BAB 24
Dua orang pria. Kakak beradik. Sedang duduk santai di bangku teras depan rumah yang dikelilingi bunga-bunga cantik nan indah dipandang mata. Bunga-bunga kesayangan bu Indah. Salah satunya bunga anggrek bulan yang dibelikan Anggara saat melamar Nadia.
Ryan menatap nanar bunga anggrek bulan itu. Ia sangat membencinya. Sama kebenciannya pada pemuda tampan berdarah blasteran yang sudah melamar adiknya. Kedua kakak beradik itu tengah memikirkan sesuatu. Memikirkan bagaimana caranya melepaskan pengaruh Anggara pada Nadia. Memikirkan bagaimana caranya memisahkan kedua hati yang sedang berproses dalam penyatuan itu.
Mustafa duduk sambil menghisap cerutu kuba yang dibelikan Sam untuknya. Sebagai buah tangan ketika lelaki kaya itu berkunjung ke negara yang mentasbihkannya sebagai polisi dunia. Negara adidaya, Amerika.
Sam melakukan perjalanan bisnis ke negeri Paman Sam itu untuk mengembangkan bisnis garmennya. Bisnis yang sekarang dikelola oleh Mustafa dan Ryan.
Asap terus mengepul dari cerutu yang dihisap Mustafa. Ryan yang tidak merokok sedikit terganggu dengan hembusan napas kakaknya yang asapnya mengarah ke dirinya. Matanya perih terkena belaian asap jahat tersebut. Ia berpindah ke kursi sebelah kiri. Sedikit menjauh dari Mustafa.
Suara getar handphone milik Mustafa merambat pelan di meja kayu jati yang tertutupi kaca tipis. Getaran yang bergesekan dengan kaca meja tipis itu menimbulkan suara sedikit memekik. Melolong-lolong meminta segera diangkat panggilan dari orang yang menelepon ke nomor handphone tersebut.
“Sam,” ujar Mustafa setelah mengambil hanphonenya dan sambil melihat Ryan.
“Angkat cepetan,” desak sang adik.
Mustafa menerima panggilan tersebut dan berhati-hati dalam berbicara. Sam berbicara panjang lebar mengenai bisnis garmen yang sekarang dikelola oleh Mustafa dan Ryan. Suara Sam cukup keras terdengar di seberang. Padahal Mustafa tidak mengencangkan suara handphonenya.
Tak lama suara di seberang handphone menyudahi percakapannya.
Mustafa mematikan cerutunya, menumbuknya di dalam asbak di bagian yang ujungnya terbakar. Masih tersisa setengah cerutu yang tadi dihisapnya itu.
“Kenapa?” tanya Ryan penasaran pada Mustafa. Beberapa detik sejak Sam memutuskan pembicaraannya, Mustafa sempat termenung. Inilah yang memancing Ryan bertanya.
“Sam mau melamar Nadia,” ucapnya tertahan. Ryan melongo. “Minggu depan,” lanjut Mustafa.
“Apa!!” Ryan terkejut dengan jawaban Mustafa. “Kenapa mendadak sekali, ha!”
“Mendadak? kamu ingat kan dia pernah bilang akan melamar Nadia minggu kemarin. Hanya saja dia banyak pekerjaan jadi ditunda. Dan aku pikir Sam sudah melupakannya.”
“Mana mungkin dia lupa. Jabatan kita adalah timbal balik dari keinginannya menikah dengan Nadia,”,m tukas Ryan menegaskan kata-katanya pada Mustafa.
“Jadi gimana?” tanya Mustafa pada adiknya.
Ryan mengangkat bahunya. Tidak tahu harus menjawab apa. Di benaknya belum terpikir sama sekali apa yang harus ia lakukan menjawab rencana lamaran Sam. Ia juga belum tahu rencana apa yang akan dilakukannya untuk bisa menggagalkan rencana Nadia dan Anggara.
Anak kedua dari pasangan pak Surya dan bu Indah ini memang dikenal memiliki otak yang encer dibandingkan Mustafa. Ide-idenya kerap muncul di saat-saat terakhir. Tapi kali ini Ryan membutuhkan waktu untuk berpikir. Mencari ide untuk dilakukan di waktu yang tepat nanti.
*