BAB 26
Pagi buta sebelum matahari menampakan dirinya, Mustafa dan Ryan telah mendapat pesan singkat dari Sam. Pesan untuk datang lebih cepat.
“Meeting mendadak mah,” ucap Mustafa pada ibunya ketika ia dan Ryan pamit berangkat ke kantor. Masing-masing mengendarai mobil Range Rover yang menjadi mobil dinas mereka. Mobil yang dijanjikan ketika mereka menyanggupi bergabung lalu menandatangani perjanjian tertulis kala itu.
Ryan sempat bertanya pada Mustafa sebelum mereka turun dari lantai atas. Ada nada kekhawatiran dari pertanyaannya. Khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi. Karena ini pertama kalinya Sam mengajaknya meeting mendadak. Mustafa menenangkannya. Mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Dua mobil mewah kelas alpha keluar dari rumah yang tidak pernah dikunjungi tetangga. Begitu tertutupnya keluarga ini. Dan dua mobil berharga miliaran itu berjalan mulus beriringan menembus dinginnya pagi. Menembus keheningan yang sesaat lagi berubah menjadi kebisingan.
Tiga puluh menit kemudian dua mobil berpenumpang tunggal itu tiba di pelataran pabrik garmen. Mustafa dan Ryan segera turun dari dalam mobil setelah memarkirkan kendaraannya di tempat yang dikhususkan untuk mereka.
Mengenakan jas yang membalut kemeja berdasi, keduanya menuju lantai dua dan langsung masuk ke ruang CEO. Ruang kerja Sam. Tidak lebih dari dua puluh orang karyawan yang sedang bekerja di shift tiga. Sebagian sedang beristirahat. Tampak tiga orang sekuriti yang memakai seragam hitam putih sedang berjaga. Mendiami posnya masing-masing.
Sudah menunggu seorang laki-laki kaya duduk di meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati berukir. Ia tengah duduk di kursi di belakang memja tersebut. Sebuah kursi berlapis kulit terbaik. Menghadap ke sebuah laptop dan beberapa lembar dokumen yang berserakan di atas meja kerjanya. Terselip sebuah dokumen perjanjian antara dirinya dengan Mustafa dan Ryan.
“Permisi Sam,” sapa Mustafa setelah mengetuk dan mendapatkan izin membuka pintu. Sam mempersilahkan masuk, disusul Ryan yang berjalan di belakang Mustafa. “Duduk”. Ucapnya singkat dan tegas.
Mustafa dan Ryan duduk di kursi depan meja kerja Sam. Dalam situasi seperti ini, kakak beradik itu tidak lagi memandangnya sebagai orang dekat yang telah memberinya jabatan. Tetapi tengah menghadap sesorang yang peniting, sang pemilik perusahaan.
Sebelumnya Mustafa kenal Sam sebagai teman di sebuah kampus ternama di Jakarta. Tapi Sam hanya menjalankan perkuliahan satu semester saja, karena ia lebih memilih belajar di luar negeri dari pada melanjutkan perkuliahan di Jakarta.
“Ada apa Sam?, ada persoalan apa sampai meeting mendadak pagi-pagi gini?” Ryan mengeluarkan pertanyaan sebelum Sam melanjutkan pembicaraan di meeting mendadak pagi ini.
“Ehheem. Baik.” Sam menjernihkan suaranya yang serak akibat bangun teramat pagi. Dia sudah tidak sabar ingin mengungkapkan semuanya. Mengungkapkan yang dia tahu.
“Begini, saya berhasil mendapatkan dana investasi dan kerjasama selama di Amerika. Mengenai kerjasama dengan mereka untuk mengembangkan bisnis ini. Bagaimana caranya garmen kita bisa diterima dengan baik di sana. Menembus pasar Amerika. Kita harus bisa memanfaatkan kesempatan ini. Mereka investasi sangat besar.”
“Jadi saya minta sama Mustafa dan Ryan untuk memberikan saya proposal dan sistem kerjasama kita dengan pihak Amerika seperti apa. Saya minta tiga hari tenggat waktu untuk melaporkan ke saya”
“Oke Sam. Kita langsung kerjakan sekarang setelah meeting ini”, sahut Ryan.
“Baik, saya tunggu hasilnya”
“Ada lagi Sam?”, tanya Mustafa. “Ya, bagaimana kemajuan produksi kita Mus?”
“Secara kuantitas produksi kita naik 21 persen dibandingkan bulan lalu. Kita ingin presentasi kenaikan produksinya bisa terus meningkat grafiknya. Paling tidak stabil dan tidak turun. Maka dari itu saya mau menambah jumlah karyawan di bagian produksi dan finishing,” terang Mustafa.
“Bagus,” jawab Sam. “Untuk perekrutan karyawan baru, silahkan anada koordinasi dengan divisi HR. Supaya dilakukan pembukaan lowongan pekerjaan secepatnya”
“Oke Sam ”
Sam memeriksa lembar demi lembar berbagai laporan yang berserakan di atas meja. Laporan-laporan dari Mustafa dan Ryan dinilainya sanga baik. Tidak sia-sia menempatkan mereka di posisi jajaran direksi.
Kemudian Sam mengeluarkan handphonenya dari dalam saku jas yang terletak di bagian dalam, di sebelah kiri. Lalu dia meletakkannya di atas meja. Diambilnya kembali. Dua kakak beradik itu memandang aneh yang dilakukan Sam.
Dan benar saja. Mustafa dan Ryan kembali melihat Sam meletakkan handphonenya di atas meja kerja. Apa maksudnya Sam. Gumam Mustafa.
“Kalian sudah siap mendengarkan sesuatu?”
“Mendengarkan sesuatu?, sesuatu apa Sam?” tanya Mustafa.
“Iya Sam. Sesuatu apa?” giliran Ryan yang tidak sabar menanti.
“Oke. Dengarkan ini baik-baik” ujar Sam