TULUS

hadi wiyono
Chapter #21

MENGAJAK RAMA

BAB 21


Pagi ini menjadi pagi yang menjengkelkan bagi Mustafa dan Ryan. Datang ke kantor dalam keadaan masih kecewa dengan sikap pak Surya. Menurut mereka pak Surya sudah bertindak gegabah dengan menerima lamaran Anggara. Kebencian keduanya pada sosok pemuda berdarah campuran itu semakin menjadi.


Memarkirkan mobil SUV hitam di tempat yang bertuliskan jajaran direksi, membuat mereka sedikit jumawa. Sapaan petugas security dan office boy tidak dihiraukan. Kesan congkak sudah diperlihatkanya hari ini.


Telah terparkir dua mobil yang dijanjikan oleh Sam jika keduanya mau bergabung. Dua mobil mewah berwarna silver buatan Inggris itu sudah menunggu tuannya.


Sampai di lantai kedua pabrik garmen itu , keduanya tidak langsung masuk ke ruangan masing-masing. Mereka memperhatikan dengan detil setiap sudut ruang kantor ini. Dan di tengah-tengah antara ruang Direktur Utama dan ruang meeting.


Sementara ruangan Mustafa dan Ryan di sebelah ruang meeting. Berbeda pintu namun ada pintu di dalam yang bisa menyambungkan antara kedua ruangan.


Mereka masuk ke dalam ruangan masing-masing. Mustafa hanya meletakkan barang-barang pribadinya lalu turun lagi ke bagian produksi yang tadi sempat dilewatinya. Menyaksikan dengan cermat kinerja karyawannya satu per satu. Di ruangan yang sangat luas. Yang mampu menampung lebih dari dua ratus mesin produksi, ia berkeliling memeriksa barang-barang yang selesai diproduksi.


Sedangkan Ryan tengah asik duduk di kursinya di belakang meja. Sambil bersantai menikmati pemandangan di jalanan. Tersenyum atas jabatan yang kini dipegangnya. Ia teringat Nadia dan lamaran Anggara semalam. Gimana caranya membatalkan rencana pernikahan mereka. Mungkin ia harus berdiskusi dengan kakaknya, Mustafa. Mencari jalan agar Nadia mau menikah dengan Sam.


Disusulnya Mustafa ke bagian produksi. Dicarinya begitu Ryan berada di dalam. Tidak diketemukan. Ryan keluar lagi. Naik ke lantai dua dan kembali ke ruanganya. Dari dalam ruanganya ia mendengar Mustafa sedang berbincang dengan seseorang. Ia mengenali suara itu. Sam.


Mereka sedang ngomongin apaan?. Ryan bertanya-tanya sendiri. Sulit baginya mendengar percakapan antara kakaknya dan Sam. Ia memutuskan untuk masuk ke ruangan itu, tapi tidak dari pintu penghubung antar ruangan. Ryan akan masuk tiba-tiba dari depan.


Lalu ia keluar ruangan dan berjalan pelan ke ruang kerja Mustafa. Saat ingin membuka pintu, dia tertahan oleh suara teriakan “KEMBALIKAN!!”


Ryan berhenti. Tidak jadi membuka pintu. Ia kembali ke ruangannya. Menutup pintu. Dan duduk di kursi di belakang meja kerjanya. Membuka laptopnya. Pura-pura mengecek sejumlah laporan yang ada di mejanya.


Sekarang ia tidak mendengar suara percakapan lagi di ruang kerja Mustafa. Ia meyakinkan dirinya. Mendekat ke arah pintu penghubung. Didekatkan telinganya. Menempel ke daun pintu. Benar, tidak ada suara lagi. Ia membuka pintu. Tanpa bersuara.


Dilihatnya Mustafa duduk termenung di belakang mejanya. Ia dengan geramnya sedang meremas-remas kertas. Lalu melemparnya ke arah pintu. Tapi Ryan belum tahu kertas apa yang diremas Mustafa.


“Hei," tegur Ryan setelah berdiri di depan Mustafa yang duduk menunduk. Mustafa mendongakan kepalanya ke atas. Ia diam. Resah.


“Aku denger tadi ada yang berteriak di ruangan ini," tanya Ryan. Suaranya seperti orang yang sedang berbisik tapi tidak di telinga Mustafa. “Apakah Sam?” tanyanya lagi. Mustafa menatap mata Ryan. Lalu mengedipkannya tanda ia mengatakan, ‘iya Sam yang berteriak’.


Ryan duduk di hadapanya. Di kursi depan meja kerja Mustafa. “Kenapa dia berteriak?”


Heehh. Mustafa menghembuskan napas beratnya. “Sam tahu kalau Nadia dilamar semalam," jawab Mustafa lemas. “yang bener Mus. Sam tahu dari mana?" tanya Ryan dengan mencodongkan tubuhnya mendekat ke kakaknya. “Aku ngga tahu. Ngga tanya tadi. Aku sendiri juga kaget dia tahu dari mana.”


Ryan dan Mustafa berpikir keras. Dari mana Sam tahu Nadia dilamar semalam.


“Jangan-jangan dia sewa orang untuk mata-matai kita Mus?” Ryan dan Mustafa saling menatap. ‘kalaupun dia sewa orang untuk memata-matai, ngga bakalan ketahuan juga. Kan lamaran di rumah." Jawab Mustafa berhati-hati. “Apa mungkin waktu si bule itu dateng ke rumah sama keluarganya, ada orang suruhannya yang melihat?” Selidik Ryan. “Bisa jadi. Tapi keyakinan aku, Sam menyuruh seorang ahli teknologi untuk ngehack cctv di rumah kita.”


Seketika Mustafa dan Ryan kompak memandang berkeliling. Ke setiap sudut di ruangan itu. Sepertinya mereka sedang mencari sesuatu.


Ryan menunjuk handphonenya. Dia akan mengetik sesuatu. Selesai mengetik, lalu mengirimkanya pada Mustafa.


Mus. Hati-hati bicara


Lihat selengkapnya