BAB 28
Seorang gadis cantik berkulit putih bersih mengenakan hijab yang sudah kupinang berdiri di tengah-tengah kami yang sedang terduduk. Nadia. Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Rama.
“Sam? maksud kamu Sam siapa Ram?" tanyanya penasaran. Rama gelagapan. Bola matanya berputar dan melihat kesana kemari. Tidak terfokus pada satu titik. Akupun begitu. Tapi dengan wajah pucatnya, dia berimprovisasi menjawab pertanyaan Nadia.
“Eh itu Nad, Sam...sul teman kita di kampus."
“Oh, aku pikir Sam itu..”
“Sam siapa Nad?” tanya Rama lagi.
“Mmm, udah lupain aja," ujar Nadia sambil mengambil kursi di meja sebelah yang masih kosong dan menggesernya ke meja dimana kami duduk. Meja tempat aku dan Rama duduk hanya berkursikan dua saja. Aku dan Rama saling melempar kode. Mata kami yang berbicara.
“Ee, kamu mau minum apa sayang?”
“Ini minuman siapa?” tanya Nadia sambil menunjuk segelas orange punch yang menyisakan setengah saja isinya.
“Ini minuman aku sayang. Kamu mau ini?”
“Iya boleh sayang."
Dari balik dinding kaca tempat kami duduk, aku melambaikan tangan ke pelayan yang berdiri di depan meja kasir. “Kamu mau pesan apa lagi?, mau makan ngga?”, tanyaku pada Nadia setelah pelayan tersebut mendekat.
“Ngga sayang, minum aja.”
Rama masih diam membeku ketika kutanya mau pesan apa. Tegang pada situasi yang menyelimuti meja kami. Aku berusaha bertingkah sewajarnya, mencoba mengalihkan perhatian Nadia. Kutanya lagi sahabatku mau pesan apa, dia baru menjawab ketika Nadia menjetikkan jarinya di depan wajah Rama.
“Err, itu. aku pesan itu, samain aja sama lu Angga," jawab Rama masih gelagapan. “Tambah spagetinya deh mas," ucap Rama pada pelayan yang langsung mencatat pesanannya di secarik kertas kecil.
“Ih kamu kenapa sih Rama, bengong kaya gitu." seloroh Nadia. Aku menunduk menahan senyum canggung. Bibirku terasa kaku sejak kedatangan Sam tadi.
“Bagaimana kuliah kamu. Cepat sekali selesainya sayang?” aku menginterupsi Nadia yang sedang berbicara pada Rama.
“Mata kuliah yang kedua dosennya ngga dateng sayang. Jadi ya aku pulang aja, daripada nunggu di dalam kampus. Pas aku keluar, aku lihat kamu lagi di sini sama Rama. Ya sudah aku jalan ke sini.”
“Iya aku telepon Rama tadi. Minta temenin dia di sini sambil nunggu kamu selesai kuliah," jawabku dengan menahan intonasi suara supaya terdengar alami, tidak dibuat-buat.
Selanjutnya kami berbincang ngalor ngidul mencari topik untuk mencairkan suasana. Aku melanjutkan memakan makanan yang tadi sempat kusingkirkan. Sesekali kusodorkan sesendok garpu yang sudah ketancapkan potongan roti kecil ke mulut Nadia. Pikiranku menerawang jauh. Aku merasa bersalah kala memandang wajah lugunya.
Pesanan Nadia dan Rama datang. Mereka langsung menyeruput segelas orange punch seperti yang kulakukan tadi ketika pesananku datang. Cuaca yang masih panas terik menyebabkan tenggorokan kam cepat mengering. Saat pelayan itu datang, aku memesan tiga botol air mineral.
⁸“Kalian tinggal berapa sks lagi semester ini?” Nadia membuka percakapan setelah meminum hampir tiga perempat orange punch, lalu membuka tutup botol air mineral yang kembali diantarkan oleh pelayan. Ia meminum air mineral sampai setengahnya. Kerongkongan kekasihku benar-benar sedang dilanda kemarau. Kering kerontang membuatnya sangat kehausan.
“Aku ngga banyak sayang. Tinggal melengkapi aja.”
“Sama. Gue tinggal beberapa sks Nad."
Nadia mengangguk-angguk. “Buruan diselesain. Sudah berapa tahun kan kalian tertunda. Seangkatan kalian sudah pada kerja.”
Kata-kata Nadia menampar kami berdua. Menyadarkan kami untuk segera menyelesaikan kuliah. Rama cengengesan mendengarnya. Sikap slengeannya itu menular padaku saat ini. Akupun ikut cengengesan-cengengesan tidak jelas.
“Ih, gimana sih kalian berdua. Dikasih tahu malah cenngengesan aja," ucap Nadia dengan mimik lucunya. Bikin aku makin geregetan. “Kayanya udah deh sayang. Pulang yuk. Aku mau ngerjain tugas dari dosen tadi”
“Kamu mau pesan lagi ngga, buat ibu”
Nadia menolak tawaranku. Ia mengatakan di rumahnya masih banyak makanan yang dibawa kakaknya. Lalu akuu menawarkan tanaman aglonema berwarna merah cerah. Untuk tawaran yang satu ini, Nadia tidak menolaknya.
Aku kembali memanggil pelayan kafe hendak membayar, tapi Rama melarangku. Dia mengatakan kalau dia saja yang membayar semuanya. Dan dia juga mengatakan kalau tanaman yang akan dibeli Anggara akan dia bayar sebagai hadiah untuk bu Indah.
“Mas Rama lagi banyak uang ya. Baik banget hari ini mau traktir, pake ngasih mamah tanaman hias lagi,”,l ujar Nadia menggoda Rama.
Rama dan aku saling berpandangan. Sedikit senyum tersungging di sudut bibir kami. Lalu Nadia dan aku meninggalkan Rama yang masih sibuk menghabiskan makannya. Aku mengajaknya pulang menggunakan taksi online dan tidak menggunakan transportasi umum kembali, karena aku kasian padanya. Kepanasan dan menghirup debu jalanan. Belum lagi asap kendaraan bermotor yang dapat mengganggu kesehatan.
*
“Sialan tuh bule. Kenceng banget tonjokannya.” Sam masih mengusap-usap hidungnya yang sakit. Darah kental yang tadi mengalir sudah berhenti keluar. “Sial.. sial.. sial!!”, ucapnya berkali-kali di dalam sambil memukul-mukul kemudi. Mobil masih melaju kencang, sesekali Sam tidak melihat kedepan dalam mengendarai mobil kuda jingkraknya itu. Ia sudah sangat mahir membawanya, sejak duduk di bangku Elementary School.