TULUS

hadi wiyono
Chapter #17

PERKELAHIAN

BAB 17


Aku masih mengeringkan tubuhku ketika mendengar percakapan Luna dengan beberapa orang pria. Sepertinya ada dua atau tiga orang di sana. Walaupun suara mereka terdengar seperti orang yang sedang berbisik-bisik, tapi aku bisa mendengar jelas. Karena kedapnya dinding kamar ini, jadi suara dari luar tidak bisa masuk ke dalam.


Yang aku dengar dari salah seorang di luar kamar mandi bertanya pada Luna. “Mana orangnya?”. Lalu Luna pun menjawab, “sedang di bathroom”. Berarti yang di maksud mereka adalah aku. Apa yang mereka rencanakan padaku. Apa mereka ingin merencanakan sesuatu yang jahat.


Aku segera memakai pakaian. Mengenakan sepatu. Tas pinggang aku kenakan melintang di tubuhku. Aku keluarkan double stick dan ku selipkan ke dalam bagian belakang celanaku. Sebelum pintu kamar mandi aku buka, aku berdoa dalam hati.


Ya Tuhan, kalau seandainya mereka mau mencelakakan ku. Lindungi aku. Mudah-mudahan aku bisa mengatasinya. Ku tunggu beberapa saat sampai aku benar-benar siap keluar dari kamar mandi. Kudekatkan telingaku, menempel ke daun pintu. Aku ingin mendengar lagi, rencana apa selanjutnya.


Senyap. Tidak ada suara. Tidak ada percakapan lagi. Aku yakin mereka sudah siaga satu menyergapku begitu aku keluar.


Oke.


Aku sudah siap.


Ku dorong ke bawah gagang pintu yang berwarna hitam pekat itu. Kubuka pintu perlahan, hingga setengahnya terbuka. Sebelum kulangkahkan kaki kananku keluar, aku melihat Luna yang sedang berdiri di depan jendela kamar hotel. Menghadap keluar. Dan aku melihat bayangan orang dari cermin di atas empat tidur. Orang itu tepat berdiri di samping kanan pintu. Ternyata ada dua orang yang berdiri, satu lagi di sisi sebelah kiri. Rupanya mereka berdua ingin menyergapku. Dan aku kembali yakin, masih ada yang lain yang mungkin akan menghajarku habis-habisan.


Tenang.


Aku sudah sangat siap.


Kukeluarkan double stick yang tadi aku selipi di celana belakang. Dua tanganku masing-masing memegang dua gagangnya. Tas pinggang kuputar dari dada ke punggung. Dengan rambut yang masih basah, aku melangkah keluar. Kuda-kuda yang kupelajari dulu ketika aku belajar bela diri masih kuingat dengan jelas.


Benar saja, ketika dua kakiku sudah ada di luar. Orang yang di sebelah kiri menyergapku  dengan melompat ke atas. Dia berhasil naik ke punggungku. Menekan pundakku, dan mencengkeram leherku sekuat-kuatnya dengan lenganya yang berotot itu. Aku sempat melihat Luna berbalik arah melihatku sambil menyeringai licik. Aku mencoba melepaskan diri dari pria yang mulutnya berbau minuman beralkohol.


Tanpa berpikir panjang ku ayunkan double stick dengan tangan kananku ke arah kepalanya. Satu gagang double stick menghantam kepalanya dengan sangat keras. Seketika kulihat darah mengalir hingga ke kepalaku. Cengkeramnya mengendur. Kesempatan ini kugunakan untuk membanting tubuhnya dengan sangat kencang. Membentur tempat duduk panjang yang terbuat dari kayu di depan ranjang yang tadi aku gunakan untuk memuaskan birahi singa betina itu. Luna terkejut. Dia tidak percaya aku bisa berbuat seperti itu.


Bangku panjang dengan handrest nya di sisi kanan dan kiri itu terbelah menjadi dua bagian dengan beberapa bagian kakinya patah. Pria berbadan kekar itu kesakitan. Dia memegang kepalanya yang mengeluarkan darah. Sepertinya dia tidak sanggup bangun lagi, karena kulihat ia berat mengangkat kepalanya. Kupastikan ia cedera otak. Kini ia terkapar tak berdaya.


Aku melihat Luna menjerit. Dia mundur memepetkan tubuhnya ke gorden. Menabrak seorang yang bersembunyi di baliknya. Orang itu keluar. Cukup terkejut aku dibuatnya. Ternyata dia yang duduk di sebelahku di pesawat. Dia yang kuduga naksir padaku. Pria gemulai itu ikut menyeringai. Melambaikan tanganya padaku. Aku melihatnya dengan perasaan jijik. Muak. Dan yang membuatku semakin terkejut adalah pria di sisi kanan pintu. Dia beberapa kali menguntitku. Di warung dekat hotel dan di tempat pembelian oleh-oleh. Pria ini menyilangkan tangan di dadanya, seolah menantangku. Satu lagi pria yang badanya tidak kalah kekarnya dengan pria yang sudah ku jatuhkan tadi. Mereka tidak peduli dengan temanya yang sudah kubuat tidak sadar.


“Habiskan!!”, teriak Luna lantang. Singa betina itu tahu ruangan ini kedap suara. Jadi suaranya tidak akan terdengar hingga keluar kamar. Lagian, kamar ini terdapar di dalam private area. Hanya kamar-kamar tertentu saja yang masuk ke area ini. Tentunya kamar untuk kalangan kaum jet set.


Aku bersiap. Mengambil posisi kuda-kuda. Sudut mataku mengawasi kanan dan kiri. Ada dua pria yang mengepungku. Pria lainya yang juga berbadan kekar berdiri di sebelah kiri. Dan di sebelah kanan pria berperawakan kurus.


Ternyata pria kekar di sebelah kiriku yang menyerang terlebih dahulu. Dengan kepala tangan kananya, dia menyasar bagian belakang kepalaku. Aku membungkukan badan. Kemudian kuputar tubuhku menghadapnya. Kutendang lurus ke depan tubuh pria yang menyerang barusan dengan kaki kananku. Sambil terus memegang gagang double stick di masing-masing tangan, aku bergaya seperi Bruce Lee. Tendanganku mengenai dadanya. Ia terbungkuk kesakitan. Kembali kugunakan kesempataku untuk memukulnya dengan double stick di bagian belakang kepalanya. Pukulan yang keras dan kencang. Pria berbadan kekar kedua yang kubuat tersungkur bermandikan darah dari kepalanya.


Luna terkaget. Kembali melongo. Ketakutan. Begitu juga dengan pria gemulai itu. Gemetaran. Menutup mulutnya. Lalu Luna kembali berteriak.

Lihat selengkapnya