TULUS

hadi wiyono
Chapter #27

PERTENGKARAN DI SEBUAH KAFE KECIL

BAB 27


Hanya kurang dari sepuluh menit aku sudah keluar dari kamar mandi. Aku bergegas mengenakan pakaianku untuk solat berjamaah di mesjid. Menyusul Alvian yang sudah jalan terlebih dahulu. Sebelum masuk ke dalam aku sempatkan berkirim pesan ke Nadia


Sayang

Sehabis zuhur aku tunggu di depan mesjid ya

Luv you


Nadia membalas pesanku dengan meminta maaf, dia baru bisa mengabariku siang ini. Karena dari semalam dia menahan sakit di perutnya. Sakitnya datang bulan. Anggara memaklumi. Dia melanjutkan dengan mengikuti solat berjamaah. Sedikit berlari karena solat sudah berlalu dua rakaat. Mengambil posisi berdiri di saf terakhir dekat pintu masuk. Dengan khusu’nya kuikuti gerakan imam sampai rakaat terakhir. Dan aku berdiri lagi setelah imam mengucap salam kedua untuk melanjutkan dua rakaat yang tertinggal tadi.

Selesai melaksanakan kewajibanku sebagai seorang hamba Tuhan, aku menghampiri Alvian. Memberikan selembar uang untuk dibelikan makan siang untuknya dann ibu. Tumben Alvian tidak menggodaku. Aku kangen dengan olok-olokannya. Karena akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan Nadia.

Setelah Alvian pergi membeli makanan dan sesuai janjiku pada Nadia, kutunggu kekasihku di depan mesjid. Tidak lama menanti, Nadia keluar dari rumahnya. Gadisku itu sudah keluar dari rumahnya dan bersiap berangkat kuliah siang ini. Aku membimbingnya berjalan menuju terminal busway yang tidak jauh dari depan gang besar. Sebelumanya aku telah menawarkan untuk naik taksi, tetapi Nadia menolak. Entah mengapa hari ini Nadia ingin sekali naik busway, sudah lama ia tidak merasakan transportasi umum ini.

“Gimana perut kamu sayang, sudah enakan?” tanya Anggara saat menunggu armada busway datang.

“Masih terasa sedikit sakit sayang. Tapi aku sudah minum obat tadi," jawabnya dengan suara yang manja.

Ia menyandarkan tubuhnya pada tubuh kekarku. Nadia sudah tidak mempedulikan tatapan orang-orang di dalam terminal kecil itu. Ia bahkan melupakan profesinya sebagai guru ngaji. Tanpa disadarinya, Sam memperhatikannya dari dalam mobil yang berhenti di dengan mulut gang besar. Niatnya datang ke rumah Nadia untuk membongkar dunianya Anggara. Dunianya yang penuh dengan rahasia kelam pemuda berdarah Amerika itu. Ia membatalkan keinginannya berbicara pada kedua orang tua Nadia.

Sam menarik tuas mobilnya. Menggerakkan persneling ke angka satu dari posisi netral. Lalu mengangkat kaki kanannya dari pedal rem. Mobil melaju pelan, beberapa detik kemudian ia menginjak pedal gas. Mobil sport dengan ikon kuda jingkraknya itu melesat cepat menembus jalanan yang tidak terlalu ramai. Sam dengan leluasa meliuk-liukan mobilnya diantara beberapa kendaraan. Klakson mobil lain dan kendaraan roda dua bersahut-sahutan memprotes Sam yang seenaknya mengendarai mobil di jalanan umum. Ia tidak menggubrisnya. Bahkan teriakan orang-orang dipinggir jalan diacuhkannya. Senyum menyeringai tersungging dari mulutnya. Ia malah melajukan mobilnya lebih cepat lagi. Ke kecepatan diatas 70 km per jam.

*

Udara di siang ini teramat panas. Tshirt yang kupakai banjir oleh keringat begitu keluar dari terminal busway lalu berjalan hingga ke depan kampus. Nadia pun tak luput dari sinar matahari yang menyengat kulitnya. Aku terus memayungi Nadia dengan telapak tangan kiriku tepat di atas keningnya. Bulir-bulir keringatnya jatuh membasahi wajahnya yang semakin hari semakin keluar aura kecantikannya.

Aku hanya mengantarnya sampai depan kampus Nadia. Hari ini tidak ada mata kuliah yang harus kujalani. Aku yakin Rama juga tidak mata kuliah tambahan. Kutelepon sahabatku itu. Aku ingin mengajaknya hangout sampai nanti Nadia menyelesaikan kuliahnya hari ini.

Berkali-kali kutelepon, tapi Rama tidak mengangkat panggilan dariku. Ku tunggu sesaat. Dan setelah beberapa saat kutelepon kembali.

Rama menerima panggilan teleponku.

Dia berbicara dengan sedikit mendesah. Sedang apa dia. Apa dia sedang bersama seorang wanita. Ketika pikiranku masih berkutat sedang bersama siapa temanku itu. Aku mendengar suara seorang wanita yang sedang merintih. Bukan merintih karena kesakitan, tetapi sedang merintih menikmati indahnya surga dunia meskipun terlarang.

Ah, sialan kau Rama. Kenapa tidak memberitahu ku terlebih dahulu kalau sedang bersama pelanggan. Aku jadi mendengarnya sendiri dia sedang bercinta. Edan memang sahabatku itu. Dia malah sengaja memberitahuku sedang menservice pelanggannya dengan mengangkat telepon. Ah, benar-benar gila si Rama itu.

Ya sudahlah, lebih baik aku cari tempat untuk bersantai. Aku ke kafe kecil tempat Nadia biasa menungguku kalau aku jemput. Kumasuki kafe ini yang kebetulan tidak ada pengunjung sama sekali di siang ini. setelah memesan di depan kasir aku duduk membelakangi dinding kaca di area open space.

Banyak tanaman hias di luar sini. Mengingatkanku atas bu Indah, mamahnya Nadia. Ingin kubeli satu pot tanaman di sana untuk menyenangkan hatinya. Karena hanya bu Indah yang kuanggap menerimaku dengan tangan terbuka dan tanpa sarat apapun.

Tuhan bisakah aku bersatu dengan Nadia kalau keadaannya seperti ini. Batinku berbisik.

Pelayan kafe yang terlihat masih berusia sangat muda itu menghampiriku. Membawa sebuah baki berisi pesananku. Satu roti berisikkan sosis besar dan segelas ice orange punch.

Kuseruput minumanku. Segar sekali. Cocok dengan cuaca terik di siang yang cukup lengang. Sepertinya orang-orang tidak mau keluar, menghindari sengatan lidah matahari yang sangat kejam menusuk hingga ke bawah kulit. Aku tidak peduli pada gelombang panas yang sedang menerjang kota Jakarta. yang terpenting kunikmati saja hari ini, duduk di kafe ini. Menunggu gadis tercantik yang pernah aku temui, gadis idaman bagi kami kaum pria.

Aku telah memakan separuh roti isi sosis yang telah kuoleskan saus sambal ekstra pedas di atasnya. Nikmat sekali. Hanya butuh sedikit kesenangan saja untuk bisa merasakan kebahagiaan hidup sesaat.

Kuhentikan sejenak makan siangku. Aku membuka handphone kalau seandainya ada yang menghubungiku. Siapa tahu ada order mendadak yang masuk. Lumayan pikirku, bisa menambah uang di tabunganku.

Lihat selengkapnya