piringnya tanpa mempedulikan ocehan Ryan dan Mustafa. Lalu memasukan makanan ke dalam mulutnya.
“Papah keterlaluan. Ngga enak dong pah sama Sam. Udah bela-belain menjamu kita,” ucap Mustafa ngotot. Dan pak Surya masih diam. Masih memuaskan perutnya yang kelaparan karena dari pagi belum sarapan.
“Kalian berdua yang keterlaluan. Papah lagi makan maen nyerocos aja. Harusnya kalian sabar dulu. Tunggu papah selesai makan. Papah dari pagi belum makan apa-apa. Sudah kalian ke kamar saja dulu,” bela bu Indah pada suaminya.
Sepertinya pak Surya sudah menceritakan apa yang terjadi di pabrik. Nadia hanya berdiri mematung. meyaksikan keributan kecil itu. Gadis itu tidak mau tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Ia lebih memilih diam. Cape dengan drama keluarganya yang selalu di menangkan oleh kedua kakak laki-lakinya. Tapi sepertinya pak Surya tidak setuju dengan langkah Mustafa dan Ryan. Baru kali ini Nadia melihat papahnya ngambek. Nadia mengambil makanan dan beranjak ke dapur. Setelah perdebatanya dengan Mustafa dan Ryan kemarin malam, ia tidak bersedia berbasa basi dengan kakaknya.
Biarkan saja mereka berdebat dengan kepentingan masing-masing. Aku tidak ingin tahu. Aku akan memberikan kejutan pada mereka rabu malam nanti.
Makan malam kedua orang tuanya sudah diselesaikan. Gadis itu membereskan meja makanya dan meletakan yang kotor di wastafel dapur. Kedua kakaknya kembali turun dari lantai atas. Menyapanya. Tapi Nadia tidak menggubrisnya. Hanya menoleh sesaat lalu melanjutkan pekerjaanya. Baginya, kedua kakak laki-lakinya tidak lebih dari racun yang bisa merusak kapan pun mereka mau.
Ingat dengan Anggara. Dikeluarkan ponselnya dari saku celana jeansnya. Ternyata ada pesan masuk. Dari Anggara.