BAB 22
Sebelum aku pulang ke rumah, aku mampir ke rumah Nadia. Membawakan makanan yang aku beli di coffee shop di seberang kampus. Aku melihat dua mobil masih terparkir di halaman rumahnya. Apa keluarganya tidak ke kantor. Atau hanya Pak Surya saja yang di rumah, tidak ikut ke kantor.
Aku mengetuk pintu rumahnya. Mengucapkan salam. Bu Indah yang membukakan pintu menyuruhku masuk ke dalam. Kuikuti Bu Indah. Pak Surya sudah menunggu kami. Tetapi sikapnya padaku kembali seperti sebelumnya. Terlihat ketika aku menawarkan makanan, dia enggan menjawab. Padahal setelah aku melamar Nadia, aku sudah berekspektasi tinggi padanya. Menganggapnya menerima keberadaanku seratus persen.
Ya tidak mengapa. Yang penting aku sudah diterima kemarin. Walaupun aku belum yakin Pak Surya menerimaku dari hati yang tulus. Aku justru merasa Pak Surya menerimaku karena perselisihanya dengan kedua anak laki-lakinya. Sebenarnya itu tidak penting buatku. Yang terpenting aku bebas menemui Nadia kapan saja.
Pak Surya bangkit dari duduknya. Dia masuk ke dalam kamarnya. Tidak menghiraukan aku. Apalagi menghiraukan makanan yang kubawa.
“Jangan kamu masukan ke hati ya, Anggara. Papahnya Nadia memang seperti itu kalau lagi ada yang dipikirin.” Bu Indah menenangkanku. Dia tahu apa yang kurasa.
“Lagi ada masalah ya, Bu?” aku mencoba bertanya, mengutarakan kepedulianku.
“Kakaknya Nadia, bikin pusing, Anggara.”
Setelah aku mendengar alasannya, aku tidak melanjutkan dengan pertanyaan lagi. Aku menanyakan hal yang lain saja, karena bukan ranahku bertanya mengenai masalah di keluarga ini. Perbincanganku dengan Bu Indah terhenti ketika ada panggilan telepon. “Bu saya izin angkat telepon dulu.”
“Iya, Anggara, silahkan.”
Aku berdiri menerima panggilan telepon, tidak jauh dari posisi bu Indah duduk. Panggilan kedua dari client yang sama hari ini. Tak lama aku tutup teleponnya. Dan aku kembali menemani bu Indah.
“Bu, Nadia ngga kelihatan. Apa belum pulang?”
“Nadia tadi sudah pulang. Tapi balik lagi ke kampus,” jawab Bu Indah sambil mengeluarkan makanan yang aku bawa. “Kamu mau makan bareng kan?”
“Saya udah makan, Bu. Itu buat Ibu sama Bapak aja.”
“Makasih ya, Anggara.”
Aku pun berpamitan pulang karena akan memberikan makanan ini untuk ibu dan Alvian. Nanti saja aku menghubungi Nadia. Sekarang aku akan menghubungi Rama. Kuminta ia datang ke rumahku.
“Anggara sudah pulang, Mah?” tanya Pak Surya pada istrinya begitu iya keluar kamar.
“Sudah, Pah. Papah kenapa sih, dibawain makanan sama Anggara malah pasang muka kesel."
Hahh. Pak Surya melapas napasnya. Menghempaskan tubuhnya di sofa empuk di ruang tengah. “Sebenarnya Papah ngga sreg Nadia berhubungan sama Anggara."
“Lah, Papah gimana sih. Kemarin lagi lamaran Papah setuju.
“Kemarin Papah bilang setuju, untuk meredam Mustafa dan Ryan. Biar mereka tahu diri, tidak memaksakan kehendak pada adik perempuannya.”
Bu Indah ikutan melepas napasnya. Dan duduk di sebelah Pak Surya. “Trus gimana, Pah, masa mau dibatalin. Kan ngga enak. Lagi Anggara itu baik banget, Pah. Dia pekerja keras. Dari kecil udah ditinggal bapaknya balik ke negaranya. Kasian kalo sampai dibatalin. Nanti anak itu bisa sakit hati sama anak kita,” ucapnya pelan.
“Papah mau Nadia kena karmanya menyakiti laki-laki?” tambah Bu Indah pada suaminya.
Pak Surya menoleh ke wajah bu Indah. Menatapnya lembut. Ia lalu membuka kotak makanan dan mengambilnya satu. Kemudian dimakannya. Bu Indah tersenyum melihatnya. Sambil menggigit ia melirik wajah istrinya. Tak habis pikir kenapa bu Indah bisa menyukai Anggara. Menerimanya. Bahkan merestuinya. Apa yang dilihat istriku pada Anggara. Batin Pak Surya sambil terus memakan makanan yang dibelikan pemuda bule itu.
“Enak makanannya, Pah?” tanya Bu Indah menahan senyumnya setelah melihat Pak Surya memakannya dengan lahap. “Biasa aja rasanya. Papah cuma laper," jawab pak Surya sambil berjalan ke halaman belakang.