TULUS

hadi wiyono
Chapter #23

PERDEBATAN BATIN

BAB 23


Kuketuk pintu kamar client menggunakan ruas jari dari tangan yang kukepal dengan ketukan pelan. Rama sempat mengintip dari lubang di pintu. Lalu ia membisikkan sesuatu di telingaku. “Udah ngga pake apa-apa.” Kusikut cepat perutnya. Dan kuletakkan jari telunjuk di bibirku. Memberi kode padanya untuk diam. Rama menutup mulutnya dengan tangan kiri untuk menahan tawanya. Dia terus menggodaku. Bahkan dia memperhatikan bagian depan celanaku. Sambil berseloroh ia terus menunjuk-nunjuk ke area tersebut.

Memang sial si Rama. Harusnya dia yang nervous. Ini malah sebaliknya. Aku yang mengalami gejala seperti itu.

Pintu kamar di buka. Tersembul wajah cantik clientku. Hanya kepalanya saja. lalu dengan tangan kirinya ia menyuruh kami masuk. Dan benar saja yang dibisikkan Rama padaku, begitu kami masuk ke dalam wanita itu sudah tidak menggunakan apa-apa. Rama memandanginya tanpa berkedip. Dia seperti ingin menelan bulat-bulat wanita itu.

Clientku tertawa penuh arti. Tanpa basa basi ia menarik Rama ke atas ranjang. Dan kusaksikan mereka langsung bergumul panas. Aku mengambil waktu dengan membersihkan wajahku di wastafel dalam toilet. Kubiarkan saja Rama dan wanita itu melakukannya terlebih dahulu. Aku memberikan waktu pada mereka. Melepaskan hasrat yang dipendam seharian ini.

Setelah kubersihkan wajahku, tiba-tiba Rama sudah berdiri di belakangku tanpa menggunakan pakaian sehelai pun. Aku kaget melihatnya. Ia berusaha menutupi bagian vitalnya di depan ku. Kemudian kepalanya digelengkan ke kiri, memberi kode kepadaku untuk bergabung. Dengan bahasa isaratnya, Rama juga memintaku untuk melepaskan seluruh pakaianku.

Aku menurutinya. Tapi kenapa jantungku yang berdebar tidak karuan seperti ini.

Kulepas pakaianku di depan Rama. Temanku itu memperhatikannya. Memperhatikan aku membuka seluruh pakaianku. Begitu aku membuka pakaian dalam. Rama menertawakanku. Sambil mengacungkan tangan seperti biasanya. Aku hanya bisa tersenyum kecut. Lalu kami berdua berjalan menuju ranjang dimana client tersebut sudah menunggu.

Aku dan Rama menaiki ranjang. Dan adegan selanjutnya, kami berdua melakukan tugas menyenangkan wanita tersebut. Mengirim jiwanya terbang ke langit ketujuh. Merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya. Begitu juga dengan Rama.

Hingga beberapa jam. Pertarungan dua lawan satu terus berlanjut. Tidak peduli keadaan di dalam kamar. Pecah. Porak poranda. Berantakan seperti terkena angin puting beliung.

*

Kukeringkan tubuhku setelah aku selesai mengguyurnya dengan air. Dan setelah membersihkannya dengan sabun yang juga bisa dipakai untuk membasuh rambutku. Aku memakai seluruh pakaian. Menyisir rambutku. Dan memakai wewangian yang dibelikan Nadia. Pergumulan dua lawan satu tadi telah membuatku kehilangan banyak tenaga. Kemudian aku bergabung dengan Rama dan wanita itu.

Aku ikut berbasa basi menyelami obrolan mereka. Sesekali aku menanggapinya. Tak kusangka, Rama cepat connect dengan wanita itu. Terdengar dari obrolan keduanya. Nyambung dengan topik apapun.

“Mmm Ram, katanya mau ke toko buku,” ujarku memotong percakapan mereka.

“Toko buku?” tanya Rama heran.

“Iya toko buku”, aku meyakinkan Rama.

Sebenarnya kami tidak ada rencana untuk mampir ke toko buku. Ini hanya alasanku saja untuk menyudahi pertemuan kami di kamar hotel ini. Tapi sialnya Rama tidak mengerti kode dariku. Ia masih terus memancing wanita itu terus mengobrol. Mengeluarkan percakapan-percakapan ajaib yang aku tidak mengerti mengenai apa. Rama memang jauh berbeda denganku. Dia sangat ekstrovert. Dia bisa akrab dengan orang baru hanya dalam hitungan menit saja. Sedangkan aku, disitulah kelemahanku. Sulit sekali untuk cepat membaur dengan orang baru.

Tapi akhirnya obrolan mereka terhenti setelah wanita itu membalikkan badannya. Ia membuka tasnya. Mengeluarkan dua amplop tebal dan memberikannya pada kami. Rama tersenyum puas. Sekilas temanku itu mengedipkan matanya padaku. Sudut bibirku memanjang. Membentuk lengkungan di sebelah kanan.

Aku dan Rama pamit dari kamar pelanggan. Kami mengucapkan terima kasih. Wanita itu mengatakan akan memakai jasa kami lagi kalau ia memiliki urusan bisnis di Jakarta.

Di lorong hotel menuju lift, Rama sempat mengintip isi amplop yang kami terima. Aku menyikutnya, sama seperti aku mneyikut dia di depan pintu kamar hotel. Rama menurunkan kedua tangannya. Amplop itu dimasukkan ke dalam jaketnya.

Di luar area hotel, kami mencari tempat nongkrong untuk sekedar melepas lelah sambil meminum kopi kesukaan kami. Aku tidak menemukan kafe di sekitar hotel ini, hanya pujasera saja yang menjual makanan-makanan pinggir jalan tetapi dengan tempat yang lebih tertata.

“Ngga papa Angga, kita nongkrong di sini aja. Pengen makan mie ayam gue tuh,” ujar Rama sambil mengucapkan makanan kesukaannya.

“Oke lah kita di sini aja. Karna lu udah ngga sabar mau buka tuh amplop kan.”

“Hehehe tau aja lu,” ucapnya seraya duduk di depan pedagang mie ayam. “Lu mau ngga?” tanyanya padaku.

“Boleh.” Jawabku dengan meminta dobel pangsit rebus dan baksonya.

Sebelum membuka amplop, kami menoleh kanan kiri memastikan suasananya aman terkendali. Tidak ada orang jahat di sekitar kami.

Setelah kami rasa cukup aman, kami buka amplopnya dan kami tarik setumpuk uang dari dalam. Kami mendapati satu ikat uang dengan lembaran seratus ribuan. Wajah sumringah Rama terpampang seketika. Belum pernah ia memegang uang sebanyak itu. Hanya beberapa ratus ribu saja dari gaji yang ia dapatkan sebagai pekerja freelance.

“Angga.. cariin lagi buat gue, pelanggan kaya tadi. Gile...” ujarnya takjub.

“Beres,” jawabku. Dan aku merasa Rama mulai ketagihan dengan kemudahan uang yang didapat. “Yang penting lu main aman aja. Tadi lu sempet nolak kan waktu gue suruh pake penutup”

“Iya, gue ngga sabar soalnya hahaha.”

“Dasar lu. Tahan dikit. Bikin pelanggan kita penasaran,” ucapku dengan nada rendah

“Oh itu triknya. Siip lah.”

Kami pun memakan mie ayam yang sudah disajikan di meja kami. Rasa lapar yang mendera membuat kami dengan cepat menghabiskannya. Tenaga yang terkuras habis bisa tergantikan dengan karbohidrat yang kami makan barusan. Perut terasa lega. Aku dan Rama menyandarkan tubuh ke sandaran bangku di pujasera yang masih sepi ini.

Rama sedang memikirkan orderan job berikutnya. Sementara aku memikirkan sampai kapan harus mencari uang dengan cara seperti ini.

Lihat selengkapnya