TULUS

hadi wiyono
Chapter #19

PERUBAHAN RENCANA

BAB 19


Aku langsung mencari Nadia begitu sampai di Rumah. Kulewati Alvian yang sedang autis bermain game di ponselnya. Aku hanya menjitaknya seperti kebiasaanku kalau aku sedang kesal padanya.

“Mas, kok udah pulang?”“Iya, udah selesai kerjaannya," jawabku sambil berlalu masuk ke dalam. Alvian mengikuti dan berhenti begitu melihat koper besar yang kubawa. Kudengar Alvian langsung membuka koperku. Mencari-cari oleh-oleh yang dia tahu sudah aku belikan.

Kucari kemana-mana Nadia tidak ada. Lalu Alvian datang mendekatiku sambil memegang sebungkus kacang Bali. “Cari siapa, Mas?” tanyanya.

“Kata kamu Nadia di sini.”

“Iya, Mas, lagi di kamar Ibu. Lagian maen slonong slonong aja ngga pake nanya-nanya dulu,” cibir adikku. Mau kujitak lagi kepalanya tapi Alvian mengelak cepat.

“Eitss, ngga segampang itu,” ucapnya sambil mengangkat tangan dan memiringkan kepalanya.

Aku ditinggalkannya naik ke atas, sementara koperku masih tergeletak di ruang tamu.Dasar tengil. Kutatap pintu kamar ibu. Aku tidak mendengar suara percakapan dari dalam. Apa benar yang di bilang Alvian, ibu dan Nadia di dalam. Kucoba mengetuk pintu kamar ibu.

“Bu, aku udah pulang. Bu ...”

Tidak ada jawaban. Aku buka saja. Tapi tunggu dulu, kalau Nadia di dalam sedang tidak berhijab pasti dia akan malu auratnya terlihat olehku. Aku ketuk lagi saja pintunya.

“Bu. Anggara udah pulang nih.”

“Nak ...” aku tengok ke kiri. Loh itu ibu sama Nadia dari luar. Dari mana. “Kamu udah pulang, Nak? Kok ngga ngomong-ngomong.”

“Eh itu, Bu, itu ... a-aku ...” Sialan Alvian, dia bilang ibu dan Nadia di dalam kamar. Tapi ini mereka baru pulang.

“Mas Anggara udah selesai kerjaannya, Bu, makanya langung pulang. Kangen katanya,” tiba-tiba saja Alvian sudah duduk di tangga sambil mulutnya mengunyah. “Grogi amat, Mas, padahal udah jadian,” ledek Alvian yang malah membuatku salting. Kupelototi adikku. Dia malah cengar cengir slengean lalu balik ke kamarnya di lantai atas. Dasar tengil. Capek banget ngadepin adik kaya gini.

Tapi kulirik Nadia tertawa melihat tingkah kami berdua. “Maaf ya , Neng, Anggara sama adiknya emang gitu. Berantem terus. Tapi rumah jadi rame neng sama ulah mereka.”

“Hehehe ngga pa-pa, Bu. Lucu sih emang,” ujarnya terkekeh sambil menatapku.

“Ibu dari mana?” tanyaku.

“Nih abis beli bahan-bahan buat jualan besok," jawab ibu.

“Emangnya ibu udah fit?” tanyaku lagi.

“Udah, Nak. Tenang aja, udah enakan seperti sebelumnya. Sekarang Ibu tinggal dulu ya,” ucap ibu sambil mengelus punggung Nadia.

Kami mempersilahkan ibu beranjak dari hadapan kami. Memberikan ruang ke kami untuk berbicara dari hati ke hati. Aku berdiri menatap Nadia. Dia pun melakukan hal yang sama. Sekitar beberapa detik kami saling menatap tanpa berbicara. Kelu rasanya lidah ini hanya ingin sekedar mengatakan "hai" pada gadis yang sangat kucintai itu. Nadia pun juga sama. Dia tidak mampu mengucap satu kata pun. Hingga Alvian turun dan kembali mengeluarkan kata-kata yang dianggap Nadia sebagai guyonan. Tapi buatku adalah ledekan.

“Kok berdiri aja sih, udah kaya pelem India," seloroh Alvian cekikikan sambil berjalan keluar rumah. Lalu aku berinisiatif mengunci pintu rumah.

“Kok di kunci?” Nadia menyatukan alisnya.

Lihat selengkapnya