TULUS

hadi wiyono
Chapter #16

TUGASKU

BAB 16


Rasanya sangat menyegarkan keluar keringat di pagi hariĀ  yang indah ini di pulau Bali. Aku tidak pernah merasakan sebelumnya. Biasanya aku jarang sekali bangun pagi. Tapi kali ini setiap pagi aku selalu menyempatkan lari untuk mengeluarkan racun-racun di tubuhku melalui keringat. Menambah kebugaranku.


Aku sempatkan berlari di sekitaran hotel. Beberapa putaran. Rasanya tubuh ini kembali fit. Berhenti di depan warung kecil yang lokasinya tidak jauh dari hotel. Aku membeli sebotol air mineral. Duduk di samping warung itu, aku tenggak minuman dingin tersebut.


Sudut mata kananku menangkap orang yang sedang memperhatikan gerak gerikku. Kutengok kepalaku kekanan dengan tiba-tiba. Orang itu gelagapan karena tertangkap basah. Dia mencoba mnegalihkan pandanganku darinya dengan menjentik-jentikan pemantik korek untuk membakar sebatang rokok yang terselip di telinga kirinya. Aku sepertinya pernah melihat laki-laki itu. Tapi dimana.


Sejak aku menjalin hubungan cinta dengan Nadia, aku sering lupa akan sesuatu. Yang ada dipikiranku hanyalah Nadia, dan keluargaku. Aku kembali ke Hotel. Beristirahat sebentar di dalam kamarku. Kubuka kausku lalu aku keluar kamar dan menyemplungkan diri ke dalam kolam renang. Bolak balik mengitari kolam yang tidak terlalu besar. Segarnya.


Lelah fisik, aku kembali ke kamar. Membersihkan sisa kaporit di tubuhku. Lalu tidur sejenak. Aku terbangun ketika hari sudah mendekati jam makan siang. Suara berisik di luar kamar berhasil membuka mataku lebih lebar lagi. Kusibak sedikit gorden kamar hotel. Aku melihat beberapa anak-anak lokal sedang berenang di kolam yang kutebak airnya menghangat karena cuaca sedang terik-teriknya. Memang unik Indonesia, keadaan cuaca yang sangat panas ini justru digunakan untuk berenang. Mereka tidak takut akan gangguan pada kulitnya karena paparan sinar matahari.


Oh Negeriku. Aku sangat mencintainya. Tidak akan ditemukan di negara-negara lain. Apalagi di negara bapakku. Cuihh, lagi-lagi aku mengingatnya. Kenapa dia selalu hadir. Padahal sudah bertahun-tahun lamanya. Benar-benar memuakkan.


Dari pada terus mengingat orang yang telah membuatku sakit hati, lebih baik aku keluar mencari rumah makan terdekat. Perutku sudah berbunyi kerucukan karena aku melewatkan sarapan pagi. Tadi pagi kulihat ada rumah makan di sebelah hotel. Ada menu iga bakar. Favoritku.


Aku terlupa, sejak pagi tadi belum menyapa Nadia. Sedang apa dia sekarang.


Tut tut tut. Bunyi suara handphone Nadia menandakan sedang tidak aktif. Mungkin ia masih ada kuliah tambahan di weekend ini. Baiklah aku kirim pesan saja ke whatsapp nya. Mengingatkanya untuk solat dan makan siang. Pesanku sudah terkirim. Masih centang satu. Tunggu sampaiĀ  handphonenya aktif kembali. Kangen sekali aku padanya. Belum pernah aku merasakan sekangen ini pada seorang gadis yang kusuka.


Dia memang telah membuatku berubah. Walau masih sedikit. Tapi yang sedikit itu telah membuat jantungku terguncang hebat. Hatiku porak poranda bagaikan disentuh puting beliung. Dadaku tersesaki perasaan tak menentu. Perasaan yang sudah lama aku inginkan. Dan tangan ini sering kali mengalami tremor ketika aku hendak mengetik kalimat sakti yang sangat terkenal sejak kita mulai mengenal apa arti cinta. Kalimat sakti yang terdiri atas subyek - verb - obyek.


Pesanan iga bakarku sudah disajikan Dan aku siap memakanya. Sewaktu aku datang ke rumah makan ini, keadaan belum terlalu ramai. Jadi pesanan yang ku mau cepat selesai.


Setelah kuhabiskan makan siangku, aku melanjutkanya dengan mengunjungi toko oleh-oleh terbesar di Bali. Sesampainya di dalam, aku langsung saja memilih-milih oleh-oleh apa yang akan kubeli untuk ibu dan Alvian. Juga untuk Nadia dan kedua orang tuanya. Aku belum tahu pak Surya akan menerimaku dengan baik atau tidak. Paling tidak ada beberapa barang yang kubeli untuk papahnya karena aku sangat menghargainya.


Troliku sudah penuh dengan belanjaan, tinggal ke kasir untuk membayarnya. Ketika aku mengantri di kasir aku melihat sosok pria itu lagi. Pria yang sama di dekat warung pagi tadi. Siapa dia. Sepertinya tengah mengikutiku.


*

Lihat selengkapnya