TULUS

hadi wiyono
Chapter #25

TANTRUM

BAB 25


“Hai, Anggara. Apa kabar?” sapa Luna

Nadia celingak celinguk, matanya bolak balik menatap Anggara dan Luna. Tapi dia tidak mengindahkan Sam sama sekali. Anggara masih diam. Matanya menatap tajam Luna yang tersenyum puas bertemu dengannya di restauran ini, sedang bersama kekasihnya.

“Hei, kok diam aja,” tegurnya lagi sambil mencoba menyentuh tangan Anggara. Pemuda tampan itu menghindarinya. Kali ini Anggara yang dilanda ketegangan. Tangannya gemetar namun berusaha disembunyikan. Nadia masih kebingungan siapa wanita ini. Ia mencoba terus mengingatnya. Sementara Sam masih bertanya-tanya, kenal di mana Luna pada pemuda blasteran yang menjadi saingannya mendapatkan Nadia.

“Hai, Mbak, inget aku ngga?”

“Mbak siapa ya? Kita pernah ketemu?” Nadia bertanya balik pada Luna sebelum ia menjawab pertanyaan wanita licik itu.

Wajah Anggara semakin menegang. Napasnya tertahan beberapa detik tanpa disadarinya. Sam diam-diam memperhatikan gelagat yang ditunjukan Anggara. Ada rasa curiga akan sikapnya.

“Kita pernah bertemu di rumah Anggara,” jawab Luna.

“Oh, mba ini atasannya Anggara di EO, kan?”

“Iya betul, Mbak. Kenalkan aku Luna,” ucapnya sambil menyodorkan tangannya ke Nadia.

“Aku Nadia. Salam kenal ya, Mbak,” timpal Nadia menyambut uluran tangan Luna.

Kamu memang gadis yang baik Nadia. Kamu tidak pernah menaruh curiga pada siapapun. Bahkan pada orang jahat sekalipun. Gumam Anggara.

“Mari duduk sini, Mbak, kita makan bareng.” Ajak Nadia pada Luna.

“Oh boleh ...” jawab Luna sambil menarik salah satu kursi dan berniat untuk duduk.

“Mm, Luna akan menemani saya makan." Sam secepatnya menarik tangan Luna, mencegahnya duduk. Lalu ia menarik ke mejanya yang berada di ruang VIP.

Anggara dan Nadia bersitatap. Mereka kembali duduk menempati kursi empuk di restauran dengan suasana nyaman ini. Duduk dalam diam. Tidak saling berkata, hanya memainkan makanan yang masih tersisa setengah di piring oval. 

Aku menunduk. Nadia juga menunduk. Larut dalam pikiran masing-masing.

“Jadi itu yang namanya Sam?” tanyaku memecah kesunyian.

“Bener, Sayang. Dia yang mau dijodohkan sama aku," jawab Nadia dengan memalingkan matanya ke tempat lain. Gadis itu tidak berani menatap mataku.

“Dia punya segalanya," ucapku lirih. Lalu aku mengaduk-aduk makanan di atas piring. Aku tidak berselera lagi untuk menghabiskannya.

“Tapi dia tidak punya sikap yang baik. Tidak punya rasa welas asih. Tidak ramah. Bukan pekerja keras dari nol. Tidak tahu rasanya hidup dari bawah. Dan yang tidak dia punya, semua ada di diri kamu," balas Nadia dengan bijaknya.

Aku terkesan dengan ucapannya. Tapi tetap saja minder yang kurasakan saat ini.

“Dia juga sombong. Bangga dengan kekayaan turunan keluarganya,” lanjut Nadia dengan mimik wajah kesalnya. Seakan bisa menebak apa yang sedang aku pikirkan, makanya dia berbicara seperti itu.

“Aku ngga ngeh kalau wanita itu atasan kamu. Kenal dimana dia ya sama Sam?” tanya Nadia.

“Ee, mungkin teman bisnis”, jawabku sekenanya

“Teman bisnis?”

“Ya, Sayang, atasanku itu punya beberapa usaha.”

“Jadi selain sebagai supervisor, Luna juga pengusaha?”

Aku tidak menjawab. Hanya anggukan kepala sekali saja. “Hebat ya wanita seperti Luna, dia mau kerja di EO padahal punya beberapa bidang usaha.”

Kutanggapi kalimat terakhir Nadia dengan perasaan bersalah. Aku sudah membohonginnya. Kalau seandainya Nadia tahu siapa Luna, entah apa reaksinya. Tiba-tiba rasa takut kehilangan menyeruak. Perasaanku padanya sudah tertanam jauh di lapisan hati terdalam.

“Kamu mau pesan lagi ngga, Sayang?” tanyaku pada Nadia. Aku merasakan virus bisu menghampiri kami lagi. Seperti ketika kami baru saling mengenal. Nadia menggeleng dan menjawab kalau ia ingin pergi dari restauran ini, karena sudah tidak nyaman. Kulihat Sam terus menatap Nadia. Tanpa berkedip. Padahal ada Luna yang sedang bersamanya.

Perasaan Nadia sejurus denganku. Rasa tak nyaman menghantamku. Membuatku salah tingkah dengan tatapan menggoda Luna. Wanita itu tidak jera dengan gertakanku ketika dia ingin mencelakakanku di Bali. Ada baiknya aku dan Nadia pergi dari restauran ini. Menghindari dua orang toksik yang suka mencari masalah.

Aku panggil pelayan restauran untuk meminta tagihan kami. Lalu aku berikan sejumlah uang sesuai dengan jumlah harga dan sedikit tip untuk pelayan tersebut. Setelahnya aku langsung mengajak Nadia untuk beranjak dari restauran ini. Aku tahu, dengan sikapku sedikit protektif pada Nadia, ia menyangka aku cemburu pada Sam. Padahal bukan cemburu, melainkan menghindari wanita ular bernama Luna.

*

Kepergian Anggara dan Nadia meninggalkan restauran menimbulkan tanda tanya bagi Sam dan Luna. Sam sangat geram melihat pemandangan di depannya, di mana Nadia dengan sengaja memegang lengan Anggara. Menyandarkan tubuhnya. Menggelayut. Dan berjalan mesra saat keluar restauran. Tangannya mengepal kuat. Rahangnya mengatup keras. Gigi-giginya bergemerutuk. Menandakan tengah menahan emosinya. Gelagat yang tak luput dari perhatian Luna.

“Kamu kenapa, Sam?. Seperti dendam sama Anggara,” tanya luna menyelidik.

“Kamu kenal sama dia di mana?” Sam tidak menjawab. Dengan mimiknya yang serius, dia justru melontarkan pertanyaan pada Luna yang tidak menyangka akan ditanya seperti itu.

“Kamu lucu. Ditanya malah nanya balik," gerutu Luna.

Sam diam. Membisu. Menahan amarah. Makanan yang sudah tersaji tidak menggugah seleranya. “Aku suka pada gadis itu." Terucap juga jawaban dari mulutnya yang tetap terkatup saat berkata.

“Kamu suka sama Nadia?” tanya Luna menegaskan ucapan Sam.

“Iya. Aku dan kedua orang tuaku sudah datang ke rumahnya. Aku bilang kita akan melamar. Tapi ternyata ketemu dengan Nadia di sini sedang jalan dengan laki-laki lain,” jawabnya penuh dengan penyesalan.

“Kenapa tidak langsung kamu lamar saja pada saat datang ke rumah orang tuanya. Kamu kan datang bersama orang tua kamu.”

Lihat selengkapnya