BAB 18
Pesanku baru saja dibalas Nadia. Aku telah mengiriminy sejak pagi tadi. Saat ku tanya padanya kenapa baru membalas pesanku, ia hanya menjawab sedang tidak sehat. Padahal ketika aku berangkat ia terlihat sehat. Bahkan ia meminta izin malam kemarin kalau hari sabtu ini akan masuk, ada mata kuliah tambahan katanya. Dan aku mengizinkanya.
Tapi kenapa seharian ini Nadia tidak mengabariku. Membuat ku khawatir. Akhirnya aku beralasan pulang mendadak malam ini untuk memastikan keadaanya. Nadia mencegahku, tapi aku bilang padanya aku teramat rindu.
Karena kekerasan kepalaku inilah, ia membolehkan aku pulang ke Jakarta. Firasatku mengatakan kalau Nadia sedang ada masalah. Aku menyarankannya untuk beristirahat. Tidur lebih awal. Membebaskan pikirannya dari belenggu yang mungkin telah mengganggunya.
Aku duduk di sebuah tempat ngopi kecil di Bandara Ngurah Rai. Kupesan segelas kopi hitam dan kacang kulit. Aku mengatakan pada pemiliknya kalau aku akan ada di sini sampai esok hari. Disebabkan penerbanganku pada jam tujuh pagi, aku hanya takut kesiangan dan ketinggalan pesawat. Pemiliknya mengizinkanku untuk duduk di kursi ini, menunggu jadwal penerbanganku.
Kunikmati malamku ini dengan kesendirian. Malam sejuta bintang yang terlihat kecil dan bertaburan di angkasa sana. Aku bergumam, bintang itu begitu banyak namun tidak saling bertabrakan. Mereka beredar pada garisnya masing-masing. Mereka telah ditentukan oleh sang pencipta untuk tidak saling bersinggungan di jagat raya. Begitu juga dengan milyaran penduduk bumi. Telah memiliki rezekinya masing-masing. Jodohnya masing-masing. Dan telah memiliki jatah hidupnya masing-masing. Tanpa bersinggungan satu dengan yang lainya. Hanya ada segelintir orang saja yang saling berebutan. Untuk yang satu itu, merekalah orang yang kurang bersyukur. Orang-orang yang tamak. Yang dengan teganya mengambil hak orang lain tanpa ada rasa bersalah sedikit pun. Aku sangat muak dengan orang seperti itu. Mereka tidak tahu kesulitan orang-orang yang sedang mengalami limited financial.
Malam berjalan lambat tatkala aku sedang terburu-buru meninggalkan pulau dewata ini. Malam berjalan sangat lambat tatkala aku sedang menunggu waktu cepat berlalu. Dan malam benar-benar berjalan lambat ketika sinar matahari pagi kunantikan namun tak kunjung hadir. Aku tak sabar menyongsongnya.
Kuingat kembali uang yang kudapatkan dari Luna. Tak kusangka, uang sisa pembayaran sebesar enam puluh juta malah aku bisa dapatkan sebesar tujuh ratus enam pulu juta. Luar biasa. Lalu aku berpikir, ini bukan kemauanku. Ini ulahnya yang ingin mencelakakanku. Gara-gara terobsesi padaku dan tidak aku ladeni, ia nekat menyewa orang untuk menghabisiku. Untung feelingku kuat. Aku mengikuti kata hati untuk membeli double stick di toko cenderamata sebelah hotel. Sekarang dia menanggung akibat perbuatanya.
Sementara di hotel tempat Luna menginap. Singa betina itu marah-marah menyalahkan orang-orang yang baru saja sadar dari pingsannya. Bayaran tinggi yang sudah disepakatinya tidak membuahkan hasil. Luna justru menanggung kerugian ratusan juta rupiah.
“Kalian semua ngga becus. Saya udah dibayar mahal tapi ngga berhasil. Celakain satu orang aja ngga bisa. Sekarang kalian pergi semua dari sini!”, hardiknya sambil berteriak. “Saya tidak akan membayar sisanya. Uang yang saya siapkan sudah diambil si bule sialan itu”
“Pergi kalian. Pergi...!”
*
Jam sudah membentuk sudut 45 derajat menghadap ke kiri. Aku termenung dan mengantuk. Sudah kuhabiskan dua gelas kopi hitam tapi tidak bisa menahan kantukku. Belum lagi segelas kopi gula aren dan segelas lagi es chocho hazelnut. Ditambah cemilannya. Aku sudah menghabiskan ratusan ribu hanya untuk menumpang di tempat ini saja. tidak mungkin aku duduk-duduk saja di sini tanpa memesan sesuatu.
Sebenarnya aku bukan hanya ngantuk tapi rasa letih yang menerjangku tak henti-hentinya. Tubuhku remuk redam setelah meleyani nafsu si singa betina, aku juga harus menghadapi tiga orang yang ingin melumpuhkanku. Tenagaku sungguh terkuras sampai titik nol.
Hheehh.
Masih empat jam pagi. Kuputuskan saja berjalan meninggalkan kafe kecil ini. lima jam duduk di sini membuat pantatku panas. Aku berpamitan pada pemiliknya. Mengucapkan terima kasih atas kebaikanya. Tapi sang pemilik memintaku untuk duduk bersandar di dinding.
“Lebih baik bli di sini saja. istirahat. Dari pada di luar berkeliaran, takut terjadi apa-apa bli," ucapnya mengingatkanku dengan logat Balinya yang sangat kental.
Benar juga yang dikatakan pemilik itu. Aku mencari aman saja, duduk di pojokan kafe kecil ini. Bersandar dan memenjamkan mata.
“Tenang bli, di sini aman kok," ucapnya kembali meyakinkanku.
Baiklah. Memang seharusnya aku di sini saja sampai matahari muncul menyapa pagi. Membangunkanku dari istirahat sejenak. Menepikan emosi. Membuangnya jauh-jauh dari pikiranku.
*