BAB 20
Nadia masih berada di kamarnya sejak kepulangannya tadi sore. Ia menghindari pertemuanya dengan Mustafa dan Ryan. Jantungnya berdebar tak karuan menunggu jam delapan malam. Mondar mandir di dalam kamarnya. Tangannya gemetaran menanti waktunya tiba.
Suara bel mengejutkan dirinya. Dan seluruh anggota keluarga pak Surya. Siapa malam-malam begini datang ke rumah. Karena hampir tidak ada yang bertandang ke rumahnya, baik siang apalagi malam. Kecuali ketua RT atau pengurus mesjid. Karena keluarga pak Surya memang dikenal membatasi pergaulan dengan tetangganya. Hanya Nadia saja yang sangat ramah. Sesekali bu Indah keluar rumah ngobrol dengan tetangga. Itu pun sangat jarang dilakukan.
Suara bel kembali terdengar. Nadia penasaran, ia singkap gorden kamarnya. biasanya dari sini akan kelihatan siapa yang datang. Setelah melakukan usaha mengintip dengan berbagai posisi, tamu di luar tetap saja tidak terlihat. Gadis cantik berhijap itu memutuskan keluar dan menerima tamu tersebut. Mengandalkan kedua kakaknya untuk membuka pintu, tidak akan pernah terjadi. Mereka adalah raja di rumah ini.
Nadia keluar rumah. Ia dengan cueknya melewati Mustafa dan Ryan yang sedang berada di meja makan bermain dengan handphonenya masing-masing. Sementara kedua orang tuanya sedang menonton tv.
Digesernya pintu gerbang ke kiri. Dan terkejut dia. Firasatnya mengatakan yang sebenarnya. Anggara beserta ibu dan Alvian datang membawa berbagai seserahan. Ditemani oleh seorang teman pria. Hujan gerimis yang masih cukup deras membuat suasana sepi tanpa lalu lalang warga sekitar. Keempat orang ini susah payah membawa barang-barang seserahan sambil berpayungan.
“Sini masuk. Gerimis. Bu masuk," ajak Nadia menarik pelang tangan bu Euis.
“Maaf ya nak jadi mendadak begini. Habisnya Anggara sudah ngga sabar," ucap bu Euis.
“Ngga papa bu," jawab Nadia memaklumi. Anggara hanya tersenyum tipis menanggapi gurauan ibunya. Menghilangkan ketegangan.
“Oh iya nad. Ini temen kuliahku. Rama," ujar Anggara dengan memperkenalkan teman kuliahnya.
Nadia mengangkat tangannya tanpa menyentuh tangan Rama. “Angga, calon istrilu kaya bidadari. Bening bener," canda Rama. Nadia tertawa melepas ketegangan. “Hahaha bisa aja kak. Masuk yuk," ajak Nadia kembali. Kali ini masuk ke dalam rumahnya dimana keluarganya sedang berkumpul.
“Baca bismillah nak jangan lupa. Apapun tanggapan mereka, itu yang terbaik.” Anggara mengikuti saran ibunya. Ya. Apapun tanggapan keluarganya, ia sudah siap.
Anggara masuk bersama Nadia diikuti bu Euis, Alvian dan Rama. Pak Surya dan bu Indah langsung berdiri melihat rombongan kecil ini. Bu Euis terkejut, Nadia pernah mengatakan padanya kalau Anggara dan keluarganya akan datang pada rabu malam. Pak Surya hanya berdiri mematung. Terlintas di benaknya, apa yang dilakukan pria bule ini bersama dengan keluarganya datang malam-malam. Sementara Mustafa dan Ryan ikut terbengong menyaksikan kedatangan tamu yang tidak mereka harapkan. Kedua kakak Nadia ini berdiri melihat ke arah Anggara dan keluarganya.
“Silahkan bu Euis. Duduk di sini." ucap bu Indah menerimanya dengan tangan terbuka.
“Terima kasih bu Indah." Bu Euis menyalami bu Indah dan pak Surya. Tapi ketika hendak menyalami kedua pria yang berdiri tidak jauh itu, hanya tangan kosong tanpa balas yang didapatnya.
Anggara yang melihat kejadian itu langsung memberikan bunga anggrek bulan yang dibawanya untuk bu Indah. Mencium tangan kedua orang tua Nadia. Semua seserahan diberikan pada kedua orang tuanya.
“Wah cantik sekali bunga anggreknya. Makasih ya Anggara," ucap bu Indah seraya menciumi bunga anggrek yang diberikan Anggara. Kemudian meletakkan bunga itu di meja kecil di tengah-tengah ruangan.
Di ruangan tengah ini, duduk seluruh keluarga pak Surya. Nadia duduk di tengah-tengah di sebelah mamahnya. Sedangkan Mustafa dan Ryan duduk agak menjauh. Dan duduk berseberangan keempat orang yang datang dengan tujuan melamar Nadia.
“Ada maksud apa nih bu datang dengan membawa barang-barang seperti ini?” tanya pak Surya. Anggara baru pertama kalinya mendengar suara pak Surya. Tidak seperti yang dibayangkannya, suaranya berkesan adem dan terdengar nyaman di telinga.
“Begini pak, kami memohon maaf sebelumnya apabila kedatangan kami mengganggu istirahat pak Surya dan keluarga.” Bu Euis berusaha tenang menjelaskan kedatanganya.
“Maksud kedatangan kami kesini...” pelan-pelan bu Euis mengungkapkan maksudanya agar dapat didengar dengan baik. “Anak saya Anggara dan anak bapak sudah menjalin hubungan dekat." Mustafa langsung berdiri mendengar bu Euis bercerita. Benar apa yang diduga Ryan sebelumnya kalau Nadia sudah memiliki kekasih, dan orang itu adalah yang biasa dipanggil bule oleh warga sekitar. Kedua anak laki-laki pak Surya itu tengah berusaha menahan emosinya mendengar ucapan bu Euis.
“Jadi maksud kedatangan kami adalah ingin melamar Nadia jadi istri Anggara. Karena dari pada menimbulkan fitnah...”
“Tidak bisa!” Mustafa bereaksi. “Saya tidak terima," bentaknya pada bu Euis. “Saya juga tidak terima." Ryan ikut bersuara.
“Maksud kalian apa?” pak Surya berdiri membentak kedua anak laki-lakinya itu. “Papah yang memutuskan di sini,” ujar pak Surya tidak kalah kerasnya, lalu duduk kembali. “Kalian jangan asal main tidak setuju saja. Seperti yang Nadia bilang kemarin, yang berhak memutuskan masa depannya adalah Nadia sendiri bukan siapa-siapa," Bu Indah ikutan berbicara menambahkan perkataan suaminya.
“Silahkan bu dilanjutkan." Pak Surya meminta bu Euis untuk melanjutkan tujuan kedatanganya.
“Terima kasih pak. Maksud saya dari pada menimbulkan fitnah ada baiknya Anggara menikah dengan Nadia. Karena keduanya sudah saling menyukai.”